Jurnaljatengdiynews.com. Kudus, Senin (29/06/2026) – Semangat membangun pertanian yang sehat, mandiri, dan ramah lingkungan terus tumbuh di kalangan pegiat organik. Lebih dari 30 pegiat pertanian organik yang tergabung dalam Kelompok Petani Persaudaraan Pati Raya di bawah koordinasi Koperasi Karya Kita Jaya mengikuti workshop dan diskusi bertema “Pola Organik dalam Upaya Penyelamatan Bumi.”
Kegiatan ini diselenggarakan di Resto Kirana, Peganjaran, Jalan Lingkar Kudus. Menariknya, lokasi tersebut sebelumnya merupakan bekas lapangan futsal yang kini telah disulap menjadi kawasan resto, edukasi wisata, sekaligus pusat oleh-oleh khas Kudus yang modern dan sangat lengkap. Suasana yang nyaman dan asri menjadi tempat yang tepat untuk berbagi ilmu, mempererat silaturahmi, sekaligus membangun semangat kolaborasi para pegiat pertanian organik.
Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Idul Yatama serta menyambut Hari Tani Nasional, sebagai momentum untuk meneguhkan komitmen dalam membangun kemandirian pangan dan menjaga kelestarian lingkungan melalui pertanian organik.
Hadir sebagai mentor Rochmad Taufiq, Alumnus BSM Angkatan 37 sekaligus Koordinator Pondok Literasi Alam BG Farm Kudus, bersama Mr. Shireng, Alumnus BSM Angkatan 40.
Dalam pemaparannya, Rochmad Taufiq menegaskan bahwa keberhasilan bertani organik tidak hanya ditentukan oleh modal, tetapi lebih pada karakter pelakunya.
«”Kunci sukses bertani organik adalah konsisten, tekun, setia, disiplin, dan bertanggung jawab. Jika ikhtiar dilakukan secara istiqamah serta mengikuti SOP yang telah terbukti, maka peluang keberhasilan sudah ada di depan mata,” ungkapnya.»
Sebagai bukti nyata, Taufiq menyampaikan kisah inspiratif Aman Surya, Alumnus BSM Angkatan 41 sekaligus Ketua Koperasi Karya Kita Jaya. Berawal dari hanya 10 ekor ayam betina dan 1 ekor ayam jantan, dalam waktu sekitar delapan bulan usahanya berkembang menjadi ratusan ekor ayam Kuntara yang sehat dan produktif berkat kedisiplinan menjalankan SOP peternakan organik.
Menurut Taufiq, salah satu filosofi utama pertanian organik adalah bahwa alam telah menyediakan hampir semua kebutuhan bagi kehidupan.
«”Dalam pertanian organik hampir tidak ada limbah. Apa yang ada di sekitar tanaman sejatinya dapat menjadi nutrisi maupun obat bagi tanaman dan ternak. Telur busuk dapat difermentasi bersama air kelapa dan gula menjadi nutrisi alami. Rumput di sekitar lahan dapat dimanfaatkan sebagai mulsa dan bahan pupuk organik. Jika kita mau belajar dari alam, maka alam akan mengajarkan banyak solusi,” jelasnya.»
Workshop berlangsung sangat interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi yang berkembang mengenai pembuatan pupuk organik, probiotik, nutrisi tanaman, peternakan terpadu, hingga strategi membangun usaha pertanian yang berkelanjutan. Peserta berasal dari berbagai daerah, di antaranya Blora, Rembang, Kudus, Pati, dan Jepara.
Melalui kegiatan ini diharapkan lahir semakin banyak petani organik yang mampu memanfaatkan sumber daya lokal, mengurangi ketergantungan pada bahan kimia, serta membangun kemandirian pangan berbasis potensi desa.
Semangat kebersamaan yang terbangun dalam workshop ini menjadi bukti bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah sederhana, yaitu belajar, berbagi ilmu, mengolah limbah menjadi berkah, dan menerapkan pertanian organik secara konsisten. Dari Pati Raya diharapkan lahir gerakan yang semakin luas untuk mewujudkan pertanian yang sehat, masyarakat yang sejahtera, dan bumi yang lestari.
Salam Satu Bumi. Go Green. Jaga Bumi, Lestarikan Alam. (Rochmad Taufiq -untuk Kudus)












