Jurnaljatengdiynews.com. Bandongan, Magelang – 10 Juni 2026 Senja perlahan turun di lereng Gunung Sumbing. Angin pegunungan berembus lembut menyapu hamparan hijau yang membentang di kawasan Bandongan, Magelang. Di tempat yang teduh dan penuh ketenangan itu berlangsung sebuah perjumpaan sederhana namun sarat makna; sebuah Dialog Gong Jinagong, perbincangan hangat yang mempertemukan para sahabat yang dipersatukan oleh kepedulian terhadap ekologi, pertanian, dan masa depan pangan bangsa.
Pertemuan tersebut mempertemukan Rochmad Taufiq dengan Ustadz Noerjoso bersama istri Siti Nuraini, pasangan pegiat ekologi dan pangan dari Bandongan. Noerjoso dikenal sebagai pemilik Global Toserba sekaligus penggiat Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah Kabupaten Magelang yang selama ini aktif mendorong penguatan ekonomi dan kemandirian masyarakat berbasis potensi lokal.
Lebih dari sekadar silaturahim, pertemuan ini menjadi ruang bertukar gagasan tentang bagaimana membangun masa depan yang lebih lestari melalui pertanian organik, pelestarian benih lokal, dan penguatan ekosistem pangan Nusantara.
Di tengah obrolan yang mengalir hangat, para sahabat sepakat bahwa tantangan terbesar pertanian hari ini bukan hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan melestarikan keragaman hayati yang diwariskan para leluhur.
Salah satu isu yang menjadi perhatian bersama adalah semakin langkanya berbagai benih pangan lokal yang dahulu menjadi penyangga ketahanan pangan masyarakat Indonesia. Jagung lokal, koro pedang, kacang gude, suweg, garut, ganyong, dan beragam tanaman pangan tradisional lainnya perlahan mulai tergeser oleh komoditas yang lebih populer secara pasar. Padahal tanaman-tanaman tersebut menyimpan kekayaan genetik, nilai budaya, sekaligus daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan Indonesia.
Sebagai simbol komitmen menjaga warisan pangan Nusantara, dalam kesempatan tersebut dilakukan pertukaran benih Koro Pedang dan Jagung Madura dengan bibit Lidah Buaya. Sebuah simbol sederhana yang mengandung pesan besar bahwa masa depan pangan bangsa tidak boleh tercerabut dari akar sejarah, budaya, dan kearifan lokalnya.
Diskusi kemudian berkembang pada konsep Integrated Farming, yaitu sistem pertanian yang memadukan berbagai unsur kehidupan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Pertanian dipandang bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga sarana membangun peradaban yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.
Noerjoso juga berbagi pengalaman mengembangkan bawang merah organik menggunakan galon bekas sebagai media tanam. Dengan memanfaatkan arang kayu, arang sekam, humus dari bawah rumpun bambu, serta pupuk kandang kambing yang telah difermentasi, beliau menunjukkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu membutuhkan biaya besar. Sering kali solusi terbaik justru lahir dari kedekatan manusia dengan alam dan kemampuannya memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar.
Dalam pembahasan pemasaran, terbuka pula peluang sinergi yang cukup strategis. Jaringan usaha yang dimiliki beliau berpotensi menjadi mitra pemasaran produk-produk pertanian organik apabila mampu memenuhi standar kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan yang dibutuhkan pasar.
Namun sesungguhnya, nilai terbesar dari pertemuan sore itu bukanlah peluang ekonomi yang terbuka, melainkan tumbuhnya kesadaran bersama bahwa ekologi dan ekonomi tidak boleh dipisahkan. Pertanian yang baik adalah pertanian yang menyejahterakan manusia sekaligus memuliakan alam.
Di lereng Gunung Sumbing yang teduh, dua keluarga sahabat berbincang tentang benih, tanah, air, dan masa depan. Sebuah dialog sederhana yang mengingatkan bahwa kebangkitan bangsa sering kali berawal dari percakapan-percakapan kecil yang penuh ketulusan dan kepedulian.
Karena sesungguhnya, menjaga benih lokal bukan hanya menjaga tanaman. Ia adalah upaya menjaga ingatan kolektif bangsa, menjaga kedaulatan pangan, menjaga keanekaragaman hayati, dan menjaga warisan yang kelak akan dititipkan kepada generasi mendatang.
Dari Gong Jinagong di lereng Sumbing, tumbuh harapan bahwa pertanian organik, kearifan lokal, semangat gotong royong, dan persahabatan antarsesama pejuang pangan akan menjadi fondasi lahirnya Indonesia yang lebih mandiri, lestari, dan sejahtera.
“Ketika manusia kembali bersahabat dengan alam, maka alam akan menghadiahkan kehidupan yang berkelanjutan. Ketika benih lokal dijaga, sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan bangsa.” (Rochmad Taufiq)












