Monday, October 19, 2026
Jurnal Jateng DIY
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
Jurnal Jateng DIY
Home Pertanian

JANTUNG PISANG DAN NASI BONTOTAN: DARI KEARIFAN LOKAL MENUJU MBG YANG MENGHIDUPKAN PETANI DESA

Admin by Admin
October 19, 2026
in Pertanian
A A
0
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnaljatengdiynews.com 17/10/26. Ketika pangan lokal mengenyangkan    anak-anak,menghidupkan kenangan, sekaligus menguatkan ekonomi petani.

Ada kalanya sebuah gagasan besar berawal dari sesuatu yang sederhana. Pagi itu, saya menemukan resep jantung pisang saat asyik menggulir layar HP. Saya lalu teringat kebun sendiri, memetik jantung pisang kepok tanjung, dan mencoba mengolahnya menjadi masakan yang lezat.

Dari dapur, resep itu saya bagikan kepada sahabat-sahabat. Tak disangka, Ustaz Noerjoso dari Bandongan, Magelang, membalas dengan kisah nasi bontotan yang mengandung pelajaran berharga tentang pangan, persahabatan, dan kebersamaan.

Beliau bercerita bahwa dahulu, saat masih sekolah, nasi yang dibungkus daun pisang dan dipadatkan bersama oseng tempe, terong, atau jantung pisang menjadi bekal sederhana yang dinikmati bersama teman-teman. Satu bungkus bisa dimakan berempat.

Tradisi itu terus diwariskan kepada anak-anaknya. Bahkan, nasi bontotan menjadi makanan yang dirindukan anak-anak asrama ketika orang tua datang berkunjung.

Berita Terkait

Dari Kohe Menjadi Berkah, dari Pisang Menjadi Harapan

Workshop Nasional Dorong Pertanian Organik Menjadi Pilar Ekonomi Nasional

Load More

Beliau menyampaikan satu hal yang menyentuh: tradisi bontotan bukan hanya meninggalkan kenangan rasa, tetapi juga membuat persahabatan tetap terhubung secara mendalam hingga sekarang, termasuk hubungan anak-anak dengan teman-temannya.

Dari kisah tersebut, saya melihat bahwa makanan lokal memiliki kekuatan yang lebih besar daripada sekadar mengisi perut. Ia bisa menjadi pengikat hubungan antarmanusia dan jembatan antargenerasi.

Jantung pisang: pangan sederhana dengan manfaat yang berlapis

Jantung pisang merupakan bagian tanaman yang selama ini belum selalu dimanfaatkan secara optimal. Padahal, bahan pangan ini mengandung serat dan berbagai zat gizi, serta dapat diolah menjadi beragam hidangan.

Dengan pengolahan yang tepat, jantung pisang bisa menjadi bahan sayur, tumisan, pepes, atau lauk berbasis pangan lokal. Dipadukan dengan sumber protein seperti tempe, ikan, telur, atau bahan lain yang sesuai, jantung pisang dapat menjadi bagian dari menu yang beragam dan bergizi.

Tentu, nilai gizinya perlu dihitung berdasarkan komposisi dan porsi hidangan. Jantung pisang bukan pengganti seluruh kebutuhan protein dan zat gizi anak, tetapi dapat menjadi salah satu bahan pangan pendukung dalam menu seimbang.

Yang tak kalah penting, jantung pisang merupakan hasil kebun yang dapat memberi nilai tambah apabila memiliki pasar yang jelas.

Dari kebun pisang menuju dapur MBG

Saya membayangkan, bagaimana jika jantung pisang dan berbagai pangan lokal lainnya lebih banyak dipertimbangkan sebagai bahan menu Makan Bergizi Gratis (MBG)?

Jika pengadaan dilakukan secara terencana, dengan melibatkan petani, kelompok tani, koperasi, UMKM, dan dapur penyedia makanan, manfaatnya bisa menjalar ke desa-desa.

  • Bagi petani pisang: jantung pisang yang sebelumnya kurang bernilai dapat memiliki pembeli dan menambah pendapatan.
  • Bagi ekonomi desa: tumbuh peluang usaha dalam pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan distribusi pangan lokal.
  • Bagi anak-anak: mereka mengenal kekayaan pangan Nusantara melalui hidangan yang menarik, beragam, dan memenuhi kebutuhan gizi.
  • Bagi ketahanan pangan: ketergantungan pada bahan tertentu dapat dikurangi melalui pemanfaatan sumber pangan lokal yang sesuai.

