JurnalJatengNews.com — KUDUS — Sebuah pesan singkat di grup FKBN pada Sabtu, 29 Agustus 2026, tiba-tiba mengubah suasana.
Di Group FKBN membagikan kabar bahwa Bapak H. Syafi’i telah berpulang ke Rahmatullah pukul 14.38 WIB.
Ucapan Innalillahi wa inna ilaihi raji’un segera bermunculan. Para kolega menyampaikan belasungkawa dan memanjatkan doa untuk almarhum.
Bapak H. Syafi’i merupakan ayahanda Ibu Endhah Endhayani, Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, sekaligus mertua Bapak Samani Intakoris, Bupati Kudus.
Almarhum dimakamkan pada hari yang sama di wilayah Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Namun, kabar itu tidak berhenti sebagai berita tentang seseorang yang meninggal.
Ia menjadi pengingat bagi kita yang masih hidup.
Hari ini nama H. Syafi’i yang disebut. Besok, kita tidak pernah tahu nama siapa yang akan menyusul.
Takziah dari Berbagai Kalangan
Malam harinya, sejumlah kolega hadir di rumah duka untuk menyampaikan takziah dan memberikan dukungan kepada keluarga.
Hadir antara lain Dandim 0722 Kudus Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie, S.Sos., M.Han, Dr. Carto Nuryanto selaku Ketua PP POLRI sekaligus Penasehat FKBN dan Penasehat PPR bG Farm, sejumlah pejabat utama Kabupaten Kudus, Ketua Muhammadiyah.K.H. Noor Muslikhan, S.Sos, para KH/kyai, serta kolega lainnya.
Mereka datang membawa doa, empati, dan penguatan bagi keluarga yang sedang kehilangan.
Sebab dalam suasana duka, terkadang kehadiran jauh lebih berarti daripada banyak kata.
Tiga Perkara yang Tetap Mengalir
Dalam tausiahnya, KH/Kyai menyampaikan pesan sederhana yang seharusnya menjadi renungan setiap orang.
Ketika manusia telah meninggal dunia, ada tiga perkara yang pahalanya tetap mengalir:
Doa anak yang saleh.
Amal jariyah.
Ilmu yang bermanfaat.
Tiga perkara tersebut mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak hanya tentang bagaimana kita hidup, tetapi juga apa yang kita tinggalkan setelah kita pergi.
Anak yang baik akan terus mendoakan.
Amal jariyah akan terus memberikan manfaat.
Dan ilmu yang bermanfaat akan terus hidup melalui orang-orang yang mengamalkannya.
Jangan Menunggu Kematian untuk Berdamai
Kematian mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: hidup ini singkat.
Jabatan akan ditinggalkan.
Harta akan ditinggalkan.
Rumah dan kendaraan akan ditinggalkan.
Bahkan orang-orang yang paling kita cintai pada akhirnya hanya mampu mengantar kita sampai ke liang lahat.
Setelah itu, kita sendiri yang mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.
Karena itu, selagi masih ada kesempatan, jangan terlalu lama menyimpan marah.
Jika ada hubungan yang renggang, sambung kembali.
Jika pernah bersalah, mintalah maaf.
Jika disakiti, belajarlah memaafkan.
Berdamai bukan berarti kalah. Memaafkan bukan berarti lemah. Menurunkan ego bukan berarti kehilangan harga diri.
Sebelum Kita Menjadi Sebuah Pesan
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan waktunya tiba.
Bisa jadi suatu hari nanti, di sebuah grup WhatsApp, akan muncul pesan:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah…”
Orang-orang akan membaca nama kita.
Keluarga akan menangis.
Teman dan kolega akan mengirim doa.
Tetapi pada saat itu, kita sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menambah satu amal pun.
Maka jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah.
Jangan menunggu tua untuk berbuat baik.
Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai keluarga.
Dan jangan menunggu kematian untuk belajar memaafkan.
Siapkan bekal pulang selagi masih diberi waktu.
Doa untuk Almarhum
Semoga Allah SWT mengampuni dosa dan kekhilafan Bapak H. Syafi’i, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Semoga keluarga yang ditinggalkan, khususnya Ibu Endhah Endhayani dan Bapak Samani Intakoris, diberikan kekuatan, kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.
Dan semoga kita yang masih hidup mampu mengambil hikmah dari kepergian beliau.
Sebab kematian bukan hanya tentang mereka yang pergi. Kematian juga sedang berbicara kepada kita yang masih tinggal.
Suatu saat nanti, kita pun akan pulang.
Maka sebelum waktu itu tiba, mari memperbanyak amal, memperbaiki silaturahmi, menebar manfaat, memperbanyak ilmu yang bermanfaat, serta membersihkan hati dari dendam dan permusuhan.
Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukanlah apa yang kita miliki, tetapi apa yang telah kita lakukan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Semoga almarhum husnul khatimah dan kita semua dipanggil Allah SWT dalam keadaan membawa bekal terbaik.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤲
(Rochmad Taufiq).












