Jurnaljatengdiynews.com- Kudus, 25 Agustus 202— Sore itu, suasana kampus UIN Sunan Kudus terasa berbeda. Di antara hiruk pikuk mahasiswa baru, ada seorang dosen hukum syariah yang diam-diam membuat keputusan besar dalam hidupnya. Dialah Dr. Carto Nuryanto, seorang akademisi sekaligus pegiat sosial yang dikenal sederhana, tenang, dan penuh semangat dalam membela perjuangan Islam.
Selama ini, Dr. Carto memiliki benda kesayangan: sebuah sepeda antik yang penuh kenangan. Sepeda itu dibelinya pada tahun 2006, saat beliau menjabat sebagai Waka Polres Pati, dan sejak itu selalu menemaninya bersepeda bersama Muspida Pati. Sepeda itu bukan sekadar kendaraan, tapi saksi perjalanan panjang penuh makna.
Namun, hari itu, dengan senyum penuh ketulusan, beliau rela melepas sepeda antiknya — menjualnya dengan harga murah, jauh di bawah nilai sebenarnya.
Bukan karena butuh uang.
Bukan karena ingin pamer derma.
Melainkan karena satu niat suci: wakaf tunai dua ekor domba untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi masjid, yatim, dan pegiat sosial.
Sumber Inspirasi: Jejak Para Sahabat Nabi ﷺ
Keputusan besar ini bukan tanpa alasan. Dr. Carto sudah lama rajin membaca sejarah para sahabat Nabi ﷺ. Setiap lembar kisah menumbuhkan keyakinan dalam hatinya, bahwa harta terbaik adalah yang diberikan untuk perjuangan Islam.
Beliau terinspirasi dari kisah-kisah sahabat Nabi ﷺ, di antaranya:
- Abu Thalhah al-Anshari — menyedekahkan kebun kesayangannya Bairuha karena Allah ﷻ (QS. Ali Imran: 92).
- Utsman bin Affan — mengorbankan 100 unta lengkap peralatannya untuk mendukung pasukan Islam pada Perang Tabuk.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq — menyerahkan seluruh hartanya demi dakwah Rasulullah ﷺ.
- Sa’ad bin Abi Waqqash — menjual kambing kesayangannya untuk disedekahkan di jalan Allah.
Setiap kisah membuat Dr. Carto semakin yakin bahwa cinta kepada Allah lebih tinggi daripada cinta pada harta dan benda kesayangan.
Niat yang Dikabulkan
Keinginan ini sebenarnya sudah lama beliau pendam. Dalam setiap doanya, Dr. Carto memohon agar Allah ﷻ memberi jalan untuk bisa ikut serta dalam perjuangan Islam melalui sedekah dan wakaf.
Alhamdulillah, hari ini niat itu dikabulkan. Bersama kolega sekaligus sahabatnya, Pak Subakir, seorang pensiunan PNS Dinas LH Kudus berusia 63 tahun yang memiliki dua putri, Dr. Carto mantap melangkah.
Pak Subakir membeli sepeda antik itu bukan karena hobi koleksi, tetapi karena ingin ikut bersedekah dan berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi umat.
Sebuah sinergi kebaikan pun tercipta:
- Sepeda berpindah tangan dengan niat ibadah.
- Dana dari penjualan sepeda diwakafkan untuk membeli dua ekor domba.
- Domba tersebut akan digunakan untuk pemberdayaan ekonomi masjid dan pegiat sosial
Langkah Kecil, Cita-Cita Besar
Tak berhenti di sini, Dr. Carto dan Pak Subakir bertekad membuat gerakan kecil namun berkelanjutan:
“Kalau Allah beri rezeki setiap bulan, kami ingin menyisihkan sebagian harta untuk wakaf seekor domba atau ayam. Semoga setiap tetes keringat dan rupiah menjadi bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ.”
Apa yang mereka lakukan adalah meneladani jejak para sahabat Nabi ﷺ. Mereka yakin pada sabda Rasulullah ﷺ:
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)
Pelajaran Berharga
Dari kisah Dr. Carto, kita belajar:
- Harta terbaik adalah yang disedekahkan — terutama yang paling kita cintai.
- Perjuangan Islam butuh amwal wal anfus — harta dan jiwa, sebagaimana dicontohkan para sahabat.
- Niat yang tulus akan dimudahkan Allah — sebagaimana sepeda antik itu menjadi jalan lahirnya wakaf.
- Sedekah melahirkan keberkahan — bukan hanya bagi pemberi, tetapi juga bagi penerima dan lingkungan sekitar.
Dr. Carto membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Terkadang, ia dimulai dari satu sepeda antik…
yang berubah menjadi dua ekor domba…
dan insyaAllah, akan berlanjut menjadi gerakan ekonomi umat. (Rochmad Taufiq)