Oleh: Rochmad Taufiq
Rabu, 29/07/26. Jawa Tengah. Di lereng gunung kembar Merbabu dan merapi yang udaranya sejuk, secangkir kopi hangat terasa lebih nikmat ketika ditemani diskusi tentang tanah, pupuk, mikroba, dan masa depan pertanian organik.
Pemandangan di Kelas Skill Up memang unik. Ada yang serius mencatat SOP, ada yang sibuk memotret layar, ada yang bertanya soal ulat, semut, kutu kebul, hingga mesin tetas. Bahkan ada yang bercanda, “Pak, kalau mikroba dikasih kopi, kerjanya tambah semangat nggak?”
Suasana pun pecah dengan tawa. Namun di balik canda itu, tersimpan semangat besar. Mereka datang bukan sekadar ingin menanam sayur, tetapi ingin menanam harapan. Mereka sedang belajar mengubah limbah menjadi berkah, mengubah lahan menjadi sumber kehidupan, dan mengubah ilmu menjadi rezeki.
Di kelas ini tidak ada yang pelit ilmu. Yang sudah paham membantu yang baru belajar. Yang belum mengerti tidak malu bertanya. Karena semua memiliki tujuan yang sama: menjadi petani organik yang mandiri, bermanfaat, dan sejahtera.
Bang Guntoro berulang kali mengingatkan, “Mulailah dari yang kecil, lakukan dengan disiplin.” Kalimat sederhana itu menjadi bekal bagi para pejuang organik untuk terus melangkah.
Siapa tahu, beberapa tahun lagi, ketika orang bertanya, “Dulu belajar di mana?” Mereka akan tersenyum sambil menjawab, “Awalnya cuma ngopi di lereng gunung… ternyata di sanalah mimpi menjadi miliarder organik mulai tumbuh.”
Karena kesuksesan bukan lahir dari tempat yang mewah, tetapi dari kemauan untuk terus belajar, bekerja, berbagi, dan tidak mudah menyerah.
Salam organik. Salam petani berdaya. Dari lereng gunung untuk Indonesia yang lebih sehat dan lebih sejahtera. (Rochmad Taufiq,)












