Saturday, June 27, 2026
Jurnal Jateng DIY
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
Jurnal Jateng DIY
Home Opini

Menghidupkan Tanah, Menghidupkan Kemandirian Umat

Admin by Admin
May 12, 2026
in Opini
A A
0
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

*Ditulis oleh: Rochmad Taufiq BSM 37 — Pegiat Nabung Pisang BG Farm Kudus*

Jurnaljatengdiynews.com. Kudus. Di masa lalu, para petani hidup berdampingan dengan alam secara alami dan penuh keseimbangan. Tanah tetap subur meski tanpa pupuk kimia, tanaman tumbuh lebat walau minim penyiraman, dan ternak berkembang sehat tanpa ketergantungan pada pakan pabrikan. Semua berjalan dalam sebuah ekosistem yang rapi, saling mendukung, dan penuh keberkahan.

Daun kering jatuh menjadi humus. Kotoran ternak kembali menyuburkan tanah. Air hujan tersimpan oleh akar dan mulsa alami. Mikroba, cacing, serangga baik, dan tanaman hidup dalam hubungan simbiosis mutualisme yang luar biasa. Alam bekerja sebagaimana mestinya sesuai sunnatullah yang Allah ciptakan.

Namun hari ini, perlahan manusia mulai menjauh dari pola alami tersebut. Kehadiran pupuk kimia dan pakan instan memang memberi hasil cepat, tetapi di sisi lain melahirkan ketergantungan yang panjang. Ketika pupuk langka, petani bingung tujuh keliling. Ketika harga pakan naik atau stok habis, peternak mulai gelisah, khawatir, bahkan stres karena merasa tidak memiliki jalan keluar.

Berita Terkait

Suweg: Jembatan Antara Ketahanan Pangan dan Konservasi

PELOPOR ORGANIK DARI CIAMIS IKUT “DIKARANTINA” DI BBPP LEMBANG, SIAP CETAK GENERASI PERTANIAN MASA DEPAN

Load More

Ironisnya, manusia yang Allah sebut sebagai kuntum khoiro ummah — umat terbaik — justru terkadang terjebak dalam sistem yang melemahkan kemandirian mereka sendiri. Padahal Allah juga menugaskan manusia sebagai khalifah di bumi, yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam, bukan merusaknya.

Karena itu, sudah saatnya pertanian dikembalikan pada ruh dasarnya: menghidupkan tanah dan membangun kemandirian pangan umat.

Konsep pertanian alami bukan sekadar metode bercocok tanam, tetapi sebuah gerakan peradaban. Gerakan untuk mengurangi ketergantungan, menghidupkan kembali mikroba tanah, memanfaatkan limbah organik rumah tangga, menjaga kelembaban tanah dengan mulsa alami, hingga menghadirkan ekosistem yang sehat bagi tanaman dan ternak.

Air leri fermentasi misalnya, bukan sekadar limbah cucian beras. Ia mampu menjadi pemicu kehidupan mikroba tanah. Mulsa dari rumput kering dan daun-daunan mampu menjaga kelembaban dan mengurangi penguapan air hingga 70 persen. Sampah organik rumah tangga yang selama ini dibuang ternyata dapat menjadi sumber nutrisi alami yang luar biasa bila dikelola dengan benar.

Bahkan belatung yang sering dianggap menjijikkan, sesungguhnya dapat menjadi sumber protein murah dan mandiri bagi unggas dan ikan. Alam sebenarnya telah menyediakan solusi lengkap, tinggal bagaimana manusia mau belajar kembali membaca tanda-tanda kebesaran Allah di bumi ini.

Gerakan Nabung Pisang, pertanian alami, dan ketahanan pangan keluarga bukan hanya tentang hasil panen. Ini adalah ikhtiar membangun ketenangan hidup petani. Agar petani tidak mudah panik saat pupuk mahal. Agar peternak tidak takut ketika pakan langka. Agar masyarakat mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri dengan cara yang sehat, murah, dan berkelanjutan.

Kita membutuhkan lebih banyak kebun yang menghidupkan tanah, bukan mematikan tanah. Kita membutuhkan petani yang mandiri, bukan petani yang terus bergantung. Kita membutuhkan generasi yang kembali mencintai alam sebagai amanah, bukan sekadar alat produksi.

Karena sesungguhnya ketika tanah hidup, maka tanaman akan sehat. Ketika tanaman sehat, maka pangan menjadi berkah. Dan ketika pangan menjadi berkah, maka kehidupan umat pun akan semakin kuat.

🌿
“Menghidupkan tanah bukan hanya tentang bercocok tanam, tetapi tentang menghidupkan harapan, kemandirian, dan masa depan umat.” Salam santun BG farm Kudus .

