Jurnaljatengdiynews.com. MAGELANG – Di tengah tantangan perubahan iklim (*climate change*), ancaman kekeringan, dan ketergantungan masyarakat terhadap beras, sorgum mulai dilirik sebagai salah satu solusi strategis untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Tanaman sorgum memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif maupun pelengkap beras. Selain relatif mudah dibudidayakan, sorgum dikenal memiliki daya adaptasi yang baik terhadap kondisi lahan kering dan keterbatasan air. Karakteristik tersebut menjadikannya salah satu komoditas yang menjanjikan dalam menghadapi perubahan iklim.
Hal tersebut disampaikan Ustaz Noeryoso, Ketua Pemberdayaan Ekonomi Muhammadiyah. Menurutnya, sorgum bukan sekadar tanaman pangan alternatif, tetapi juga peluang ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
“Sorgum merupakan pangan alternatif yang mudah dikembangkan, kaya nutrisi, dan menjadi sumber energi. Potensinya sangat besar, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan bagi petani,” terang Ustaz Noeryoso.
**MPM PDM Magelang Dipercaya Memproduksi Benih Sorgum**
Langkah konkret pengembangan komoditas ini mulai dilakukan di Kabupaten Magelang. Muhammadiyah melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang tengah giat mengembangkan sorgum.
Bahkan, MPM PDM Kabupaten Magelang mendapatkan kepercayaan untuk memproduksi benih sorgum sebagai bagian dari upaya memperluas pengembangan tanaman pangan alternatif tersebut.
Sebagai langkah awal, dalam waktu dekat akan disiapkan lahan seluas **1 hektare untuk pengembangan dan percontohan budidaya sorgum**. Tahap awal ini diharapkan menjadi fondasi untuk memperluas penanaman pada tahap berikutnya.
“Untuk tahap awal, dalam waktu dekat kami akan menyiapkan lahan seluas satu hektare. Selanjutnya, pengembangan akan terus diperluas dengan menggandeng dan bekerja sama dengan para petani lainnya, sehingga ke depan dapat dikembangkan pada area yang lebih luas,” terang Ustaz Noeryoso.
Menurutnya, keterlibatan petani menjadi kunci keberhasilan program. Dengan pola kemitraan dan pemberdayaan, petani tidak hanya menjadi pelaksana budidaya, tetapi juga bagian penting dari rantai usaha sorgum, mulai dari penyediaan benih, penanaman, panen, pengolahan hingga pemasaran.
**Dari Benih hingga Pasar: Membangun Ekosistem Ekonomi Petani**
Pengembangan sorgum perlu dilakukan secara terpadu agar tidak berhenti sebatas gerakan menanam. Ada beberapa langkah strategis yang dapat diperkuat.
Pertama, penguatan produksi benih berkualitas dengan memastikan kemurnian varietas, daya kecambah, dan ketersediaannya bagi petani.
Kedua, membangun lahan percontohan sebagai sarana edukasi dan pembelajaran langsung mengenai teknik budidaya, pemupukan organik, pengelolaan air, serta penanganan hama dan penyakit.
Ketiga, mendorong hilirisasi dan pengolahan hasil panen. Sorgum dapat dikembangkan menjadi beragam produk pangan, seperti beras sorgum, tepung, bubur, makanan ringan, dan aneka produk olahan bernilai ekonomi.
Keempat, membangun kemitraan dan kepastian pasar melalui koperasi petani, UMKM, pesantren, lembaga pendidikan, serta jaringan usaha Muhammadiyah.
Kelima, mengintegrasikan sorgum dengan pertanian berkelanjutan, termasuk pemanfaatan pupuk organik, konservasi air, dan pemanfaatan biomassa tanaman.
**Muhammadiyah dan Gerakan Kemandirian Pangan**
Inisiatif MPM PDM Kabupaten Magelang ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan pangan lokal sesuai potensi wilayah masing-masing.
Di tengah tantangan global, diversifikasi pangan menjadi kebutuhan penting. Ketahanan pangan tidak seharusnya hanya bertumpu pada satu komoditas, tetapi dibangun melalui keberagaman sumber pangan yang tersedia di setiap daerah.
Keberhasilan gerakan sorgum tidak hanya diukur dari luas lahan yang ditanami atau jumlah hasil panen, tetapi juga dari seberapa besar peningkatan pendapatan petani dan seberapa kuat kemandirian pangan masyarakat.
**Sorgum bukan sekadar alternatif beras. Sorgum adalah peluang, inovasi, dan ikhtiar membangun masa depan pertanian yang tangguh menghadapi perubahan iklim.**
Dari satu hektare lahan percontohan, diharapkan tumbuh gerakan yang lebih besar: melibatkan banyak petani, membuka lapangan usaha, memperkuat kemandirian pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
*Petani berdaya, pangan berdaulat, lingkungan terawat, dan ekonomi umat semakin kuat.* (Rochmad / jurnalis ipama )












