Tuesday, July 21, 2026
Jurnal Jateng DIY
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
Jurnal Jateng DIY
Home Pertanian

Dari Kebun Gedang Menuju Jannah, Ngopi, Tafakur, dan Membangun “Surga” di Dunia

Admin by Admin
April 21, 2026
in Pertanian
A A
0
17
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnaljatengdiynews.com. Kudus — Senin, 20 April 2026. Siang itu, Kebun Gedang terasa begitu teduh dan damai. Angin berembus pelan, seolah ikut larut dalam obrolan hangat yang mengalir dari cangkir kopi menuju ruang-ruang pemikiran. Aroma khas kopi Temanggung berpadu dengan pecel dan gado-gado yang dibawa oleh Doktor Carto seorang dosen hukum syariah UIN yang cinta pertanian, menghadirkan suasana sederhana yang justru melahirkan diskusi penuh makna.

Di sela-sela kesibukannya menjaga kios dan menyiapkan kopi, Mas Dayat sesekali ikut menyimak. Bahkan, di tengah perbincangan yang mulai serius, ia menyela dengan gaya santainya, “Wah… kalau kebun kita bisa kita buat seindah surga… kayak gini… asyik, dunk…” ucapnya sambil tersenyum. Ucapan sederhana itu justru menghidupkan suasana—membumi, namun sarat makna.

Percakapan yang awalnya ringan perlahan mengarah pada tema mendasar, asal-usul pelanggaran manusia pertama. Doktor Carto menjelaskan bahwa kisah Nabi Adam dan Hawa bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin perjalanan manusia sepanjang zaman.

“Ketika Adam dan Hawa tergoda oleh rayuan iblis untuk melanggar larangan Allah, itu bukan hanya soal buah. Itu tentang ketaatan—atau ketidaktaatan—pada aturan dari langit,” ungkapnya.

Ia menambahkan, akibat dari pelanggaran tersebut, keduanya diturunkan dari jannah—sebuah kebun penuh kenikmatan—ke bumi. “Di situlah awal manusia belajar tentang hukum, tanggung jawab, dan konsekuensi dari setiap pilihan,” lanjutnya.

Berita Terkait

Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian

Senior Akademisi dan Praktisi Berkolaborasi Menebar Manfaat melalui Sinergi Hukum, Pertanian Terpadu, dan Gerakan Koperasi Organik Muria Raya

Load More

Obrolan kemudian bergeser ke masa sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ di Mekkah—zaman yang dikenal sebagai jahiliyah. Menurut Doktor Carto, masa itu ditandai dengan diabaikannya hukum-hukum ilahi, meskipun sebelumnya telah hadir Taurat, Zabur, Injil, dan suhuf.

“Ketika aturan langit ditinggalkan, manusia cenderung membuat hukum sendiri yang sarat kepentingan. Dari situlah lahir ketidakadilan dan kesewenang-wenangan,” jelasnya. Ia juga menyinggung pola kekuasaan yang lebih mengedepankan dominasi daripada kebenaran, sebagaimana dicontohkan oleh tokoh seperti Abu Jahal.

Mas Heri kemudian mengaitkan dengan kondisi masa kini. Ia melihat adanya gejala yang patut direnungkan sebagai “jahiliyah modern”.

“Kalau kita lihat fakta di sekitar, banyak aturan yang mulai menjauh dari nilai moral dan ketuhanan. Ini perlu jadi bahan renungan bersama,” ujarnya.

Namun diskusi itu tidak berujung pada pesimisme. Justru menjelang waktu asar, suasana semakin reflektif dan penuh harapan.

Doktor Carto menegaskan bahwa sejatinya tujuan hidup manusia bukan hanya menghindari kesalahan, tetapi membangun “jannah” di dunia—kehidupan yang hasanah. Sebagaimana digambarkan Allah dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Muhammad ayat 15, surga itu adalah taman indah yang di dalamnya mengalir sungai-sungai air jernih, susu yang tidak berubah rasa, khamar yang tidak memabukkan, serta madu yang murni. Di sana terdapat berbagai buah-buahan dan ampunan dari Allah bagi orang-orang bertakwa.

“Itulah gambaran dunia hasanah yang harus kita bangun sejak sekarang. Bukan hanya menunggu di akhirat, tapi kita wujudkan di dunia—lingkungan yang baik, kehidupan yang adil, dan keberkahan yang nyata,” jelasnya.

Mas Heri menambahkan dengan penuh keyakinan, “Artinya perjuangan itu nyata. Kita mulai dari yang kecil, dari yang ada di depan kita.”

Mas Dayat yang sejak tadi sibuk, kembali menimpali sambil menuangkan kopi, “Berarti mulai dari kebun ini ya… biar benar-benar terasa ‘surga’-nya…” candanya ringan, namun mengena.

Di Kebun Gedang yang sederhana itu, obrolan siang berubah menjadi ruang tafakur. Dari kisah awal manusia, potret zaman jahiliyah, hingga refleksi kondisi hari ini—semuanya bermuara pada satu kesadaran: bahwa sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan arah dalam melangkah.

Dan dari kebun kecil itulah, tumbuh harapan besar—mewujudkan doa yang setiap hari dipanjatkan:

“Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar.”

