Jurnaljatengdiynews.com. KUDUS — Kamis 24/09/26 Usai mengikuti sarasehan dalam rangka HUT FKPPI dan Hari Tani Nasional, suasana kebersamaan para pegiat pertanian belum berakhir. Rombongan pegiat pertanian dari semarang, khususnya yang bergerak di bidang kebun buah , melanjutkan silaturahmi ke Gubug PPR BG Farm, Wergu, Kudus.
Rombongan yang dibersamai bang Hari Triyogo tersebut di antaranya Bunda Dani, Bunda Anti dan Mas Arif. Pertemuan berlangsung santai, akrab dan penuh suasana guyub rukun. Bahkan, suasana tersebut terasa seperti “sarasehan jilid dua”, karena obrolan terus mengalir dari pengalaman bertani, bisnis, hingga pengelolaan lahan.
Gong jinagong pun berlangsung santai sambil menikmati tape mentega khas Gembong, ditemani minuman alami tanpa gula berupa es tebu yang diberi sedikit perasan jeruk nipis.
Di tengah suasana santai tersebut, pembicaraan menarik perhatian ketika Bunda Dani berbagi cerita mengenai pengalaman usaha dan menjaga semangat di usia yang sudah kepala enam.
“Resepnya sederhana, terbiasa senang,” ujar Bunda Dani ketika ditanya mengenai penampilannya yang masih terlihat awet muda.
Menurutnya, rasa senang itu salah satunya diperoleh dari aktivitas usaha. Ia mengaku menikmati kegiatan mencari rezeki melalui bisnis properti sekaligus menjalankan profesinya di bidang advokat.
*Strategi Marketing Properti: Kenali Kebutuhan Pembeli*
Bunda Dani juga membagikan sejumlah pengalaman menarik mengenai strategi pemasaran properti. Salah satu prinsip yang menurutnya penting dimiliki seorang agen properti adalah memahami kebutuhan calon pembeli.
Seorang marketing, menurutnya, tidak cukup hanya menawarkan tanah atau properti yang dimiliki. Marketing harus terlebih dahulu mengetahui calon pembeli membutuhkan lahan tersebut untuk apa.
“Harus tahu keinginan dan kebutuhan calon pembeli. Tanah itu nantinya mau digunakan untuk apa,” jelasnya.
Pengalaman tersebut bahkan membawanya berhadapan dengan calon pembeli dari berbagai daerah hingga luar negeri, termasuk dari China.
Menurutnya, kemampuan membaca kebutuhan pasar menjadi salah satu kunci dalam bisnis properti. Komisi dari satu transaksi penjualan tanah pun terkadang bisa menghasilkan nilai yang sangat besar.
“Kadang hasil komisi dari satu penjualan tanah bisa lebih besar dibandingkan penghasilan bekerja selama setahun,” ungkapnya.
Dari perjalanan usaha tersebut, alhamdulillah, hasilnya kemudian dapat dikembangkan kembali menjadi investasi properti di sejumlah wilayah, termasuk Salatiga, Susukan hingga kawasan Getas, Kopeng.
*Dari Properti Beralih ke Strategi Kebun Buah*
Obrolan kemudian berkembang pada pengelolaan lahan pertanian dan kebun buah.
Rochmad Taufiq, owner BG Farm Kudus, sekaligus penggerak program nabung ayam, nabung pisang dan konsep Dokter Tanaman, ikut memberikan pandangan mengenai pengelolaan kebun agar produktif sekaligus mudah dikelola.
Menurut Rochmad, lahan kebun buah perlu mendapatkan treatment berdasarkan kondisi tanah, tanaman dan kebutuhan pasar. Pendekatannya tidak sekadar menanam, tetapi seperti layaknya seorang dokter yang terlebih dahulu melakukan pemeriksaan sebelum memberikan tindakan.
“Kalau menggunakan pola dokter tanaman, tanaman harus dilihat dulu kondisi lahannya, kebutuhan nutrisinya dan bagaimana pola produksinya,” terang Rochmad.
Ia juga menekankan pentingnya efisiensi dalam pemanenan. Tanaman buah tidak harus dibiarkan tumbuh terlalu tinggi.
“Kalau bisa buah dikelola dengan pola panen dua kali dalam setahun. Pohonnya juga jangan terlalu tinggi agar mudah dipetik. Maksimal sekitar dua meter,” jelasnya.
Untuk tanaman durian, menurutnya, jumlah buah juga perlu dikendalikan agar kualitasnya optimal.
“Misalnya satu pohon cukup 30 buah. Jangan terlalu banyak, sehingga nutrisi tanaman bisa fokus dan buah yang dihasilkan bisa mendapatkan grade A,” tambahnya.
*6,5 Hektare Getas Akan Disurvei Tim Dokter Tanaman*
Dari diskusi yang berlangsung cair tersebut, akhirnya muncul titik temu antara pengalaman bisnis properti dan konsep pengembangan kebun buah.
Lahan seluas sekitar 6,5 hektare di kawasan Getas, Kopeng, rencananya akan terlebih dahulu dilakukan survei oleh tim Dokter Tanaman.
Tujuannya untuk mengetahui secara lebih tepat, tanaman apa yang paling sesuai dikembangkan di kawasan tersebut berdasarkan kondisi tanah, ketinggian, lingkungan, sumber air, potensi pasar dan pola budidayanya.
Bunda Dani menyambut baik gagasan tersebut. Baginya, sebelum lahan dikembangkan dalam skala besar, diperlukan kajian terlebih dahulu agar keputusan penanaman tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Pertemuan yang awalnya hanya menjadi kunjungan santai selepas sarasehan akhirnya menghasilkan gagasan konkret.
Dari obrolan lahir peluang, dari silaturahmi lahir kolaborasi.
Inilah semangat yang dibangun di Gubug PPR BG Farm: bertani bukan hanya soal menanam, tetapi juga mempertemukan ilmu, pengalaman, pasar, teknologi, dan jejaring usaha.
Karena ketika pengalaman bertemu dengan inovasi, lahan tidak sekadar menjadi tempat menanam, tetapi dapat menjadi sumber keberkahan dan kesejahteraan bersama. (Rochmad Taufiq)












