Jurnaljatengdiynews.com. Kudus, 3 Juni 2026 – Semangat pengabdian kepada bangsa ternyata tidak berhenti saat seseorang memasuki masa purnatugas. Hal itu tampak dalam rapat koordinasi yang dihadiri para tokoh purna bakti, pensiunan aparatur negara, TNI-Polri, akademisi, serta pegiat pertanian di Kabupaten Kudus, Rabu (3/6/2026).
Mengusung semboyan “Usia Tua, Karya Tetap Berkibar”, para peserta rapat membahas persiapan kegiatan Tadabur Alam Hari Tani Nasional 2026, sekaligus merumuskan berbagai program strategis di bidang pertanian, lingkungan hidup, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat.
Rapat dihadiri oleh sejumlah tokoh senior yang masih aktif berkarya, di antaranya Ir. Hari Triyoko, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus; Dr. Carto Nuryanto; Dr. Sukresna; Ir. H. Aris, mantan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah; Drs. Triko, Ketua FKPPI Kabupaten Kudus; Joni, SH, Ketua PWRI; Wahyu Widodo, Koordinator MBG Kudus; Muhamad Safei, Ketua PPAD; Ir. Bambang, konsultan teknik sipil; serta Rochmad Taufiq, Koordinator BG Farm.
Dalam suasana penuh keakraban dan semangat kebersamaan, para peserta sepakat bahwa Hari Tani Nasional tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi harus menjadi momentum membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, dan pendidikan generasi muda.
Kegiatan yang direncanakan berlangsung pada 24 September 2026 di Aula Logung, Kabupaten Kudus, akan mengusung tema:
“Belajar Sepanjang Hayat, Memuliakan Petani, Menjaga Lingkungan, dan Menyiapkan Generasi Menghadapi Krisis Pangan dan Energi 2030.”
Selain membahas konsep besar Tadabur Alam Hari Tani Nasional, rapat juga menyoroti pengembangan Integrated Farming sebagai model pertanian terpadu yang menggabungkan sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, konservasi lingkungan, dan pengelolaan energi secara berkelanjutan.
Peserta rapat menilai bahwa model pertanian terpadu menjadi salah satu solusi menghadapi tantangan krisis pangan dan energi di masa depan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara lebih mandiri.
Tidak kalah menarik, rapat juga membahas program “Nabung Ayam”, sebuah gerakan sosial dan ekonomi berbasis peternakan rakyat yang mendorong masyarakat menabung aset produktif berupa ayam kampung. Program ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta penguatan ketahanan pangan rumah tangga.
Menurut para peserta, pengalaman panjang yang dimiliki para purna bakti harus terus diwariskan kepada generasi muda. Masa pensiun bukanlah akhir pengabdian, melainkan fase baru untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan inspirasi kepada masyarakat.
“Kita boleh pensiun dari jabatan, tetapi tidak pernah pensiun dari pengabdian kepada bangsa dan masyarakat,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam forum tersebut.
Melalui kegiatan Tadabur Alam Hari Tani Nasional 2026, para tokoh purna bakti berharap lahir gerakan bersama untuk memuliakan petani, menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, serta menyiapkan generasi masa depan yang tangguh menghadapi berbagai tantangan global.
Dari Kudus, semangat itu kembali digaungkan:
“Petani Dimuliakan, Lingkungan Dilestarikan, Generasi Masa Depan Diselamatkan.” ((Rochmad, Taufiq- untuk Kudus)












