Jurnaljatengdiynews.com. Magelang — Langkah strategis dalam mengoptimalkan tanah wakaf kembali ditunjukkan oleh Muhammadiyah. Sebidang lahan seluas ±4.300 m² yang berada di kawasan bantaran sungai kini telah selesai disurvei dan dinyatakan siap dikembangkan menjadi kebun terpadu berbasis ekologi, ekonomi, dan sosial.
Program ini dirancang tidak sekadar sebagai pemanfaatan lahan, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Selain ditanami komoditas unggulan seperti kelapa, kelengkeng, dan kopi, pengelolaan kawasan ini juga diarahkan untuk menjaga kelestarian bantaran sungai.
Pengelolaan kebun wakaf ini akan melibatkan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) dan Majelis Wakaf Muhammadiyah. Saat ini, tim tengah melakukan perhitungan kebutuhan anggaran untuk tahap budidaya. Tak hanya itu, kolaborasi akademik juga akan memperkuat program ini dengan keterlibatan Lembaga Pengabdian dan Penelitian Masyarakat (LPPM) dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Universitas Muhammadiyah Magelang.
Ke depan, lokasi ini ditargetkan menjadi pusat pembelajaran bagi petani, mahasiswa, dan masyarakat umum. Program pelatihan berbasis praktik (bimtek) akan digelar secara berkala, menjadikannya sebagai laboratorium lapangan untuk manajemen kebun terpadu. Jika terealisasi, maka PDM Muhammadiyah Magelang akan memiliki empat titik pusat belajar kebun terpadu yang siap memberdayakan umat.
*Inovasi Pertanian Terpadu: Pagar Hidup hingga Pola Tanam Berkelanjutan*
Dalam pengembangannya, pendekatan pertanian organik juga menjadi perhatian. Pegiat pertanian organik, Rochmad Taufiq ulumnus BSM 37, memberikan sejumlah masukan strategis, salah satunya pentingnya penggunaan pagar hidup dari tanaman singkong.
“Selain berfungsi sebagai pengaman, singkong juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, baik ayam maupun domba,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyarankan pola tanam terpadu dengan memanfaatkan ruang antar tanaman buah. Dengan jarak tanam 6–8 meter, lahan kosong dapat diisi dengan jagung manis. Selain menghasilkan nilai ekonomi dari penjualan jagung, limbah batang (tebon) dapat diolah menjadi pakan ternak.
Konsep “tanam harian, panen berkelanjutan” juga menjadi strategi menarik. Dengan menanam sekitar 16 batang jagung per hari, kebutuhan pakan satu ekor domba dapat terpenuhi. Dalam jangka dua bulan, sistem ini memungkinkan panen harian sekaligus menghasilkan pendapatan rutin.
Sebagai gambaran, jika satu batang jagung dihargai Rp.1.000, maka potensi pemasukan bisa mencapai Rp.480.000 per bulan dari satu siklus tanam. Nilai ini belum termasuk manfaat tambahan dari pakan ternak yang dihasilkan serta kohe nya untuk pupuk tanaman.
Menuju Kemandirian Umat
Program ini diharapkan menjadi model wakaf produktif yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan integrasi antara pertanian, peternakan, pendidikan, dan pelestarian lingkungan, kebun terpadu ini berpotensi menjadi inspirasi pengelolaan wakaf modern di Indonesia.
“Ini bukan sekadar kebun, tapi pusat pembelajaran dan pemberdayaan umat,” ungkap salah satu tim penggagas.
Jika berjalan sesuai rencana, kawasan ini akan menjadi bukti bahwa wakaf bisa menjadi motor penggerak ekonomi umat yang berkelanjutan.(Rochmad Taufiq-Untuk-Indonesia)












