Jurnaljatengdiynews.com. Kudus, 19 Juli 2026 – Semangat menjaga ukhuwah Islamiyah kembali terlihat dalam pertemuan silaturahim Jamaah Haji SOC 1 Rombongan 8 Tahun 2022 yang berlangsung di kediaman H. Carto Nuryanto. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 36 jamaah, dengan Ketua Rombongan dr. Arief, serta tokoh yang hadir di antaranya H. Fanani dan H. Arifin dari Kementerian Agama Kabupaten Kudus.
Acara diawali dengan sambutan dari tuan rumah Doktor H. Carto Nuryanto (pembina pondok literasi alam PPR BG farm Wergu wetan Kudus ) dan Ketua Rombongan dr. Arief. Tausiyah disampaikan oleh H. Fanani, sedangkan doa dipimpin oleh H. Sulkhan. Suasana penuh keakraban mencerminkan eratnya persaudaraan yang telah terjalin sejak menunaikan ibadah haji bersama.
Dalam pertemuan tersebut, para jamaah diajak untuk bertadabur bahwa kemabruran haji tidak berhenti saat kembali dari Tanah Suci. Nilai-nilai haji harus terus hidup melalui silaturahim, musyawarah, saling menguatkan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ibadah haji mengajarkan arti persatuan. Jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul di Makkah dengan tujuan yang sama, yaitu mengabdi kepada Allah SWT. Semangat itulah yang ingin terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Melalui silaturahim yang berkelanjutan, lahirlah ruang untuk berbagi pengalaman, menyatukan pemikiran, dan merancang berbagai program yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Dalam kesempatan tersebut juga mengemuka gagasan bahwa jamaah haji dapat menjadi kekuatan sosial yang produktif. Bila setiap jamaah menyumbangkan ilmu, pengalaman, jaringan, tenaga, dan kepeduliannya, maka akan lahir kekuatan berjamaah yang mampu melahirkan program-program di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, pertanian, lingkungan, maupun pemberdayaan masyarakat.
Semangat tersebut diibaratkan seperti membangun Musala di Kebun Pisang dan Pondok Literasi Alam. Bangunan itu tidak berdiri karena kekuatan satu orang, melainkan karena gotong royong banyak pihak. Ada yang menyumbangkan tenaga, ada yang berwakaf, ada yang membawa bahan bangunan, ada yang menyumbangkan ilmu, dan ada yang menguatkan dengan doa. Ketika seluruh potensi dipadukan, lahirlah sebuah amal jariyah yang manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang.
Silaturahim menjadi wadah untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menumbuhkan ide-ide besar. Dari kebersamaan lahir kepercayaan, dari kepercayaan lahir kolaborasi, dan dari kolaborasi lahir karya nyata yang memberi manfaat luas bagi umat.
Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa haji mabrur bukan hanya dikenang melalui gelar, tetapi dibuktikan melalui kepedulian, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan terus menjaga silaturahim, jamaah haji diharapkan mampu menjadi pelopor lahirnya gerakan-gerakan kebaikan yang membawa keberkahan bagi umat, bangsa, dan lingkungan.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Semoga semangat kebersamaan para jamaah haji terus tumbuh menjadi kekuatan yang menghadirkan rahmat dan kemaslahatan bagi banyak orang.(Rochmad Taufiq)












