Jurnaljatengdiynews.com. Kudus, Selasa, 14 Juli 2026 – Suasana penuh syukur, kebersamaan, dan kekhidmatan menyelimuti Pondok Literasi Alam PPR BG Farm, Wergu Wetan, Kudus, saat digelar Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Mushola Baitul Jannah. Kegiatan ini menjadi langkah awal menghadirkan rumah Allah yang diharapkan menjadi pusat ibadah, pendidikan, diskusi, ngaji tani, tadabur alam, serta pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian organik terintegrasi.
Pembangunan mushola ini lahir dari semangat kolaborasi orang-orang beriman yang memiliki kepedulian terhadap dakwah, pendidikan, dan pertanian berkelanjutan. Berbagai kalangan hadir, mulai dari akademisi, petani, praktisi hukum, pegiat koperasi, pedagang, hingga aktivis sosial. Perbedaan profesi melebur dalam satu niat, yaitu mengharap ridha Allah SWT dan menghadirkan manfaat bagi umat dalam bingkai ajaran illahi kaanahum bunyanun marsus.
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Dr. H. Carto Nuryanto dari FKBN dan PP Polri selaku Ketua Panitia Pembangunan Mushola, Dr. Sukresna dari LBH sekaligus pakar hukum, Ustadz Fuad Riyadi, Lc. dosen UIN Kudus, Mas Wawan Ketua Koperasi Organik Muria Raya, Ir. Arif konsultan teknik bangunan dari Kagama, Ustadz Siswadi dari KUB Masjid An Nur, Mas Waluyo dari Bakti Pertiwi, Mas Darno dari YMKI, Siswanto Koordinator BG Farm, H. Maskur dari kalangan pedagang, serta para tokoh masyarakat dan pegiat sosial lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Dr. H. Carto Nuryanto, menyampaikan bahwa Mushola Baitul Jannah tidak hanya dibangun sebagai tempat mendirikan salat, tetapi juga sebagai pusat lahirnya ilmu, karakter, dan peradaban. Dari mushola sederhana ini diharapkan tumbuh semangat belajar, berdiskusi, mengaji tani, bertadabur alam, dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.
Beliau juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa membangun masjid karena mengharap ridha Allah, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah).
Pesan berikutnya yang disampaikan adalah pentingnya mengambil peran dalam setiap kebaikan. Ketua Panitia mengisahkan cerita hikmah tentang burung kecil yang berusaha membawa setetes air untuk membantu Nabi Ibrahim AS ketika dibakar oleh Raja Namrud. Walaupun air yang dibawanya tidak mampu memadamkan api, burung tersebut ingin menunjukkan keberpihakannya kepada kebenaran.
Sebaliknya, terdapat riwayat sahih yang menyebutkan bahwa cicak meniup api sehingga kobarannya semakin besar. Dari dua kisah tersebut, tersimpan pelajaran bahwa setiap manusia memiliki pilihan, menjadi bagian yang membantu kebaikan atau justru memperbesar keburukan.
“Jangan pernah meremehkan amal sekecil apa pun. Allah tidak hanya melihat hasilnya, tetapi juga niat, usaha, dan keberpihakan kita kepada jalan kebaikan,” pesan doktor carto .
Ketua Panitia juga mengajak seluruh hadirin untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan Mushola Baitul Jannah. Sedekah tidak harus menunggu kaya. Setiap orang dapat berkontribusi sesuai kemampuannya, baik berupa semen, pasir, batu, kayu, usuk, tenaga, pikiran, maupun doa.
“Untuk berbuat baik, jangan menunggu kaya. Justru kebaikan perlu dilatih dan dibiasakan. Siapa pun bisa bersedekah sesuai kemampuannya, dan sekecil apa pun kontribusinya akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, para tamu juga menikmati Pasar Kangkung Organik hasil panen petani binaan Koperasi Organik Muria Raya. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa pembangunan rumah Allah dapat berjalan berdampingan dengan penguatan ekonomi umat melalui pertanian organik yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Momentum ini menjadi bukti bahwa ketika ilmu bertemu amal, pertanian bertemu dakwah, dan persaudaraan dipersatukan oleh keikhlasan, maka akan lahir karya-karya yang tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan dunia, tetapi juga menjadi investasi akhirat.
Semoga Mushola Baitul Jannah menjadi pusat syiar Islam, tempat bertumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, mencintai alam, serta menjadi inspirasi lahirnya gerakan pertanian organik terintegrasi yang membawa keberkahan bagi masyarakat.
“Dari Pondok Literasi Alam PPR BG farm kita menanam benih kebaikan. Dari Mushola Baitul Jannah kita berharap memanen keberkahan untuk dunia dan akhirat.” (Rochmad Taufiq-untuk Kudus)












