Jurnaljatengdiynews.com.- Kudus. Hamparan sawah Desa Gulang dan Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus, tersimpan potensi yang selama ini kurang dilirik. Keong sawah yang kerap dianggap hama perusak tanaman padi, ternyata menyimpan kandungan protein tinggi yang sangat dibutuhkan unggas dan ikan air tawar seperti lele.
Berdasarkan estimasi luasan sawah sekitar 3.630.000 m² dengan kepadatan 20–40 ekor per meter persegi, populasi keong bisa mencapai 72 juta hingga 145 juta ekor. Angka ini bukan sekadar statistik — ini adalah ladang protein gratis yang selama ini belum dioptimalkan.
*🐌 Dari Musuh Petani Jadi Sahabat Peternak*
Banyak petani mengeluh karena keong memakan bibit padi. Namun di sisi lain, para pakar peternakan menyebutkan bahwa protein hewani dari keong sangat baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi telur ayam, serta mempercepat pertumbuhan lele.
Wandi, warga Desa Gulang, sudah membuktikan.
“Keong saya rebus dulu, ambil dagingnya, lalu dicacah pakai chopper kecil-kecil sebelum diberikan ke lele. Hasilnya bagus, lele cepat gemuk,” ujarnya.
Peternak ayam kampung dari Mlati Kidul pun mulai mencoba. “Masih tahap uji coba, nanti kita lihat perkembangannya,” terang Taufiq.
Ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular desa — limbah atau hama di satu sektor menjadi solusi di sektor lain.
*🐔 Peluang Ekonomi yang Rasional*
Jika diasumsikan satu ayam membutuhkan sekitar 35 gram pakan tambahan per hari, potensi jutaan kilogram daging keong bisa menopang populasi unggas dalam jumlah besar. Artinya,
Biaya pakan berkurang signifikan
Ketergantungan pada pakan pabrikan menurun
Margin keuntungan peternak meningkat
Petani sawah terbantu karena populasi hama berkurang
Ini bukan sekadar teori, melainkan peluang riil berbasis potensi lokal.
*🌿 Sejalan dengan Konsep “ATM Allah”*
Apa yang terjadi di Gulang dan Payaman sejatinya selaras dengan gagasan “Membangun ATM Allah di Belakang Rumah.” Allah telah menyediakan sistem hayati yang bekerja tanpa listrik, tanpa mesin, tanpa riba.
Keong berkembang biak alami.
Lele tumbuh dengan cepat.
Ayam bertelur tanpa disuruh.
Tugas manusia hanyalah membaca peluang dan mengelola sistemnya dengan baik.
Ketika hama bisa berubah menjadi pakan, ketika sawah bukan hanya sumber beras tetapi juga sumber protein ternak, maka di situlah kedaulatan pangan mulai tumbuh dari desa.
*🔥 Mengalahkan Gengsi, Menguatkan Kemandirian*
Sering kali yang menghambat bukan modal, melainkan pola pikir. Kita lebih bangga membeli pakan mahal daripada mengolah sumber daya sendiri. Padahal, inovasi seperti ini justru menguatkan ekonomi warga, khususnya bagi peternak kecil, yayasan sosial, dan keluarga prasejahtera.
Bayangkan jika:
Setiap peternak lele memanfaatkan keong lokal
Setiap peternak ayam kampung memadukan pakan alami
Setiap desa membangun sistem kolaborasi petani–peternak
Maka yang lahir bukan hanya keuntungan ekonomi, tetapi juga kemandirian kolektif.
🌾 Hikmah
Keong sawah di Gulang dan Payaman bukan lagi sekadar hama. Ia adalah potensi jutaan ekor protein yang menunggu disentuh kreativitas warga.
Inilah wajah dakwah ekonomi:
mengubah masalah menjadi maslahat,
mengubah hama menjadi hikmah,
mengubah keluhan menjadi peluang.
Karena siapa yang mampu membaca potensi kecil di sekitarnya, dialah yang akan memanen keberkahan besar di masa depan.
Salam santun dari santri PTS BG Farm 🌿
(Rochmad Taufiq-Untuk Indonesia )












