Jurnaljatengdiynews.com. Bandongan, Magelang – Mengisi waktu senggang tidak harus selalu dengan aktivitas yang bersifat konsumtif. Di sela-sela kesibukannya berdakwah, Ustadz Nuryoso dari Bandongan, Magelang, mengajak masyarakat memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan ekologis dan produktif melalui budidaya bawang merah skala rumahan.
Mengusung konsep urbang farming atau pertanian rumah tangga, Ustadz Nuryoso memanfaatkan galon bekas air mineral sebagai wadah tanam. Selain murah dan mudah didapat, metode ini juga membantu mengurangi sampah plastik di lingkungan.
“Siapa saja bisa melakukannya, cukup di halaman rumah atau teras. Kegiatan ini cocok dilakukan pada sore hari bersama keluarga. Selain untuk kebutuhan dapur sendiri, hasilnya juga bisa menambah penghasilan,” ungkap Ustadz Nuryoso.
Media tanam yang digunakan terdiri dari campuran arang kayu ukuran kecil, tanah yang diambil dari sekitar rumpun bambu, arang sekam, serta pupuk kandang kambing yang telah difermentasi. Semua bahan dicampur dengan perbandingan sama, lalu dimasukkan ke dalam botol bekas yang telah dipotong dan disiapkan sebelumnya.
Dalam satu wadah botol, dapat ditanam sekitar 4 hingga 5 bibit bawang merah. Perawatannya pun relatif mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja.
Saat ditanya mengapa menggunakan arang kayu sebagai salah satu bahan utama media tanam, Ustadz Nuryoso menjelaskan bahwa arang kayu memiliki banyak manfaat bagi pertumbuhan bawang merah.
“Arang kayu mampu menjaga media tetap gembur, memperlancar sirkulasi udara, dan mencegah umbi membusuk akibat kelembapan berlebih. Selain itu, arang juga membantu menyimpan unsur hara lebih lama serta menekan pertumbuhan jamur penyebab penyakit tanaman,” jelasnya.
Menurutnya, budidaya sederhana seperti ini bukan hanya menghasilkan bawang merah untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi sarana edukasi keluarga tentang pentingnya ketahanan pangan dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Menanam itu bukan hanya soal panen. Menanam adalah membangun harapan, melatih kesabaran, dan mensyukuri nikmat Allah melalui bumi yang subur,” pesan Ustadz Nuryoso kepada jamaah dan warga yang mengikuti tutorialnya.
Kegiatan sederhana tersebut kini mulai menarik perhatian masyarakat sekitar. Di tengah keterbatasan lahan, pemanfaatan botol bekas sebagai media tanam menjadi solusi kreatif untuk menghadirkan kebun mini produktif di lingkungan rumah.
“Jangan biarkan boto atau galon bekas menjadi sampah. Jadikan ia wadah kehidupan yang menghasilkan pangan untuk keluarga,” tutup Ustadz Nuryoso. (Rochmad Taufiq -untuk Indonesia)













