Jurnaljatengdiynews.com. Kudus — Senin, 20 April 2026. Siang itu, Kebun Gedang terasa begitu teduh dan damai. Angin berembus pelan, seolah ikut larut dalam obrolan hangat yang mengalir dari cangkir kopi menuju ruang-ruang pemikiran. Aroma khas kopi Temanggung berpadu dengan pecel dan gado-gado yang dibawa oleh Doktor Carto seorang dosen hukum syariah UIN yang cinta pertanian, menghadirkan suasana sederhana yang justru melahirkan diskusi penuh makna.
Di sela-sela kesibukannya menjaga kios dan menyiapkan kopi, Mas Dayat sesekali ikut menyimak. Bahkan, di tengah perbincangan yang mulai serius, ia menyela dengan gaya santainya, “Wah… kalau kebun kita bisa kita buat seindah surga… kayak gini… asyik, dunk…” ucapnya sambil tersenyum. Ucapan sederhana itu justru menghidupkan suasana—membumi, namun sarat makna.
Percakapan yang awalnya ringan perlahan mengarah pada tema mendasar, asal-usul pelanggaran manusia pertama. Doktor Carto menjelaskan bahwa kisah Nabi Adam dan Hawa bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin perjalanan manusia sepanjang zaman.
“Ketika Adam dan Hawa tergoda oleh rayuan iblis untuk melanggar larangan Allah, itu bukan hanya soal buah. Itu tentang ketaatan—atau ketidaktaatan—pada aturan dari langit,” ungkapnya.
Ia menambahkan, akibat dari pelanggaran tersebut, keduanya diturunkan dari jannah—sebuah kebun penuh kenikmatan—ke bumi. “Di situlah awal manusia belajar tentang hukum, tanggung jawab, dan konsekuensi dari setiap pilihan,” lanjutnya.
Obrolan kemudian bergeser ke masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ di Mekkah—zaman yang dikenal sebagai jahiliyah. Menurut Doktor Carto, masa itu ditandai dengan diabaikannya hukum-hukum ilahi, meskipun sebelumnya telah hadir Taurat, Zabur, Injil, dan suhuf.
“Ketika aturan langit ditinggalkan, manusia cenderung membuat hukum sendiri yang sarat kepentingan. Dari situlah lahir ketidakadilan dan kesewenang-wenangan,” jelasnya. Ia juga menyinggung pola kekuasaan yang lebih mengedepankan dominasi daripada kebenaran, sebagaimana dicontohkan oleh tokoh seperti Abu Jahal.
Mas Heri kemudian mengaitkan dengan kondisi masa kini. Ia melihat adanya gejala yang patut direnungkan sebagai “jahiliyah modern”.
“Kalau kita lihat fakta di sekitar, banyak aturan yang mulai menjauh dari nilai moral dan ketuhanan. Ini perlu jadi bahan renungan bersama,” ujarnya.
Namun diskusi itu tidak berujung pada pesimisme. Justru menjelang waktu asar, suasana semakin reflektif dan penuh harapan.
Doktor Carto menegaskan bahwa sejatinya tujuan hidup manusia bukan hanya menghindari kesalahan, tetapi membangun “jannah” di dunia—kehidupan yang hasanah. Sebagaimana digambarkan Allah dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Muhammad ayat 15, surga itu adalah taman indah yang di dalamnya mengalir sungai-sungai air jernih, susu yang tidak berubah rasa, khamar yang tidak memabukkan, serta madu yang murni. Di sana terdapat berbagai buah-buahan dan ampunan dari Allah bagi orang-orang bertakwa.
“Itulah gambaran dunia hasanah yang harus kita bangun sejak sekarang. Bukan hanya menunggu di akhirat, tapi kita wujudkan di dunia—lingkungan yang baik, kehidupan yang adil, dan keberkahan yang nyata,” jelasnya.
Mas Heri menambahkan dengan penuh keyakinan, “Artinya perjuangan itu nyata. Kita mulai dari yang kecil, dari yang ada di depan kita.”
Mas Dayat yang sejak tadi sibuk, kembali menimpali sambil menuangkan kopi, “Berarti mulai dari kebun ini ya… biar benar-benar terasa ‘surga’-nya…” candanya ringan, namun mengena.
Di Kebun Gedang yang sederhana itu, obrolan siang berubah menjadi ruang tafakur. Dari kisah awal manusia, potret zaman jahiliyah, hingga refleksi kondisi hari ini—semuanya bermuara pada satu kesadaran: bahwa sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan arah dalam melangkah.
Dan dari kebun kecil itulah, tumbuh harapan besar—mewujudkan doa yang setiap hari dipanjatkan:
“Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar.”
Sebuah doa yang tidak hanya dilafalkan, tetapi diperjuangkan—dimulai dari langkah sederhana… dari Kebun Gedang ini. (Taufiq untuk Kudus)












