Jurnaljatengdiynews com. Magelang – Sabtu 01/08/26 Di balik sejuknya udara lereng Gunung Sumbing, tersimpan potensi ekonomi yang mulai terlupakan. Saat melakukan tadabur alam di salah satu desa di Dusun parak aji desa gandusari bandongan wilayah Magelang, Sabtu (1/8/2026), ustad Noeryoso berbincang dengan seorang warga yang juga bertugas sebagai satpam di SMK Muhammadiyah Bandongan. Dari perbincangan tersebut terungkap bahwa tanaman gadung pernah menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat.
Menurut warga tersebut, setiap musim panen sekitar bulan Agustus, umbi gadung diolah menjadi keripik yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Harga keripik gadung kering mencapai sekitar Rp. 45.000 per kilogram di tingkat pengepul, bahkan bisa lebih tinggi setelah dikemas menjadi produk oleh-oleh khas daerah.
“Yang menarik, gadung hampir tidak membutuhkan perawatan intensif. Tanaman ini bisa tumbuh di lahan marginal tanpa pupuk dan pestisida. Sekali tanam, umbinya dapat dipanen berkali-kali hingga bertahun-tahun,” jelasnya.
Selain mudah dibudidayakan, gadung juga mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga berpotensi menjadi sumber pangan alternatif pengganti nasi maupun bahan baku pakan ternak. Dari sisi lingkungan, tanaman ini dinilai mendukung konservasi lahan dan sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim karena minim penggunaan bahan kimia.
Nilai ekonominya pun cukup menjanjikan. Dengan pengolahan sederhana, keripik gadung dapat dikemas menjadi sekitar 20 bungkus berukuran kecil yang dipasarkan di pusat oleh-oleh maupun tempat wisata, sehingga memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat desa.
Tak hanya menjadi keripik, gadung juga dapat diolah menjadi makanan tradisional seperti leye gadung, yaitu irisan gadung yang disajikan dengan parutan kelapa. “Rasanya sangat nikmat. Ini adalah kekayaan kuliner lokal yang perlu dilestarikan,” ujar Ustad Noeryoso.
Sahabatnya ustad Noeryoso Rochmad Taufiq menilai potensi gadung layak disosialisasikan lebih luas sebagai bagian dari dakwah pemberdayaan masyarakat. Selain mendukung ketahanan pangan, konservasi lingkungan, dan penyediaan pakan alternatif, pengembangan gadung juga dapat menjadi sumber peningkatan kesejahteraan warga.
“Saat ini tanaman gadung sudah mulai langka karena jarang dibudidayakan. Padahal satu rumpun dapat menghasilkan sekitar 5 kilogram umbi saat panen. Ini merupakan potensi besar yang perlu dihidupkan kembali sebagai kekayaan pangan lokal Indonesia,” pungkasnya. (Rochmad Taufiq- Salam literasi )












