Jurnajatengdiynews.com. KUDUS, 24 September 2026 — Peringatan Hari Tani Nasional tahun 2026 di Kabupaten Kudus berlangsung dalam suasana penuh semangat kolaborasi. Bertepatan dengan momentum HUT FKPPI ke-48, berbagai unsur pemerintah, aparat keamanan, organisasi petani, akademisi, komunitas dan pegiat pertanian berkumpul bersama di Aula Wakil Bupati Kudus.
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap masa depan pertanian dan ketahanan pangan. Hadir dari unsur pemerintah daerah, Dinas Pertanian, TNI/Polri, HKTI, FKPPI, para doktor, akademisi, serta komunitas dan pegiat pertanian.
Suasana semakin menarik ketika Kasdam Kudus, Mukhlisin, dalam sambutannya menyampaikan pesan sederhana namun kuat:
*“Petani itu keren.”*
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan yang mengangkat semangat untuk mengembalikan kebanggaan masyarakat terhadap profesi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat keluarga hingga bangsa.
Hari Tani Nasional sendiri diperingati setiap 24 September, berkaitan dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960, dan kemudian ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 169 Tahun 1963.
Petani Tidak Sekadar Menanam, tetapi Membangun Masa Depan Bangsa
Dalam sesi panel, dua narasumber hadir secara bergantian. Dari unsur Dinas Pertanian, hadir Ir. Isnu, sementara dari komunitas PPR BG Farm, hadir Rochmad, S.H., aktivis dan pegiat pertanian organik.
Dalam pemaparannya, Rochmad mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap dunia pertanian.
Menurutnya, pertanian jangan hanya dilihat sebagai aktivitas menanam dan memanen, tetapi sebagai bagian dari ibadah, amanah menjaga bumi, sekaligus fondasi ketahanan pangan bangsa.
“Petani wajib mengubah mindset. Bertani adalah ibadah. Petani adalah simbol kedigdayaan bangsa. Bila petani kuat dan sejahtera, ketahanan pangan akan semakin kuat. Sebaliknya, ketika petani menghadapi kesulitan, persoalan pangan juga menjadi persoalan bangsa,” terang Rochmad.
Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan pertanian tidak semata-mata ditentukan oleh luas lahan.
“Lahan boleh terbatas, tetapi kreativitas dan ikhtiar tidak boleh terbatas,” ujarnya.
Menurutnya, yang perlu dibangun adalah kemampuan mengubah lahan menjadi sumber produksi, kemudian meningkatkan hasil produksi menjadi nilai tambah.
Tanah → Petani → Pangan → Nilai Tambah → Kelembagaan → Generasi → Bangsa
Rochmad menyampaikan satu rantai pemikiran yang menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Tani Nasional tersebut:
Tanah → Petani → Pangan → Nilai Tambah → Kelembagaan → Generasi → Bangsa.
Tanah yang dikelola melahirkan produksi. Produksi yang dikelola dengan ilmu menghasilkan pangan. Pangan kemudian dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Selanjutnya diperlukan kelembagaan, kolaborasi, regenerasi dan pendidikan agar manfaat pertanian terus berkembang hingga menjadi kekuatan bangsa.
Ia juga mengajak petani tidak hanya berpikir mengenai hasil panen hari ini.
«“Jangan hanya bertanya, hari ini saya panen berapa. Tetapi tanyakan juga, hari ini saya membangun aset apa?”»
Menurutnya, ayam, pisang, pupuk, tanah, ilmu, jaringan dan hubungan baik antarsesama dapat menjadi bagian dari aset yang dibangun secara bertahap.
Dari Limbah Menjadi Berkah
Dalam perspektif pertanian terpadu, Rochmad juga mengajak peserta melihat kembali berbagai sumber daya yang selama ini sering dianggap limbah.
Gedebok pisang, kotoran ternak, sisa tanaman maupun bahan organik lainnya dapat dikelola sesuai kebutuhan dan metode yang tepat sehingga memiliki manfaat kembali bagi sistem pertanian.