Apabila permintaan jantung pisang dan produk olahannya tumbuh secara konsisten, petani berpeluang memperoleh pasar yang lebih pasti. Dengan kontrak pembelian, standar mutu, dan harga yang disepakati secara adil, fluktuasi harga dapat ditekan dan pendapatan petani menjadi lebih terencana.

Namun, manfaat tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena satu bahan pangan masuk ke menu MBG. Perlu ada perencanaan kebutuhan, ketersediaan bahan, kesepakatan harga, pengaturan pasokan, serta jaminan keamanan pangan.

Jantung pisang juga harus dipanen dengan memperhatikan produktivitas tanaman dan tujuan produksi buah. Penggunaannya perlu disesuaikan agar tidak mengganggu hasil panen pisang yang menjadi sumber pendapatan utama petani.

Nasi bontotan: alternatif penyajian yang layak dieksplorasi

Menanggapi cerita Cak Noerjoso, saya sepakat bahwa nasi bontotan menarik untuk dieksplorasi sebagai inspirasi MBG.

Bukan berarti seluruh menu MBG harus disajikan dengan cara tradisional tersebut. Akan tetapi, prinsipnya layak dikembangkan: makanan berbahan lokal, mudah dikenali, praktis disajikan, dan memiliki nilai kebersamaan.

Nasi bontotan dapat dikembangkan menjadi nasi dengan lauk dan sayur berbahan lokal, termasuk olahan jantung pisang. Namun, jika hendak diterapkan untuk MBG, perlu penyesuaian terhadap kebutuhan gizi setiap kelompok usia, porsi, kebersihan, keamanan pangan, dan cara penyajian.

Pembungkus daun pisang pun dapat menjadi bagian dari identitas kuliner lokal, sepanjang memenuhi ketentuan kebersihan dan keamanan. Penggunaan kemasan perlu mempertimbangkan pula proses pengadaan, penyimpanan, dan distribusi makanan.

Gagasan ini layak diuji melalui kegiatan percontohan bersama ahli gizi, petani, UMKM, pengelola dapur MBG, sekolah, dan masyarakat. Anak-anak dapat diajak mengenal asal bahan pangan, sementara petani dan pelaku usaha lokal mendapat kesempatan memasok bahan yang memenuhi standar.

Dari sepiring makanan menuju persaudaraan

Kisah nasi bontotan mengingatkan kita bahwa ada nilai yang tidak selalu tercatat dalam angka kalori atau laporan belanja pangan.

Ketika anak-anak berbagi makanan, mereka belajar tentang persahabatan. Ketika orang tua mewariskan resep, mereka meneruskan kenangan dan kasih sayang. Ketika pangan lokal hadir di sekolah, anak-anak dapat mengenal kebun, petani, dan budaya pangan di sekitar mereka.

Di sinilah MBG berpeluang menjadi lebih dari sekadar program penyedia makanan. Dengan perencanaan yang tepat, program ini juga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan gizi anak dan kesejahteraan petani desa.

Jantung pisang mengajarkan bahwa sesuatu yang sering dianggap sederhana dapat menghasilkan manfaat apabila dikelola dengan kreativitas. Nasi bontotan mengajarkan bahwa makanan dapat menjaga hubungan antarmanusia. Dan kebun mengajarkan bahwa kesejahteraan perlu ditumbuhkan melalui kerja bersama.

Semoga pangan lokal mendapat tempat yang layak di meja makan anak-anak, petani memperoleh pasar yang adil, dan setiap hidangan menjadi jalan tumbuhnya kesehatan, persaudaraan, serta keberkahan.

Dari kebun, untuk dapur. Dari petani, untuk generasi. Dari kearifan lokal, menuju masa depan pangan yang lebih berdaulat.

TANI: Tawakal, Amanah, Niat Ibadah.

Salam persaudaraan, (Rochmad)

Previous Post

Ngaji Alam Bersama Ustaz Noeryoso Badongan, Menemukan Hikmah dan Potensi Rezeki dari Buah Liar Rambusa

RelatedPosts

Dari Kohe Menjadi Berkah, dari Pisang Menjadi Harapan
Berita

Dari Kohe Menjadi Berkah, dari Pisang Menjadi Harapan

October 7, 2026
Workshop Nasional Dorong Pertanian Organik Menjadi Pilar Ekonomi Nasional
Berita

Workshop Nasional Dorong Pertanian Organik Menjadi Pilar Ekonomi Nasional

September 28, 2026
Petani Itu Keren! FKPPI dan Komunitas Petani Bersatu Peringati Hari Tani Nasional di Kudus
Berita

