Oleh: Banon Prahatin Prakosa (Mahasiswa Pasca Sarjana UGJ Cirebon)
Akselerasi Menuju Kedaulatan Pangan
Jurnaljatengdiynrws.com. Cirebon. Kedaulatan pangan menjadi salah satu agenda strategis nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah mendorong peningkatan produksi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor, khususnya pada komoditas utama seperti beras dan jagung.
Namun, klaim “swasembada pangan nasional pada Januari 2026” perlu disikapi secara proporsional. Swasembada pada dasarnya bersifat komoditas-spesifik dan fluktuatif, bukan kondisi absolut yang berlaku serentak dan permanen. Karena itu, narasi yang lebih tepat adalah adanya tren peningkatan signifikan menuju swasembada, bukan capaian final yang sepenuhnya stabil.
Upaya pemerintah bertumpu pada beberapa langkah strategis, seperti intensifikasi dan ekstensifikasi lahan melalui program food estate, modernisasi pertanian berbasis teknologi, peningkatan dukungan fiskal, serta penguatan kelembagaan seperti peran Bulog dalam menjaga stabilitas harga. Langkah-langkah ini menjadi fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045, meski implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan struktural.
Pertanian Presisi: Efisiensi sebagai Kunci
Di tengah keterbatasan lahan subur dan tekanan perubahan iklim, pertanian presisi (precision farming) hadir sebagai pendekatan yang relevan. Model ini mengedepankan penggunaan data dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, ketepatan, dan keberlanjutan dalam pengelolaan lahan.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa pertanian presisi mampu meningkatkan produktivitas panen sekitar 10–30%, menghemat penggunaan pupuk hingga 30%, serta menekan konsumsi air hingga 25–35%. Ini menegaskan bahwa masa depan pertanian tidak semata bergantung pada perluasan lahan, melainkan pada optimalisasi sumber daya yang ada.
Teknologi yang mendukung pendekatan ini meliputi penggunaan drone dan citra satelit untuk pemetaan lahan, Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi tanah secara real-time, Sistem Informasi Geografis (GIS), hingga platform digital seperti Presisi X. Integrasi teknologi ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih akurat dan responsif.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski menjanjikan, penerapan pertanian presisi di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Kesenjangan literasi teknologi di kalangan petani, tingginya biaya investasi awal, keterbatasan infrastruktur digital di pedesaan, serta fragmentasi kepemilikan lahan menjadi hambatan utama.
Jika tidak diatasi, pendekatan ini berisiko hanya dinikmati oleh kelompok tertentu dan belum mampu menjadi solusi yang inklusif secara nasional.
Belajar dari Praktik Nyata
Sejumlah daerah telah menunjukkan keberhasilan penerapan pertanian presisi. Di Dompu, NTB, efisiensi air meningkat hingga 30% dengan kenaikan produktivitas 15–20%. Di Sukamandi, Jawa Barat, produktivitas mencapai lebih dari 8,5 ton per hektare dengan pengurangan penggunaan bahan kimia hingga 30%. Sementara di Sragen, Jawa Tengah, penggunaan pupuk dapat ditekan lebih dari 50% melalui sistem berbasis IoT.
Temuan ini menunjukkan bahwa pertanian presisi bukan sekadar konsep, melainkan telah terbukti secara empiris, meski masih dalam skala terbatas.
Catatan Kritis terhadap Kebijakan
Penting untuk disadari bahwa pertanian presisi bukan solusi tunggal. Pendekatan ini perlu dikombinasikan dengan reforma agraria, penguatan akses pasar, serta pembenahan kelembagaan petani.
Selain itu, klaim peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap PDB hingga 10% perlu diverifikasi dengan data resmi agar tidak menimbulkan overclaim. Pada akhirnya, kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga oleh stabilitas harga dan efisiensi rantai distribusi.
Penutup
Pertanian presisi merupakan inovasi penting dalam mendorong transformasi sektor pertanian Indonesia. Teknologi ini menawarkan peningkatan produktivitas, efisiensi, sekaligus keberlanjutan.
Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, pemerataan akses teknologi, dan keberpihakan kebijakan terhadap petani kecil. Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis data, pertanian presisi berpotensi menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan sistem pangan nasional yang mandiri, adil, dan berkelanjutan. .












