Pertemuan Kang Mus, Dr. Sukresna, dan Rochmad Taufiq: Dari Cerita Ringan Mengalir ke Gagasan Pesantren Tahfidz dan Pertanian Terpadu
Jurnaljatengdiynews.com. SEMARANG— Tidak semua gagasan besar lahir dari ruang rapat resmi. Ada kalanya, ide-ide bernas justru muncul dari pertemuan santai, obrolan akrab, dan suasana yang membuat setiap orang nyaman menyampaikan pemikirannya.
Suasana itulah yang terasa ketika bertemu Dr. H. Musthofa, S.E., M.M., yang akrab disapa Kang Mus, di kantornya di Jalan Pamularsih, Semarang, Senin (26/10/2026), pukul 12.30 hingga 14.11 WIB.
Pertemuan yang awalnya berlangsung santai itu perlahan berkembang menjadi diskusi yang menyenangkan. Cerita demi cerita mengalir, pengalaman masa lalu menjadi bahan refleksi, dan satu gagasan memancing gagasan lainnya.
Hadir pula Dr. Sukresna, tokoh dan pakar hukum dari Universitas Muria Kudus (UMK), serta Rochmad Taufiq, S.Sos., S.H., pegiat sosial dan pertanian terpadu dari P4S Pondok Literasi Alam BG Farm Kudus.
Tidak ada kesan kaku. Justru dalam suasana akrab itulah pembicaraan menjadi semakin hidup. Pengalaman politik dan pemerintahan, perspektif hukum, pendidikan karakter, hingga pemberdayaan masyarakat melalui pertanian terpadu menjadi bagian dari percakapan.
Menariknya, ketika satu pembahasan terasa hampir selesai, muncul pemikiran baru yang membuka ruang diskusi berikutnya. Seolah-olah obrolan belum ingin berhenti karena masih banyak hal menarik yang dapat dibicarakan bersama.
*Dari Cerita Pengalaman Menuju Gagasan Pendidikan*
Kang Mus, yang pernah menjabat Bupati Kudus selama dua periode dan kini menjadi anggota DPR RI periode 2024–2029, memiliki perjalanan panjang dalam dunia politik dan pemerintahan.
Pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi tentang kepemimpinan, pengabdian, dan pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa.
Dari obrolan ringan, pembicaraan kemudian mengarah pada gagasan pendidikan yang tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk akhlak, karakter, kemandirian, dan tanggung jawab.
Di sinilah muncul pemikiran tentang pesantren tahfidz Al-Qur’an yang dikembangkan dengan pendekatan pendidikan karakter dan kepemimpinan.
Pesantren diharapkan bukan sekadar menjadi tempat menghafal ayat-ayat suci, melainkan juga lingkungan yang menyiapkan santri menghadapi kehidupan nyata. Mereka perlu dibekali ilmu, keteladanan, keterampilan, serta kesadaran untuk menggunakan kemampuan dan kewenangannya bagi kemaslahatan masyarakat.
*Dr. Sukresna Membawa Perspektif Hukum*
Kehadiran Dr. Sukresna menambah warna dalam diskusi. Perspektif hukum memperkaya pembicaraan mengenai pentingnya membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memahami keadilan, hak, kewajiban, dan tanggung jawab.
Calon pemimpin bangsa perlu memiliki integritas. Ilmu dan kewenangan harus disertai kesadaran moral serta kepatuhan terhadap aturan.
Nilai-nilai tersebut idealnya tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi juga dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
Dengan demikian, pesantren dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi yang kuat secara spiritual, matang dalam berpikir, serta bertanggung jawab dalam bertindak.
*Rochmad Membawa Gagasan Pertanian Terpadu*
Dalam suasana diskusi yang cair, Rochmad Taufiq turut menyampaikan gagasan mengenai pentingnya mengintegrasikan pendidikan pesantren dengan pertanian terpadu atau *integrated farming*.
Berangkat dari pengalaman mengembangkan P4S Pondok Literasi Alam BG Farm Kudus, Rochmad memandang bahwa lahan pesantren dapat menjadi ruang belajar yang produktif.
