Jurnaljatengdiynews.com. Semarang – Pernyataan tegas datang dari Ketua Umum Perkumpulan Pabrik Rokok dan Petani Tembakau Indonesia, Suratno Syukron. Ia menilai bahwa anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun Anggaran 2026 yang mencapai Rp.3,28 triliun tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk BLT bagi buruh rokok dan petani tembakau, layanan kesehatan, dan penegakan hukum rokok ilegal, tetapi juga dapat diarahkan untuk menguatkan kegiatan sosial dan budaya.
Pernyataan itu disampaikan dalam agenda Halal Bi Halal bersama tokoh agama, tokoh spiritual, dan budayawan dalam kegiatan “Ngaji Roso – Ngaji Budoyo” di Padepokan Ilir-Ilir Gunungpati pada Minggu (12/4/2026).
Menurut Syukron, di tengah tekanan ekonomi global dan arus budaya asing yang kian deras, Indonesia membutuhkan program strategis untuk memperkuat ketahanan sosial dan budaya. “Bangsa ini punya akar budaya yang damai, penuh gotong royong. Ini harus dikuatkan dengan dukungan anggaran yang tepat,” tegasnya.
Ia menilai negara perlu menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak pada pelestarian nilai-nilai budaya Nusantara. Sebab, menurutnya, benteng sosial dan budaya menjadi tameng penting dalam menjaga identitas bangsa dari pengaruh luar yang kian massif lewat media sosial.
Dalam kesempatan tersebut, pembina kegiatan spiritualisme di Padepokan Ilir-Ilir, Achmad Liliek Bukhori, menegaskan bahwa kegiatan spiritual dan budaya seperti “Ngaji Roso – Ngaji Budoyo” bukan sekadar ritual, melainkan ruang pembentukan karakter, moral, dan kesadaran sosial.
“Tempat ini adalah telaga kejernihan. Di sini manusia belajar membersihkan hati, menata rasa, dan memperkuat budi pekerti. Dari kejernihan batin lahir kejernihan hidup,” ujarnya.
Padepokan yang didirikan oleh Ki Rohadi itu dikenal sebagai pusat pelestarian budaya dan olah batin. Beragam kegiatan seperti seni tradisi, gamelan, pedalangan, hingga permainan tradisional anak-anak digelar rutin untuk menjaga warisan budaya Nusantara.
Filosofi yang diusung adalah “Banyu urip – Tirto bening”—air kehidupan yang memberi kejernihan. Satu gelas air memberi hidup bagi seseorang, namun ketika menjadi telaga, ia memberi kesejukan bagi banyak orang.
Melalui pernyataan ini, DPP P2RPTI mendorong agar DBHCHT juga menjadi instrumen strategis untuk memperkuat pondasi sosial dan budaya, demi menjaga harmoni, kerukunan, dan jati diri bangsa di tengah tantangan zaman. (Taufiq- untuk Indonesia)












