Jurnaljatengdiynews.com. YOGYAKARTA – Persoalan lingkungan hidup di Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kampanye kesadaran dan kegiatan seremonial. Diperlukan perubahan perilaku, pembenahan sistem pengelolaan lingkungan, serta aksi nyata untuk memulihkan alam. Pesan inilah yang mengemuka dalam Dialog Nasional Tobat Ekologis bertema “Merawat Bumi, Memulihkan Lingkungan, Membangun Masa Depan Berkelanjutan”, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–15.00 WIB ini diselenggarakan secara luring (offline) dan daring (online), berpusat di Kompleks Asrama Haji Yogyakarta, Jalan Padjajaran (Ring Road Utara), Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman.
Dialog nasional tersebut melibatkan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, bersama Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI).
Hadir sebagai tokoh utama, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat. Dialog juga menghadirkan narasumber Ir. Ary Sudijanto, M.S.E., Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon (PPI-TKNEK), serta Drs. Nugroho Setijo Negoro, M.Si., Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Dirjen PDP).
Mengapa Tobat Ekologis Dibutuhkan?
Indonesia dianugerahi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Hutan, laut, mangrove, gambut, sungai, tanah pertanian, serta sumber mata air merupakan kekayaan yang menopang kehidupan sekaligus menjadi modal penting pembangunan bangsa.
Namun, kekayaan tersebut menghadapi berbagai tantangan. Persoalan lahan kritis, sampah, kerusakan ekosistem mangrove dan gambut, pencemaran daerah aliran sungai (DAS), hingga kawasan pascatambang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan dengan imbauan. Harus ada perubahan nyata dalam cara manusia memperlakukan alam.
*Tobat Ekologis Bukan Sekadar Kampanye*
Tobat ekologis mengandung makna refleksi dan kesadaran untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam.
Setidaknya terdapat tiga langkah penting dalam gerakan ini.
Pertama, mengakui dan menyadari dampak dari tindakan manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
Kedua, memperbaiki perilaku, baik dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan ekonomi, pertanian, industri, maupun pengelolaan sumber daya alam.
Ketiga, melakukan pemulihan lingkungan sekaligus mencegah kerusakan serupa terulang kembali.
Dengan demikian, tobat ekologis bukan hanya tentang menyesali kerusakan yang telah terjadi, tetapi juga keberanian mengambil tanggung jawab untuk memperbaikinya.
*Membangun Gerakan dari Masyarakat*
Pemulihan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa. Pemerintah, organisasi masyarakat, komunitas lingkungan, lembaga pendidikan, dunia usaha, petani, dan masyarakat desa harus bergerak bersama.
Berbagai langkah sederhana dapat menjadi bagian dari gerakan besar tersebut, mulai dari mengurangi sampah plastik, memilah dan mengolah limbah, menanam pohon, memulihkan mangrove, menjaga mata air, mengembangkan pertanian ramah lingkungan, hingga memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk.
Desa dan komunitas masyarakat memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan sumber daya alam dan ekosistem di sekitarnya.
*Merawat Bumi, Menjaga Masa Depan*
Dialog Nasional Tobat Ekologis di Yogyakarta menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Kekayaan alam Indonesia tidak boleh hanya dinikmati generasi sekarang, tetapi harus tetap terjaga untuk anak cucu.
- Pesan penting dari gerakan ini adalah bahwa tobat ekologis harus dimulai dari kesadaran, diwujudkan melalui perubahan perilaku, dan dibuktikan dengan tindakan nyata.
Sebab, menjaga bumi bukan hanya urusan aktivis lingkungan atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
Berhenti merusak, mulai memulihkan. Merawat alam hari ini berarti menjaga kehidupan Indonesia di masa depan.
(Rochmad)