Semangat tersebut dirumuskan dalam gerakan sederhana:
Nabung Ayam.
Nabung Pisang.
Nabung Pupuk.
Nabung Nilai Tambah.
Dengan konsep tersebut, petani didorong membangun sistem pertanian yang tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan aset dan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Petani Harus Bisa Menanam, Menghitung, Mengolah dan Memasarkan
Rochmad juga menekankan pentingnya kemampuan manajemen usaha bagi petani.
Petani tidak cukup hanya mampu bercocok tanam, tetapi juga harus memahami:
modal, biaya produksi, tenaga kerja, sarana produksi, hasil panen, omzet dan keuntungan bersih.
«“Omzet bukan keuntungan. Petani harus mulai belajar menghitung agar usaha pertaniannya benar-benar sehat,” jelasnya.»
Karena itu, petani masa depan menurutnya adalah petani yang mampu menanam, menghitung, mengolah dan memasarkan.
Rantai yang perlu dibangun adalah:
PETANI → PRODUKSI → PENDAMPINGAN → PEMBIAYAAN → PENGOLAHAN → PEMASARAN → KONSUMEN.
Pertanian Membutuhkan Kolaborasi
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Petani membutuhkan ilmu, teknologi, modal, sarana produksi, pendampingan, pengolahan dan akses pasar.
Karena itu diperlukan kolaborasi antara petani, pemerintah, TNI/Polri, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, lembaga sosial, koperasi, komunitas dan generasi muda.
Semangat gotong royong tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam peringatan Hari Tani Nasional dan HUT FKPPI.
Sendiri mungkin dapat bergerak, tetapi bersama-sama dapat membangun kekuatan.
100 Bibit Buah Dibagikan untuk Menanam Harapan
Tidak berhenti pada kegiatan seremonial, momentum tersebut juga diwujudkan dalam aksi nyata melalui pembagian 100 bibit tanaman buah, berupa mangga dan alpukat, kepada berbagai unsur dan komunitas.
Pembagian bibit menjadi simbol bahwa peringatan Hari Tani Nasional bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan.
Satu bibit yang ditanam hari ini dapat menjadi pohon yang memberikan manfaat bertahun-tahun kemudian.
Menanam hari ini berarti menyiapkan manfaat untuk generasi mendatang.
Bertani sebagai Ibadah, Menjaga Tanah sebagai Amanah
Dalam penutup pemaparannya, Rochmad mengajak seluruh peserta membawa tiga pesan sederhana:
Pertama, besarkan pikiran.
Lahan kecil jangan membuat pikiran menjadi kecil.
Kedua, besarkan manfaat.
Tanah, ilmu, tenaga, modal, limbah dan jaringan yang dimiliki hendaknya diubah menjadi sumber manfaat.
Ketiga, besarkan kolaborasi.
Petani dengan petani, petani dengan akademisi, petani dengan pemerintah, petani dengan dunia usaha, serta petani dengan generasi muda.
Ia kemudian merumuskan semangat bertani dalam tiga kata:
TANI
Tawakal — Amanah — Niat Ibadah.
Sebab bertani bukan sekadar pekerjaan.
Bertani adalah ikhtiar.
Menjaga tanah adalah amanah.
Menyediakan pangan adalah pengabdian.
Memberi manfaat adalah bagian dari ibadah.
Dari tanah yang dirawat, lahir tanaman yang sehat. Dari tanaman yang sehat, lahir pangan yang berkualitas. Dari pangan yang terjaga, lahir masyarakat yang kuat.
Dan pada akhirnya:
TANAH SEHAT → TANAMAN SEHAT → PETANI KUAT → PANGAN TERJAGA → BANGSA BERMARTABAT.
Peringatan Hari Tani Nasional dan HUT FKPPI di Kudus pun menjadi momentum bahwa petani bukan sekadar pelaku produksi pangan, tetapi bagian penting dari kekuatan bangsa. ( Rochmad Taufiq)












