Jurnaljatengdiynews.com. Hongkong, Jumat 13/03/26. Tidak sedikit saudara kita yang harus meninggalkan kampung halaman, orang tua, suami, istri, bahkan anak-anak yang masih kecil demi bekerja di negeri orang. Menjadi TKI atau TKW bukanlah jalan yang mudah. Ada rindu yang sering tertahan, ada lelah yang kadang tidak bisa diceritakan, dan ada air mata yang hanya menjadi saksi dalam kesendirian.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sangat mulia: perjuangan. Perjuangan untuk memperbaiki kehidupan keluarga, menyekolahkan anak-anak, dan menata masa depan yang lebih baik.
Salah satu kisah inspiratif datang dari seorang TKW asal Jawa timur bernama Mbak bujga. Ia adalah sosok pejuang, pembelajar, sekaligus insan kreatif di tanah rantau. Bekerja di Hong Kong tidak membuatnya hanya fokus mencari nafkah semata. Di tengah kesibukannya, ia justru menjadi penggerak kebaikan bagi sesama TKW.
Di mana pun ia tinggal, Mbak Bunga berusaha menghadirkan kegiatan ngaji dan tahsin. Ia membentuk komunitas ngaji yang ia pimpin sendiri. Anggotanya bukan hanya para TKW biasa, tetapi juga mereka yang sebelumnya jauh dari kehidupan religius. Bahkan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ia mampu merangkul beberapa TKW yang memiliki latar belakang kehidupan yang rumit, termasuk yang pernah terjerumus dalam hubungan menyimpang.
Dengan pendekatan sebagai sahabat sekaligus seperti seorang ibu, ia mengajak mereka kembali kepada jalan yang lebih baik melalui ngaji, tahsin, dan sholawat. Sedikit demi sedikit hati mereka tersentuh dan mulai berubah. Inilah bukti bahwa di tanah rantau pun, dakwah bisa tumbuh dengan kelembutan hati.
Di sisi lain, Mbak Bunga juga dikenal sebagai sosok yang kreatif dan produktif. Ia tidak menyia-nyiakan waktu luangnya. Dari dapur sederhana, ia mulai berjualan donat, kue, dan camilan khas Indonesia yang dirindukan para pekerja migran. Usaha kecil itu berkembang hingga suatu hari bisa mencapai omzet sekitar jutaan rupiah dalam sehari, sehingga bisa dibilang dari usaha itu sebulan penghasilannya bisa lebih dari gaji seorang tkw.
Semangat belajarnya juga luar biasa. Dari majikan tempat ia bekerja, ia pernah melihat bagaimana sang majikan memantau usaha restoran miliknya hanya melalui ponsel. Dari situ ia belajar tentang manajemen usaha jarak jauh.
Ilmu itu tidak ia simpan sendiri. Ia mempraktikkannya dengan membuka toko kelontong di desa di Indonesia, yang ia pantau dari Hong Kong. Luar biasanya, dalam masa tiga tahun toko tersebut bisa mencapai omzet puluhan juta rupiah per hari.
Tidak berhenti di situ. Melalui YouTube, ia belajar tentang budidaya melon sistem greenhouse. Bersama keluarganya di kampung, ia membangun 15 greenhouse melon yang juga bisa ia pantau dari Hong Kong melalui CCTV.
Semua itu menunjukkan bahwa bekerja di luar negeri tidak harus berhenti pada kiriman uang bulanan. Jika disertai kemauan belajar, kreativitas, dan niat berbagi, masa merantau justru bisa menjadi sekolah kehidupan dan sekolah usaha.
Kini Mbak Bunga masih terus belajar dan mengembangkan diri. Ia mulai menekuni pertanian dan peternakan ayam atau nabung ayam dan usaha pabrik pakan ternak, mencari terobosan agar kelak bisa semakin banyak memberi manfaat bagi orang lain.
Kisah Mbak Bunga mengajarkan kita satu hal penting,
Merantau bukan sekadar bekerja, tetapi juga belajar, berbagi, dan menyiapkan masa depan.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi para pejuang rantau di mana pun berada. Bahwa dari air mata di negeri orang, bisa lahir harapan besar di tanah sendiri.
Dan semoga suatu hari nanti semakin banyak cerita seperti ini,
“Dulu ia seorang TKW di negeri orang, kini ia menjadi pengusaha yang memberi manfaat bagi banyak orang di kampungnya.”
(Rochmad Taufiq Untuk Indonesia)













