Oleh: Ustad Nuryoso
Jurnaljateng.diynews.com. Perkembangan teknologi hari ini bergerak jauh melampaui apa yang dahulu dianggap sebagai khayalan. Salah satu yang mulai mengguncang peradaban manusia adalah hadirnya teknologi daging hasil budidaya laboratorium atau yang populer disebut teknologi “printer 3D daging”. Teknologi ini memungkinkan manusia menghasilkan daging tanpa harus membesarkan dan menyembelih hewan ternak secara konvensional. Cukup mengambil sedikit sel dari hewan tertentu, lalu mengembangbiakkannya di dalam media khusus, maka terciptalah daging yang tekstur, rasa, bahkan kandungan biologisnya semakin mendekati identik dengan daging asli.
Hari ini mungkin terdengar asing, namun sesungguhnya teknologi tersebut sudah berada di ambang pasar global. Persoalannya bukan lagi “mungkin atau tidak”, melainkan “kapan masyarakat siap menerimanya”. Ketika harga produksi mampu ditekan lebih murah daripada daging ternak biasa, maka perubahan pola konsumsi manusia hampir pasti tidak dapat dihindari.
Di sinilah perdebatan besar dimulai.
Bukan sekadar soal pangan, tetapi juga soal budaya, etika, lingkungan, bahkan agama.
Selama ribuan tahun manusia memperoleh daging melalui pemeliharaan dan penyembelihan hewan. Tradisi itu bukan hanya membentuk pola makan, tetapi juga membentuk peradaban. Namun teknologi modern mulai menawarkan jalan baru: manusia dapat memperoleh daging tanpa peternakan luas, tanpa rumput, tanpa limbah kotoran ternak, bahkan tanpa penyembelihan massal.
Secara ilmiah, teknologi ini menjanjikan banyak hal. Ia dapat menjadi jawaban atas keterbatasan lahan pertanian, krisis pangan dunia, hingga ancaman perubahan iklim. Sebab salah satu penyumbang gas rumah kaca adalah gas metana yang dihasilkan hewan ternak ruminansia seperti sapi dan kambing. Semakin besar populasi ternak dunia untuk memenuhi kebutuhan manusia, semakin besar pula tekanan terhadap bumi.
Pertanyaannya kemudian menjadi sangat menarik:
Bagaimana Islam memandang perubahan besar ini?
Dalam urusan konsumsi, diskusi halal-haram mungkin masih dapat dicari jalan keluarnya melalui kajian fiqih kontemporer. Jika sumber awal sel berasal dari hewan halal dan prosesnya suci, sebagian kalangan mungkin akan membuka ruang ijtihad. Namun persoalan menjadi jauh lebih kompleks ketika teknologi ini bersinggungan dengan ibadah kurban.
Ibadah kurban bukan sekadar distribusi daging. Di dalamnya terdapat syariat tentang hewan tertentu, penyembelihan, pengorbanan, dan simbol ketundukan kepada Allah SWT. Karena itu banyak umat Islam memahami bahwa ibadah kurban bersifat tauqifi — sudah ditentukan syarat dan rukunnya — sehingga tidak dapat digantikan oleh inovasi teknologi apa pun.
Namun di sisi lain, muncul pula pandangan kritis yang mencoba membaca persoalan dari sudut maqashidusyariah, yaitu tujuan besar syariat Islam untuk menjaga kehidupan manusia dan alam semesta. Bila suatu saat bumi benar-benar menghadapi ancaman ekologis serius akibat eksploitasi berlebihan, termasuk dari industri peternakan masif, maka sebagian pemikir mungkin akan bertanya: apakah pemaknaan terhadap praktik kurban perlu ditinjau ulang tanpa menghilangkan ruh ketakwaannya?
Perdebatan ini tentu tidak sederhana. Sebab Islam bukan sekadar agama rasionalitas, tetapi juga agama penghambaan. Tidak semua ibadah diukur hanya dari manfaat materialnya. Ada dimensi spiritual yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh logika teknologi.
Al-Qur’an sendiri menegaskan:
> “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menunjukkan bahwa inti kurban adalah ketakwaan. Namun pada saat yang sama, syariat juga tetap memerintahkan adanya hewan dan penyembelihan sebagai bentuk simbol pengorbanan dan ketaatan.
Karena itu, wacana “mengganti pisau jagal dengan barcode” sesungguhnya bukan sekadar soal teknologi pangan. Ia adalah pintu diskusi besar tentang hubungan manusia dengan agama, lingkungan, dan masa depan peradaban.
Bisa jadi teknologi akan terus berubah.
Namun pertanyaan mendasarnya akan tetap sama:
Apakah manusia masih menempatkan ketakwaan sebagai pusat dari setiap kemajuan yang diciptakannya? (K: Rochmad Taufiq)