Petani Itu Keren! FKPPI dan Komunitas Petani Bersatu Peringati Hari Tani Nasional di Kudus

September 29, 2026
Usai Sarasehan HUT FKPPI dan Hari Tani, Pegiat Pertanian Lanjutkan Guyub Rukun di Gubug PPR BG Farm
Berita

Usai Sarasehan HUT FKPPI dan Hari Tani, Pegiat Pertanian Lanjutkan Guyub Rukun di Gubug PPR BG Farm

September 24, 2026
70 Galon Bekas Disulap Jadi Kebun Bawang, Panen 17,5 Kg, Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah
Pertanian

70 Galon Bekas Disulap Jadi Kebun Bawang, Panen 17,5 Kg, Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah

September 22, 2026
UstaNoeryoso Pelopor Giat Perekonomian Muhammadiyah Bandongan: Menghidupkan Ekonomi dari Benih Lokal
Berita

UstaNoeryoso Pelopor Giat Perekonomian Muhammadiyah Bandongan: Menghidupkan Ekonomi dari Benih Lokal

September 19, 2026

RECOMMENDED NEWS

CREW 8 Korwil Lampung Tinjau Pabrik Tapioka Terbengkalai, Potensi atau Tantangan

CREW 8 Korwil Lampung Tinjau Pabrik Tapioka Terbengkalai, Potensi atau Tantangan

2 years ago
Wakaf Produktif Berbasis Ekologi: Lahan 4.300 m² Disiapkan Jadi Pusat Belajar Kebun Terpadu di Magelang

Wakaf Produktif Berbasis Ekologi: Lahan 4.300 m² Disiapkan Jadi Pusat Belajar Kebun Terpadu di Magelang

6 months ago

2 years ago
Lepas Peserta Fun Bike Rocket Infunity, Wabup Danang Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga Sebagai Rutinitas

Lepas Peserta Fun Bike Rocket Infunity, Wabup Danang Ajak Masyarakat Jadikan Olahraga Sebagai Rutinitas

2 years ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Agama
  • Berita
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Gaya hidup
  • Hiburan
  • Informasi
  • Kajian pertanian ekosistem
  • Keamanan
  • Kebersihan
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pembangunan
  • Pemberdayaan
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Politik
  • Sosial
  • Teknologi dan Sains
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

3 April 2024 anak yatim dhuafa bahan pokok batik Bupati Sleman debat Cawapres Dedeh K. Ekosistem Bisnis Lokal fakir miskin Forkom UMKM Sleman gotong royong HIPMI Peduli Sleman Indonesia Emas 2045 inspirasi Joko Suwanto Kabupaten Sleman. kebutuhan kepedulian sosial kerja keras Kerjasama Strategis Kesejahteraan Masyarakat kolaborasi Kustini Sri Purnomo masyarakat paket sembako pembangunan berkelanjutan Pemberdayaan UMKM Pendidikan Pendidikan Politik peran kader permintaan tinggi Pertumbuhan Ekonomi Inklusif podium Polres Magelang Kota Putra Agil Pamungkas Rumah Dinas Bupati Sleman S. Suseno sambutan silaturahmi sinergi sleman Sosial spanduk tanggung jawab sosial wanita berhijab
Jurnal Jateng DIY

Follow us on social media:

Recent News

  • JANTUNG PISANG DAN NASI BONTOTAN: DARI KEARIFAN LOKAL MENUJU MBG YANG MENGHIDUPKAN PETANI DESA
  • Ngaji Alam Bersama Ustaz Noeryoso Badongan, Menemukan Hikmah dan Potensi Rezeki dari Buah Liar Rambusa
  • Mahasiswa Magister Hukum UNW Tebar Manfaat di Simpang Lima Semarang, Sejak Pukul 05.00 WIB Sudah Siap Melayani Masyarakat

Category

Recent News

PKPA Batch #5 Asah Calon Advokat Lewat Simulasi Sengketa Lelang

Calon Advokat Diasah Berpikir Kritis Lewat Simulasi Sengketa Lelang Tanah

October 11, 2026
PKPA Batch #5 Asah Calon Advokat Lewat Simulasi Sengketa Lelang

PKPA Batch #5 Asah Calon Advokat Lewat Simulasi Sengketa Lelang

October 10, 2026
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Informasi

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Kategori Berita
    • Politik
    • Berita
    • Bisnis
    • Budaya
    • Olahraga
    • Gaya hidup
    • Sosial

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved