Jurnaljatengdiynews.com. Magelang – Ahad, 26 April 2026. Suasana tak biasa menggeliat di kawasan Bandongan pagi ini. Sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, pendopo Ustadz Noeryoso dipadati para aktivis Wanita Tani Aisyiyah, bapak-bapak Muhammadiyah, serta para santri yang ikut larut dalam diskusi penuh inspirasi dan semangat perubahan.
Acara yang awalnya sekadar kumpul bareng ini berubah menjadi forum strategis yang membuka wawasan baru tentang pertanian terintegrasi berbasis rumah tangga. Salah satu ide yang paling menyita perhatian adalah pemanfaatan galon bekas sebagai media tanam bawang merah—solusi kreatif, hemat biaya, dan ramah lingkungan yang langsung disambut antusias peserta.
Tak berhenti di situ, suasana semakin hidup saat dibahas koro pedang, komoditas lokal yang mulai dilirik kembali. Selain bernilai gizi tinggi, koro pedang disebut bisa diolah menjadi kue hingga tempe, membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan para santri. Mereka tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran menuju santri mandiri berbasis pertanian. Harapannya, generasi muda ini mampu mengembangkan kemandirian ekonomi dari sektor tani.
Diskusi juga menyoroti kekhawatiran atas semakin langkanya tanaman lokal seperti gembili, uwi, dan kacang gude. Para peserta sepakat pentingnya gerakan pelestarian dengan prinsip “tanam sekali, panen berkali-kali”, sebagai upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus warisan hayati.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa ibu-ibu pun bisa jadi motor penggerak kemandirian pangan keluarga, cukup dari pekarangan rumah sendiri.
Sebagai penutup, suasana hangat semakin terasa saat seluruh peserta menikmati hidangan khas berupa nasi megono dan minuman serai gula aren, menutup pertemuan dengan kebersamaan dan semangat baru.
Bandongan hari ini tidak hanya berkumpul—tapi bergerak menuju kemandirian!(Rochmad Taufiq-Untuk Magelang)












