Jurnaljatengdiynews.com 17/10/26. Ketika pangan lokal mengenyangkan anak-anak,menghidupkan kenangan, sekaligus menguatkan ekonomi petani.
Ada kalanya sebuah gagasan besar berawal dari sesuatu yang sederhana. Pagi itu, saya menemukan resep jantung pisang saat asyik menggulir layar HP. Saya lalu teringat kebun sendiri, memetik jantung pisang kepok tanjung, dan mencoba mengolahnya menjadi masakan yang lezat.
Dari dapur, resep itu saya bagikan kepada sahabat-sahabat. Tak disangka, Ustaz Noerjoso dari Bandongan, Magelang, membalas dengan kisah nasi bontotan yang mengandung pelajaran berharga tentang pangan, persahabatan, dan kebersamaan.
Beliau bercerita bahwa dahulu, saat masih sekolah, nasi yang dibungkus daun pisang dan dipadatkan bersama oseng tempe, terong, atau jantung pisang menjadi bekal sederhana yang dinikmati bersama teman-teman. Satu bungkus bisa dimakan berempat.
Tradisi itu terus diwariskan kepada anak-anaknya. Bahkan, nasi bontotan menjadi makanan yang dirindukan anak-anak asrama ketika orang tua datang berkunjung.
Beliau menyampaikan satu hal yang menyentuh: tradisi bontotan bukan hanya meninggalkan kenangan rasa, tetapi juga membuat persahabatan tetap terhubung secara mendalam hingga sekarang, termasuk hubungan anak-anak dengan teman-temannya.
Dari kisah tersebut, saya melihat bahwa makanan lokal memiliki kekuatan yang lebih besar daripada sekadar mengisi perut. Ia bisa menjadi pengikat hubungan antarmanusia dan jembatan antargenerasi.
Jantung pisang: pangan sederhana dengan manfaat yang berlapis
Jantung pisang merupakan bagian tanaman yang selama ini belum selalu dimanfaatkan secara optimal. Padahal, bahan pangan ini mengandung serat dan berbagai zat gizi, serta dapat diolah menjadi beragam hidangan.
Dengan pengolahan yang tepat, jantung pisang bisa menjadi bahan sayur, tumisan, pepes, atau lauk berbasis pangan lokal. Dipadukan dengan sumber protein seperti tempe, ikan, telur, atau bahan lain yang sesuai, jantung pisang dapat menjadi bagian dari menu yang beragam dan bergizi.
Tentu, nilai gizinya perlu dihitung berdasarkan komposisi dan porsi hidangan. Jantung pisang bukan pengganti seluruh kebutuhan protein dan zat gizi anak, tetapi dapat menjadi salah satu bahan pangan pendukung dalam menu seimbang.
Yang tak kalah penting, jantung pisang merupakan hasil kebun yang dapat memberi nilai tambah apabila memiliki pasar yang jelas.
Dari kebun pisang menuju dapur MBG
Saya membayangkan, bagaimana jika jantung pisang dan berbagai pangan lokal lainnya lebih banyak dipertimbangkan sebagai bahan menu Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Jika pengadaan dilakukan secara terencana, dengan melibatkan petani, kelompok tani, koperasi, UMKM, dan dapur penyedia makanan, manfaatnya bisa menjalar ke desa-desa.
- Bagi petani pisang: jantung pisang yang sebelumnya kurang bernilai dapat memiliki pembeli dan menambah pendapatan.
- Bagi ekonomi desa: tumbuh peluang usaha dalam pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan distribusi pangan lokal.
- Bagi anak-anak: mereka mengenal kekayaan pangan Nusantara melalui hidangan yang menarik, beragam, dan memenuhi kebutuhan gizi.
- Bagi ketahanan pangan: ketergantungan pada bahan tertentu dapat dikurangi melalui pemanfaatan sumber pangan lokal yang sesuai.
Apabila permintaan jantung pisang dan produk olahannya tumbuh secara konsisten, petani berpeluang memperoleh pasar yang lebih pasti. Dengan kontrak pembelian, standar mutu, dan harga yang disepakati secara adil, fluktuasi harga dapat ditekan dan pendapatan petani menjadi lebih terencana.
Namun, manfaat tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena satu bahan pangan masuk ke menu MBG. Perlu ada perencanaan kebutuhan, ketersediaan bahan, kesepakatan harga, pengaturan pasokan, serta jaminan keamanan pangan.
Jantung pisang juga harus dipanen dengan memperhatikan produktivitas tanaman dan tujuan produksi buah. Penggunaannya perlu disesuaikan agar tidak mengganggu hasil panen pisang yang menjadi sumber pendapatan utama petani.
Nasi bontotan: alternatif penyajian yang layak dieksplorasi
Menanggapi cerita Cak Noerjoso, saya sepakat bahwa nasi bontotan menarik untuk dieksplorasi sebagai inspirasi MBG.
Bukan berarti seluruh menu MBG harus disajikan dengan cara tradisional tersebut. Akan tetapi, prinsipnya layak dikembangkan: makanan berbahan lokal, mudah dikenali, praktis disajikan, dan memiliki nilai kebersamaan.
Nasi bontotan dapat dikembangkan menjadi nasi dengan lauk dan sayur berbahan lokal, termasuk olahan jantung pisang. Namun, jika hendak diterapkan untuk MBG, perlu penyesuaian terhadap kebutuhan gizi setiap kelompok usia, porsi, kebersihan, keamanan pangan, dan cara penyajian.
Pembungkus daun pisang pun dapat menjadi bagian dari identitas kuliner lokal, sepanjang memenuhi ketentuan kebersihan dan keamanan. Penggunaan kemasan perlu mempertimbangkan pula proses pengadaan, penyimpanan, dan distribusi makanan.
Gagasan ini layak diuji melalui kegiatan percontohan bersama ahli gizi, petani, UMKM, pengelola dapur MBG, sekolah, dan masyarakat. Anak-anak dapat diajak mengenal asal bahan pangan, sementara petani dan pelaku usaha lokal mendapat kesempatan memasok bahan yang memenuhi standar.
Dari sepiring makanan menuju persaudaraan
Kisah nasi bontotan mengingatkan kita bahwa ada nilai yang tidak selalu tercatat dalam angka kalori atau laporan belanja pangan.
Ketika anak-anak berbagi makanan, mereka belajar tentang persahabatan. Ketika orang tua mewariskan resep, mereka meneruskan kenangan dan kasih sayang. Ketika pangan lokal hadir di sekolah, anak-anak dapat mengenal kebun, petani, dan budaya pangan di sekitar mereka.
Di sinilah MBG berpeluang menjadi lebih dari sekadar program penyedia makanan. Dengan perencanaan yang tepat, program ini juga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan gizi anak dan kesejahteraan petani desa.
Jantung pisang mengajarkan bahwa sesuatu yang sering dianggap sederhana dapat menghasilkan manfaat apabila dikelola dengan kreativitas. Nasi bontotan mengajarkan bahwa makanan dapat menjaga hubungan antarmanusia. Dan kebun mengajarkan bahwa kesejahteraan perlu ditumbuhkan melalui kerja bersama.
Semoga pangan lokal mendapat tempat yang layak di meja makan anak-anak, petani memperoleh pasar yang adil, dan setiap hidangan menjadi jalan tumbuhnya kesehatan, persaudaraan, serta keberkahan.
Dari kebun, untuk dapur. Dari petani, untuk generasi. Dari kearifan lokal, menuju masa depan pangan yang lebih berdaulat.
TANI: Tawakal, Amanah, Niat Ibadah.
Salam persaudaraan, (Rochmad)