Santri bisa belajar menanam sayuran, merawat kebun buah, mengelola kolam ikan, memelihara ternak, membuat pupuk organik, hingga mengembangkan usaha dari hasil panen.
Semua kegiatan itu bukan sekadar aktivitas tambahan. Jika dirancang dengan baik, pertanian terpadu dapat menjadi sarana pembentukan karakter.
Dari tanaman, santri belajar kesabaran. Dari peternakan, mereka belajar tanggung jawab. Dari kolam ikan, mereka belajar menjaga keseimbangan. Dari pengelolaan hasil panen, mereka belajar kejujuran, kerja sama, dan kewirausahaan.
Hasilnya pun dapat diarahkan untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan pesantren sesuai kemampuan produksi dan luas lahan yang tersedia.
“Santri jangan hanya belajar tentang kemandirian, tetapi juga perlu mengalami langsung bagaimana kemandirian itu dibangun,” demikian inti gagasan yang ingin dikembangkan melalui pendekatan tersebut.
*Pesantren sebagai Tempat Belajar Kehidupan*
Gagasan yang mengemuka dalam pertemuan itu mengarah pada cita-cita membangun pesantren tahfidz yang memadukan Al-Qur’an, pendidikan karakter, pemahaman hukum, kepemimpinan, dan kemandirian pangan.
Santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar dari kebun, kolam, peternakan, kegiatan sosial, dan pengelolaan usaha.
Mereka dapat dibiasakan menyusun rencana, membagi tugas, mencatat biaya, menghitung hasil produksi, serta mengevaluasi kegiatan bersama.
Dengan cara itu, pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi bergerak menuju pembentukan kecakapan hidup.
Tentu, gagasan tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut, mulai dari penentuan visi, kesiapan lahan, penyusunan kurikulum, tenaga pendidik, hingga sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Namun, setidaknya pertemuan santai itu telah membuka ruang untuk memikirkan pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas.
*Obrolan Selesai, Gagasan Tetap Berjalan*
Ada hal menarik dari pertemuan di Jalan Pamularsih tersebut. Ketiganya datang dengan pengalaman dan sudut pandang yang berbeda, tetapi dapat bertemu dalam satu pembicaraan tentang masa depan generasi muda.
Pengalaman pemerintahan, pemikiran hukum, dan praktik pemberdayaan masyarakat saling melengkapi. Tidak semua hal harus langsung menghasilkan keputusan. Kadang, langkah awal yang penting justru mempertemukan orang-orang yang bersedia bertukar pikiran dan membuka diri terhadap gagasan baru.
Pertemuan itu pun terasa menyenangkan karena diskusi tidak dibangun dengan suasana saling menggurui, melainkan melalui dialog, pengalaman, dan pertukaran pemikiran.
Dari obrolan ringan, muncul gagasan yang layak dirawat. Dari pertemuan singkat, terbuka kemungkinan untuk membangun komunikasi dan kolaborasi lebih lanjut.
Bagi Rochmad, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa membangun masa depan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Terkadang, semuanya berawal dari kesediaan untuk duduk bersama, mendengarkan, dan memikirkan apa yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Seperti petani yang menyiapkan benih sebelum musim hujan tiba, pendidikan generasi masa depan juga membutuhkan persiapan sejak dini.
**Al-Qur’an menjadi pedoman, karakter menjadi fondasi, ilmu menjadi bekal, pertanian menjadi laboratorium kehidupan, dan keteladanan menjadi pupuk bagi tumbuhnya generasi yang mandiri serta amanah.**
Semoga obrolan santai yang menyenangkan itu menjadi awal dari gagasan-gagasan bermanfaat bagi pendidikan, masyarakat, dan bangsa.
Sebab, tidak semua pertemuan harus menghasilkan keputusan hari itu juga. Ada pertemuan yang cukup menanamkan benih pemikiran—untuk kemudian dirawat bersama hingga kelak membuahkan manfaat. (Rochmad)