Sebuah doa yang tidak hanya dilafalkan, tetapi diperjuangkan—dimulai dari langkah sederhana… dari Kebun Gedang ini. (Taufiq untuk Kudus)

Previous Post

Semangat Juang Tak Pernah Padam: Dr. Carto Nuryanto Pimpin Ziarah di TMP

Next Post

Sinergi Ormas Se-Kabupaten Kudus dalam FGD Kamtibmas, Perkuat Kondusivitas Wilayah

RelatedPosts

Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian
Agama

Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian

July 15, 2026
Senior Akademisi dan Praktisi Berkolaborasi Menebar Manfaat melalui Sinergi Hukum, Pertanian Terpadu, dan Gerakan Koperasi Organik Muria Raya
Pendidikan

Senior Akademisi dan Praktisi Berkolaborasi Menebar Manfaat melalui Sinergi Hukum, Pertanian Terpadu, dan Gerakan Koperasi Organik Muria Raya

July 15, 2026
UNFARA FARM dan Gerakan Pasar Kangkung Organik, Menumbuhkan Petani Muda dengan Semangat Pasar Madinah
Berita

UNFARA FARM dan Gerakan Pasar Kangkung Organik, Menumbuhkan Petani Muda dengan Semangat Pasar Madinah

July 12, 2026
Mengapa Banyak Peternak Ayam Belum Berhasil? Jangan Hanya Menyalahkan Bibit, Perhatikan Kalsium dalam Pakan
Berita

Mengapa Banyak Peternak Ayam Belum Berhasil? Jangan Hanya Menyalahkan Bibit, Perhatikan Kalsium dalam Pakan

July 2, 2026
Workshop Petani Organik Pati Raya: Menumbuhkan Kemandirian Pangan dari Alam untuk Menyelamatkan Bumi
Berita

Workshop Petani Organik Pati Raya: Menumbuhkan Kemandirian Pangan dari Alam untuk Menyelamatkan Bumi

June 29, 2026
Panen Gembili hingga Jagung Madura, Gerakan Pangan Lokal Kian Menguat sebagai Solusi Ketahanan Pangan
Berita

Panen Gembili hingga Jagung Madura, Gerakan Pangan Lokal Kian Menguat sebagai Solusi Ketahanan Pangan

June 27, 2026
Next Post
Sinergi Ormas Se-Kabupaten Kudus dalam FGD Kamtibmas, Perkuat Kondusivitas Wilayah

Sinergi Ormas Se-Kabupaten Kudus dalam FGD Kamtibmas, Perkuat Kondusivitas Wilayah

RECOMMENDED NEWS

PT Praba Mas Hill Laksanakan Perbaikan Jalan di Segmen Jalan Candi Penataran Raya hingga Pertigaan Jalan Untung Suropati, Semarang

PT Praba Mas Hill Laksanakan Perbaikan Jalan di Segmen Jalan Candi Penataran Raya hingga Pertigaan Jalan Untung Suropati, Semarang

5 months ago
Panen Gembili hingga Jagung Madura, Gerakan Pangan Lokal Kian Menguat sebagai Solusi Ketahanan Pangan

Panen Gembili hingga Jagung Madura, Gerakan Pangan Lokal Kian Menguat sebagai Solusi Ketahanan Pangan

3 weeks ago

1 month ago
Syafira, Santri Berprestasi dari Cahaya Semesta Salam, Pintar Ngaji, Ahli Bela Diri, dan Bertekad Jadi Dokter

Syafira, Santri Berprestasi dari Cahaya Semesta Salam, Pintar Ngaji, Ahli Bela Diri, dan Bertekad Jadi Dokter

2 years ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Agama
  • Berita
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Gaya hidup
  • Hiburan
  • Informasi
  • Kajian pertanian ekosistem
  • Keamanan
  • Kebersihan
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pembangunan
  • Pemberdayaan
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Politik
  • Sosial
  • Teknologi dan Sains
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

3 April 2024 anak yatim dhuafa bahan pokok batik Bupati Sleman debat Cawapres Dedeh K. Ekosistem Bisnis Lokal fakir miskin Forkom UMKM Sleman gotong royong HIPMI Peduli Sleman Indonesia Emas 2045 inspirasi Joko Suwanto Kabupaten Sleman. kebutuhan kepedulian sosial kerja keras Kerjasama Strategis Kesejahteraan Masyarakat kolaborasi Kustini Sri Purnomo masyarakat paket sembako pembangunan berkelanjutan Pemberdayaan UMKM Pendidikan Pendidikan Politik peran kader permintaan tinggi Pertumbuhan Ekonomi Inklusif podium Polres Magelang Kota Putra Agil Pamungkas Rumah Dinas Bupati Sleman S. Suseno sambutan silaturahmi sinergi sleman Sosial spanduk tanggung jawab sosial wanita berhijab
Jurnal Jateng DIY

Follow us on social media:

Recent News

  • (no title)
  • Dari Dapur MBG ke Mushola Literasi, PPR BG Farm Jajaki Kolaborasi Strategis dengan 124 SPPG Kudus untuk Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Umat
  • Silaturahim Jamaah Haji, Menumbuhkan Tadabur dan Kekuatan Berjamaah untuk Kemaslahatan Umat

Category

Recent News

Karawitan Wanita Gita Budaya Gelar Pentas Tutup Sura, Lestarikan Seni Tradisi Jawa

Karawitan Wanita Gita Budaya Gelar Pentas Tutup Sura, Lestarikan Seni Tradisi Jawa

July 17, 2026
Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian

Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian

July 15, 2026
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Informasi

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Kategori Berita
    • Politik
    • Berita
    • Bisnis
    • Budaya
    • Olahraga
    • Gaya hidup
    • Sosial

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved