Jurnaljatengdiynews.com. MAGELANG — Siapa sangka galon bekas yang biasanya berakhir menjadi barang tidak terpakai, ternyata bisa disulap menjadi media tanam bawang merah yang menghasilkan.
Inilah praktik nyata pemberdayaan masyarakat yang digagas melalui Majelis Pemberdayaan Pemberdayaan Muhammadiyah Magelang, yang dipelopori Ustazd Noeryoso, Ketua Majelis Pemberdayaan Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah Magelang, bersama komunitas ibu-ibu Aisyiyah.
Berawal dari pelatihan sederhana menanam bawang merah di galon bekas, kini tepat 80 hari kemudian, Selasa (22/9/2026), hasilnya mulai dipanen.
Dari setiap galon diperoleh rata-rata 250 gram bawang merah. Dengan jumlah 70 galon, maka total hasil panen mencapai:
70 × 250 gram = 17.500 gram atau 17,5 kilogram bawang merah.
“Hayo, kalau 70 galon masing-masing menghasilkan 250 gram, berapa kilogram hasil panennya?” ujar Ustadz Noeryoso, mengajak peserta menghitung sekaligus belajar bahwa kegiatan pertanian sederhana juga dapat memiliki nilai ekonomi.
*Dapur Ngebul, Istri Bahagia, Suami Makin Cinta*
Bagi Ustadzah Siti Nur Aini, pegiat urban farming dan Green Islam dari Bandongan, kegiatan tersebut bukan semata-mata soal bawang merah.
“Rumah menjadi asri dan hijau. Kita tidak harus selalu membeli sayuran dan bumbu dapur di pasar. Yang terpenting, kegiatan ini membuat hati bahagia,” tuturnya.
Konsep tersebut menjadi contoh sederhana bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari rumah tangga.
Tidak perlu menunggu mempunyai sawah atau lahan luas. Barang yang ada di sekitar rumah pun bisa dimanfaatkan. Galon bekas menjadi pot, halaman menjadi kebun, dan aktivitas menanam menjadi kegiatan produktif keluarga.
*Satu Tanaman, Banyak Manfaat*
Program ini setidaknya memiliki beberapa manfaat sekaligus.
Pertama, mengurangi dan memanfaatkan barang bekas dengan mengubah galon menjadi media tanam.
Kedua, memenuhi sebagian kebutuhan dapur. Bawang merah hasil panen dapat digunakan sendiri sehingga mengurangi kebutuhan membeli di pasar.
Ketiga, membuka peluang ekonomi. Jika produksi berlebih, hasilnya dapat dijual.
Keempat, bagian daun bawang juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran makanan seperti mendoan, bakwan dan berbagai masakan keluarga.
Kelima, dan tidak kalah penting, kegiatan ini menjadi syiar melalui keteladanan (uswatun hasanah). Apa yang dipraktikkan hari ini dapat dilihat, dipelajari dan ditiru oleh masyarakat lainnya.
*Dari Rumah untuk Ketahanan Pangan*
Pegiat pertanian terpadu Rochmad Taufiq mengatakan, ketahanan pangan tidak harus dimulai dengan program besar.
“Mulailah dari rumah. Tanam apa yang bisa ditanam, manfaatkan apa yang ada, dan ajak keluarga terlibat. Kalau satu rumah bergerak, kemudian ditiru sepuluh rumah, seratus rumah, bahkan seribu rumah, maka gerakan kecil itu bisa menjadi kekuatan besar,” ujarnya.
Semangat tersebut menggambarkan bahwa pertanian bukan hanya urusan produksi, tetapi juga pendidikan, ekonomi, lingkungan dan kebahagiaan keluarga.
Galon bekas menjadi lahan.
Halaman rumah menjadi kebun.
Kebun menghasilkan pangan.
Pangan menguatkan keluarga.
Dan keluarga yang mandiri menjadi bagian dari ketahanan pangan masyarakat.
Dari dapur yang ngebul, lahir keluarga yang bahagia. Dari keluarga yang bahagia, tumbuh masyarakat yang berdaya. (Rochmad Taufiq)












