Jurnaljatengdiynews.com. Kudus – Rabu 15/07/26. Menjelang senja, suasana di Gubug Kios PPR BG Farm Kudus selalu terasa hangat dan penuh makna. Secangkir kopi sederhana menjadi teman berbincang, sementara hamparan kebun pisang dan hijaunya alam menjadi ruang belajar yang menghadirkan ketenangan. Kegiatan ini telah menjadi rutinitas para pegiat PPR BG Farm melalui agenda Diskusi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam.
Pada pertemuan kali ini hadir Dr. H. Carto Nuryanto, dosen Fakultas Hukum Syariah UIN Sunan Kudus sekaligus Pembina PPR BG Farm. Dalam suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan, beliau menyampaikan materi bertema “Manifestasi Silaturahim Middle Up, Hijrah Kekinian.”
Beliau menjelaskan bahwa hijrah pada era sekarang bukan sekadar perubahan penampilan atau simbol-simbol keagamaan, melainkan perubahan pola pikir, cara berjuang, dan cara menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Hijrah sejati adalah kembali kepada fitrah sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 30–32, yaitu menjadikan Islam sebagai agama fitrah yang membimbing manusia menuju kehidupan yang penuh kebaikan, persatuan, dan kebermanfaatan.
Diskusi berkembang pada makna manusia sebagai khalifah di muka bumi. Seorang muslim tidak cukup hanya menjadi penonton terhadap persoalan umat, tetapi harus hadir sebagai problem solver. Kemiskinan dijawab dengan pemberdayaan ekonomi, pengangguran dijawab dengan pelatihan keterampilan, lahan tidur dihidupkan melalui pertanian produktif, dan generasi muda dibimbing melalui pendidikan, dakwah, serta keteladanan.
Inilah yang dimaknai sebagai Silaturahim Middle Up, yaitu silaturahim yang tidak berhenti pada pertemuan dan saling menyapa, tetapi melahirkan kolaborasi nyata untuk membangun ekonomi umat, menguatkan pendidikan, memperluas dakwah, dan menciptakan gerakan sosial yang bermanfaat.
Dalam suasana teduh di tengah kebun, peserta juga melakukan tadabur alam. Mereka meyakini bahwa menanam bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, tetapi juga ibadah. Merawat alam adalah amanah, menghasilkan pangan sehat adalah bentuk syukur, dan memberdayakan masyarakat merupakan bagian dari dakwah bil hal yang nyata.
Melalui rutinitas sederhana di Gubug Kios PPR BG Farm Kudus ini, semangat hijrah terus ditumbuhkan. Dari budaya mengeluh menuju budaya mencari solusi, dari berpikir untuk diri sendiri menuju keberkahan bersama, serta dari sekadar menjadi penonton menjadi pelaku perubahan.
Semoga majelis ilmu yang lahir dari secangkir kopi, hamparan kebun, dan semangat silaturahim ini terus melahirkan insan-insan yang istiqamah dalam iman, produktif dalam berkarya, serta menjadi rahmat bagi masyarakat, bangsa, dan agama. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (Rochmad Taufiq)