Previous Post

Endang Murdiati, S.Pd, Perempuan Multi Talenta dari Gondangmanis yang Tetap Menginspirasi

Next Post

SOSIALISASI SEKOLAH RAKYAT UNTUK MASYARAKAT KABUPATEN REMBANG

RelatedPosts

Suweg: Jembatan Antara Ketahanan Pangan dan Konservasi
Opini

Suweg: Jembatan Antara Ketahanan Pangan dan Konservasi

May 28, 2026
PELOPOR ORGANIK DARI CIAMIS IKUT “DIKARANTINA” DI BBPP LEMBANG, SIAP CETAK GENERASI PERTANIAN MASA DEPAN
Berita

PELOPOR ORGANIK DARI CIAMIS IKUT “DIKARANTINA” DI BBPP LEMBANG, SIAP CETAK GENERASI PERTANIAN MASA DEPAN

May 20, 2026
Mengganti Pisau Jagal dengan Barcode  Antara Teknologi, Krisis Lingkungan, dan Masa Depan Ibadah Kurban
Opini

Mengganti Pisau Jagal dengan Barcode Antara Teknologi, Krisis Lingkungan, dan Masa Depan Ibadah Kurban

May 9, 2026
Jajar Legowo, Inovasi Cerdas Menuju Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Indonesia
Opini

Jajar Legowo, Inovasi Cerdas Menuju Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Indonesia

May 8, 2026
Humus Bambu dan Masa Depan Pertanian Kita
Opini

Humus Bambu dan Masa Depan Pertanian Kita

May 1, 2026
SMART FARMING ATAU TERTINGGAL, PILIHAN KRUSIAL MENUJU KEDAULATAN PANGAN
Opini

SMART FARMING ATAU TERTINGGAL, PILIHAN KRUSIAL MENUJU KEDAULATAN PANGAN

April 16, 2026
Next Post
SOSIALISASI SEKOLAH RAKYAT UNTUK MASYARAKAT KABUPATEN REMBANG

SOSIALISASI SEKOLAH RAKYAT UNTUK MASYARAKAT KABUPATEN REMBANG

RECOMMENDED NEWS

Integrated Farming di KUB an Nur Banana Garden Kudus: Kampus Literasi Alam yang Menginspirasi

Integrated Farming di KUB an Nur Banana Garden Kudus: Kampus Literasi Alam yang Menginspirasi

2 years ago
Pembentukan Pengurus P2N Kudus, Guyub, Rukun, dan Penuh Semangat

Pembentukan Pengurus P2N Kudus, Guyub, Rukun, dan Penuh Semangat

2 years ago
Gong Jinagong Temu Kangen Kagama Ngopi Bareng  dalam Rangka Menyelaraskan Frekwensi

Gong Jinagong Temu Kangen Kagama Ngopi Bareng dalam Rangka Menyelaraskan Frekwensi

2 years ago
KUMIMA Gelar HUT Ke-6, Perkuat Semangat Guyub – Rukun – Gotong Royong UMKM Pati

KUMIMA Gelar HUT Ke-6, Perkuat Semangat Guyub – Rukun – Gotong Royong UMKM Pati

7 months ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Agama
  • Berita
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Gaya hidup
  • Hiburan
  • Informasi
  • Kajian pertanian ekosistem
  • Keamanan
  • Kebersihan
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pembangunan
  • Pemberdayaan
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Politik
  • Sosial
  • Teknologi dan Sains
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

3 April 2024 anak yatim dhuafa bahan pokok batik Bupati Sleman debat Cawapres Dedeh K. Ekosistem Bisnis Lokal fakir miskin Forkom UMKM Sleman gotong royong HIPMI Peduli Sleman Indonesia Emas 2045 inspirasi Joko Suwanto Kabupaten Sleman. kebutuhan kepedulian sosial kerja keras Kerjasama Strategis Kesejahteraan Masyarakat kolaborasi Kustini Sri Purnomo masyarakat paket sembako pembangunan berkelanjutan Pemberdayaan UMKM Pendidikan Pendidikan Politik peran kader permintaan tinggi Pertumbuhan Ekonomi Inklusif podium Polres Magelang Kota Putra Agil Pamungkas Rumah Dinas Bupati Sleman S. Suseno sambutan silaturahmi sinergi sleman Sosial spanduk tanggung jawab sosial wanita berhijab
Jurnal Jateng DIY

Follow us on social media:

Recent News

  • Panen Gembili hingga Jagung Madura, Gerakan Pangan Lokal Kian Menguat sebagai Solusi Ketahanan Pangan
  • Bulusan Edu Park, Ladang Hijau Organik di Tengah Kota: Bukti Mimpi Besar yang Menjadi Nyata
  • Workshop Dokter Tanaman 2026: Mencetak Petani Modern Bermental Miliaran dari Hulu hingga Hilir

Category

Recent News

Harta yang Mengalir, Berkah yang Mengalir

Harta yang Mengalir, Berkah yang Mengalir

June 25, 2026

June 25, 2026
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Informasi

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Kategori Berita
    • Politik
    • Berita
    • Bisnis
    • Budaya
    • Olahraga
    • Gaya hidup
    • Sosial

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved