Jurnaljatengdiynews.com. Kudus – Semangat membangun kemandirian pangan daerah terus digaungkan. Para pelaku UMKM, petani, pegiat pertanian organik, pegiat sosial, akademisi, praktisi hukum, serta pengurus Koperasi Organik Muria Raya dan PPR BG Farm berkumpul dalam sebuah forum diskusi untuk merumuskan langkah nyata mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui 124 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Kudus.
Diskusi tersebut membahas konsep pertanian terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi beras, sayuran, buah-buahan, ikan, telur, hingga daging sebagai upaya memenuhi kebutuhan gizi sekitar 372 ribu peserta didik di Kabupaten Kudus. Setiap SPPG melayani rata-rata sekitar 3.000 siswa, sehingga setiap hari membutuhkan ratusan kilogram bahan pangan bergizi.
Besarnya kebutuhan tersebut menjadi peluang ekonomi yang sangat menjanjikan. Diperkirakan perputaran ekonomi dari program pemenuhan gizi di Kabupaten Kudus dapat mencapai lebih dari Rp400 miliar, sekaligus menjadi kesempatan emas bagi UMKM, petani, peternak, nelayan, dan koperasi lokal untuk tumbuh bersama.
Dalam kesempatan itu, Wahyu Widodo, Ketua Asosiasi SPPG se-Kabupaten Kudus yang juga seorang pakar teknologi informasi, menyampaikan harapannya.
“Seandainya seluruh kebutuhan bahan baku SPPG ini mampu dipenuhi oleh UMKM dan petani Kudus sendiri, saya yakin Kudus akan menjadi proyek percontohan nasional. Sayangnya hingga saat ini saya masih mencari UMKM maupun petani yang mampu memasok secara konsisten sesuai standar kebutuhan SPPG,” ungkapnya.
Menurut Wahyu, peluang tersebut masih sangat terbuka karena sesuai SOP dari pemerintah pusat, setiap SPPG wajib memiliki sekitar 15 pemasok. Dengan adanya 124 SPPG, dibutuhkan ribuan peluang kerja sama bagi para pemasok lokal.
Sementara itu, pakar hukum sekaligus pembina PPR BG Farm, Dr. Carto Nuryanto, berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menghadirkan nilai sosial.
“Saya berharap kegiatan ini dapat memberi manfaat bagi pesantren, pondok, serta yayasan yatim binaan. Jika ekonomi masyarakat bergerak, maka keberkahannya juga akan dirasakan oleh lembaga-lembaga sosial,” tuturnya.
Ketua Koperasi Organik Muria Raya, Wawan, menegaskan bahwa koperasi akan menjadi wadah kolaborasi seluruh anggota dalam mengelola peluang usaha tersebut.
“Melalui koperasi yang kita dirikan, keuntungan akan dinikmati bersama. Kita akan menyusun proposal, membentuk tim, dan membagi tugas agar program pemenuhan kebutuhan SPPG berjalan secara profesional,” jelasnya.
Di sisi lain, H. Maskur, yang telah berpengalaman sebagai pemasok SPPG di beberapa titik, mengingatkan pentingnya memulai secara bertahap.
“Tahap awal kita uji coba dulu di beberapa SPPG, jangan terlalu banyak. Setelah sistem berjalan baik, baru kita tingkatkan secara bertahap,” pesannya.
Komitmen juga disampaikan oleh L. Hamim, Owner Kampung Sawah, yang siap memasok ikan lele dan nila.
“Kami siap mendukung. Nanti akan kami hitung kembali berapa hasil bersih per kilogram setelah proses pembersihan agar sesuai standar kebutuhan SPPG,” ujarnya.
Pertemuan ini menjadi awal terbentuknya sinergi besar antara koperasi, petani, peternak, pembudidaya ikan, pelaku UMKM, dan berbagai elemen masyarakat untuk membangun ekosistem pangan lokal yang kuat.
Harapannya, Kabupaten Kudus tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi peserta didik dari hasil produksi daerah sendiri, tetapi juga menjadi contoh nasional bagaimana kolaborasi antara koperasi, UMKM, dan pertanian terintegrasi mampu menggerakkan ekonomi rakyat sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Semoga kolaborasi ini menjadi langkah nyata mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi, dan pemenuhan gizi anak bangsa, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh petani, UMKM, koperasi, lembaga sosial, serta seluruh masyarakat Kabupaten Kudus. ,( Rochmad Taufiq)












