Jurnaljatengdiynews com. *KUDUS –* Semangat bela negara tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara dan penghormatan terhadap simbol-simbol negara. Bela negara juga membutuhkan generasi muda yang berkarakter, berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
Semangat tersebut mewarnai kegiatan **Sosialisasi Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 45 serta Bela Negara** dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2026 yang berlangsung di Aula Gedung Juang 45 Kabupaten Kudus, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan ini diikuti lebih dari 60 pelajar perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dari berbagai SMA/SMK sederajat se-Kabupaten Kudus. Para peserta merupakan siswa-siswi pilihan yang dikirim oleh sekolah masing-masing untuk mengikuti kegiatan sekaligus menjadi penggerak semangat kebangsaan dan kepemimpinan di lingkungan sekolah.
Bupati Kudus yang dijadwalkan membuka kegiatan berhalangan hadir. Acara tetap berlangsung dengan penuh antusiasme melalui rangkaian kegiatan yang dipandu oleh Erna Rahayu selaku pembawa acara. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin Jusariyah, dilanjutkan laporan panitia oleh Dr. H. Sukresno.
*Pelajar Aktif Bertanya, Tanda Tumbuhnya Generasi Kritis*
Salah satu hal menarik dalam kegiatan tersebut adalah tingginya *antusiasme peserta. Para pelajar tidak hanya duduk mendengarkan materi, tetapi aktif menyampaikan pendapat, memberikan tanggapan, dan mengajukan pertanyaan kritis kepada narasumber.
Salah satu peserta bahkan mempertanyakan perubahan kurikulum pendidikan nasional yang dianggap terlalu sering berganti.
“Kenapa kurikulum pendidikan dari Dinas Pendidikan sering berubah-ubah? Kadang membuat siswa pusing,” ungkap salah seorang peserta.
Pertanyaan tersebut menjadi gambaran bahwa generasi muda memiliki perhatian terhadap arah kebijakan pendidikan dan berani menyampaikan pemikiran secara terbuka.
Keberanian bertanya dan menyampaikan pendapat merupakan modal penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, berdialog, dan mencari solusi.
*Kepemimpinan Rasulullah Menjadi Teladan*
Dalam penyampaian materi, Dr. Carto Nuryanto mengajak para pelajar meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW yang berlandaskan empat sifat utama, yaitu **Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah**.
Siddiq berarti jujur, Amanah berarti dapat dipercaya, Tabligh berarti menyampaikan kebenaran, sedangkan Fathonah berarti cerdas dan bijaksana.
Menurut Carto, empat karakter tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas.
“Jika generasi muda mampu meneladani sifat kepemimpinan Rasulullah, insyaallah masa depan bangsa akan semakin baik dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang sukses,” terang Carto.
Materi lainnya disampaikan Dr. Agus Sunarno H., dengan Drs. Triko Irianto bertindak sebagai moderator. Kegiatan ditutup oleh H. Soekardi.
Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara unsur pendidikan, organisasi kebangsaan, dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda.
*Dari Sosialisasi Menuju Forum Intelektual Generasi Muda*
Tidak ingin kegiatan berhenti sebagai acara seremonial, para penggagas merencanakan tindak lanjut melalui pembentukan grup WhatsApp sebagai ruang komunikasi dan diskusi aktif antarpelajar lintas sekolah.
Gagasan tindak lanjut tersebut juga disampaikan oleh Dr. Handoyo. Forum komunikasi ini diharapkan menjadi wadah bertukar gagasan, mengembangkan literasi, melatih keberanian berpendapat, dan menyiapkan kader pemimpin masa depan.
Rochmad Taufiq mengusulkan agar forum tersebut dikembangkan menjadi **Forum Generasi Emas Kudus – Kandidat Pemimpin Hebat**.
“Kita ingin membangun ruang pertemuan dan diskusi intelektual bagi pelajar lintas sekolah. Jangan sampai semangat hari ini berhenti setelah acara selesai. Harus ada tindak lanjut, ada komunikasi, ada diskusi, dan ada aksi nyata,” ungkap Rochmad.
Ia juga menawarkan pertemuan lanjutan pada Sabtu atau Minggu sore di Pondok Literasi Alam BG Farm, tepatnya di kawasan Musala Kebun Gedang yang saat ini sedang dalam proses pembangunan.
Menurutnya, pelajar perlu memiliki ruang belajar alternatif di luar sekolah untuk mengembangkan gagasan, kreativitas, kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
*Bela Negara Dimulai dari Ketahanan Pangan*
Rochmad yang juga mengembangkan P4S Literasi Alam BG Farm menegaskan bahwa bela negara pada masa sekarang harus diterjemahkan melalui kontribusi nyata sesuai bidang dan kemampuan masing-masing.
Salah satunya melalui edukasi pertanian terpadu atau *integrated farming* yang mengintegrasikan tanaman pangan, peternakan, perikanan, pupuk organik, dan pengelolaan lingkungan.
Menurutnya, ketahanan pangan merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Generasi muda perlu memahami proses produksi pangan, menghargai profesi petani, serta memiliki keterampilan dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan masyarakat.
Gagasan tersebut sejalan dengan gerakan edukasi pertanian di P4S Literasi Alam BG Farm, termasuk inovasi **Sawah Palsu menggunakan galon bekas** sebagai alternatif pembelajaran budidaya padi di lahan terbatas.
Melalui kegiatan tersebut, pelajar dapat belajar bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti berproduksi. Dengan kreativitas, pengetahuan, dan teknologi sederhana, ruang-ruang terbatas pun dapat dimanfaatkan untuk mendukung kemandirian pangan.
“Bela negara tidak harus selalu mengangkat senjata. Belajar dengan sungguh-sungguh, berpikir kritis, menjaga lingkungan, membantu masyarakat, dan ikut membangun kedaulatan pangan juga merupakan wujud nyata bela negara. Petani kaya, pangan mandiri, negara kuat,” tegas Rochmad.
Ia juga mengajak generasi muda memahami filosofi TANI, yaitu **Tawakal, Amanah, Niat Ibadah**, sebagai landasan moral dalam membangun budaya kerja dan kemandirian ekonomi masyarakat.
*Membangun Kandidat Pemimpin Hebat Menuju Indonesia Emas*
Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh gerakan pelajar lintas sekolah yang tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berkembang menjadi komunitas intelektual dan kaderisasi kepemimpinan generasi muda di Kabupaten Kudus.
Para pelajar diharapkan menjadi generasi yang berani bertanya, mampu menyampaikan gagasan, menghargai perbedaan, memiliki integritas, serta bersedia terlibat dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Dari Gedung Juang 45, semangat perjuangan diwariskan kepada generasi muda. Dari ruang diskusi, gagasan ditumbuhkan. Dari lingkungan sekolah dan masyarakat, kepemimpinan ditempa. Dan melalui aksi nyata, kemandirian bangsa diperkuat.
**Sebab masa depan bangsa tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar berbicara, tetapi generasi yang berani berpikir, mampu bekerja, berkarakter, dan bersedia mengabdi.**
**Bela Negara: Berkarakter dalam Kepemimpinan, Cerdas dalam Pemikiran, Mandiri dalam Pangan, dan Nyata dalam Pengabdian.** (Rochmad Taufiq)












