Jurnsljatengdiynews.com. Kudus,. 03/08/26. Dari Secangkir Kopi Menuju Berdirinya Musholla Baitul Jannah
Hampir setiap waktu kami selalu meluangkan kesempatan untuk berdiskusi dan mengkaji ilmu. Terkadang melalui cerita masa lalu, terkadang melalui peristiwa-peristiwa kekinian. Semua diramu menjadi bumbu hikmah untuk memperkaya literasi, memperluas cara pandang, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap peristiwa menyimpan pelajaran.
Bagi kami, ada sebuah simpul yang selalu berulang: di mana ada kopi, di situ ada camilan; di mana ada camilan, di situ lahir ide-ide segar yang penuh makna. Secangkir kopi sering kali menjadi saksi lahirnya gagasan, inspirasi, bahkan langkah-langkah nyata yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Diskusi dan tadabbur ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah (wahyu yang tertulis dalam Al-Qur’an) maupun ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta), telah menjadi rutinitas antara Dr. Carto, Rochmad Taufiq, dan para kolega. Bukan sekadar berdiskusi, tetapi juga saling belajar memahami bagaimana ilmu harus diwujudkan dalam kehidupan.
Seperti malam Selasa, 3 Agustus 2026. Tanpa angin, tanpa hujan, tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk.
“Malam ini merapat… ada mie goreng khas GG 1 Mlati Norowito.”
Ajakan sederhana dari kediaman Dr. Carto itu ternyata menjadi awal diskusi panjang tentang progres pembangunan Musholla Baitul Jannah di Pondok Literasi Alam PPR BG Farm.
Malam itu terasa sederhana, namun sarat makna. Secangkir kopi hangat dan sepiring mi goreng menemani perbincangan. Di sela-sela obrolan, mata kami sesekali memandang bangunan Musholla Baitul Jannah yang perlahan mulai berdiri. Setiap perkembangan kecil menghadirkan rasa syukur sekaligus semangat untuk terus menyelesaikannya.
Pembicaraan kemudian mengalir kepada hakikat doa.
Selama ini banyak orang memahami doa sebatas mengangkat tangan dan memohon kepada Allah SWT. Padahal ketika menelusuri Al-Qur’an, yang lebih sering kita jumpai adalah kata “ud’u” (ادعوا), sebuah kata kerja yang berarti serulah, panggillah, atau berdoalah. Akar katanya adalah دعو (da’a) yang melahirkan berbagai bentuk seperti da’ā, yad’ū, ud’u, dā’ī, dan du’ā’.
Dari sana kami merenung, bahwa doa bukan sekadar rangkaian kata yang keluar dari lisan. Doa adalah panggilan menuju kebaikan. Doa adalah gerakan hati yang melahirkan langkah. Doa adalah keyakinan yang diwujudkan melalui ikhtiar.
Ketika Allah berfirman,
“Ud’ūnī astajib lakum.”
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)
maka yang bergerak bukan hanya lisan, tetapi juga hati, pikiran, tenaga, dan seluruh usaha yang kita lakukan.
Diskusi kemudian berlanjut pada firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133:
“Wa sāri’ū ilā maghfiratin min rabbikum…”
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu…”
Kata wa sāri’ū mengajarkan bahwa amal kebaikan tidak cukup hanya direncanakan. Ia harus segera diwujudkan. Bersegera bukan berarti tergesa-gesa tanpa pertimbangan, melainkan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik.
Saat memandang Musholla Baitul Jannah yang masih dalam proses pembangunan, ayat itu terasa begitu hidup.
Musholla ini tidak akan berdiri hanya dengan doa yang terucap. Ia berdiri karena doa yang menjelma menjadi tindakan. Ada langkah kaki para dermawan, tenaga para pekerja, pemikiran para relawan, serta uluran tangan para muwakif yang menginfakkan sebagian rezekinya demi tegaknya rumah Allah.
Malam itu, kami belajar bahwa setiap batang kayu yang dipasang, setiap sak semen yang diaduk, setiap paku yang dipukul, setiap tetes keringat yang mengalir, bahkan setiap rupiah yang diwakafkan, sesungguhnya adalah doa yang sedang berjalan.
Inilah makna doa yang sesungguhnya. Bukan hanya dipanjatkan, tetapi diwujudkan. Bukan hanya diucapkan, tetapi diperjuangkan.
Semoga Allah SWT menjadikan setiap langkah pembangunan Musholla Baitul Jannah sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga Yaumul Akhir. Semoga Allah menerima setiap niat baik, menguatkan setiap ikhtiar, melapangkan rezeki para muwakif dan relawan, serta menjadikan musholla ini sebagai pusat ibadah, ilmu, dakwah, dan lahirnya generasi yang mencintai Al-Qur’an dan alam ciptaan-Nya.
Karena pada akhirnya, doa terbaik bukan hanya yang dipanjatkan dengan lisan, tetapi yang dibuktikan dengan amal.
“Wa sāri’ū ilā maghfiratin min rabbikum…”
Bersegeralah menuju ampunan dan ridha Allah. Semoga Musholla Baitul Jannah menjadi saksi bahwa doa yang paling indah adalah doa yang berjalan bersama ikhtiar, kebersamaan, dan pengorbanan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
(Rochmad Taufiq)












