Jurnaljatengdiynews.com. Semarang — Di tengah padatnya Kota Semarang, berdiri sebuah kawasan hijau yang menjadi inspirasi banyak orang. Bulusan Edu Park (BEP) di Tembalang bukan sekadar kebun organik, tetapi sebuah laboratorium hidup yang membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan dapat tumbuh subur di tengah perkotaan.
Di bawah kepemimpinan AKBP Restiana Pasaribu dan dengan pendampingan serta bimbingan praktisi pertanian organik Guntoro Soewarno, kawasan ini berkembang menjadi model pertanian organik terpadu yang menghubungkan pengelolaan sampah, peternakan, dan budidaya tanaman dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Lebih dari satu ton sampah organik setiap bulan diolah menjadi kompos, media tanam, pakan ternak, hingga budidaya maggot. Tidak ada yang berakhir di TPA. Semua kembali menjadi sumber kehidupan.
Yang lebih menginspirasi, lahan bekas galian C yang dahulu tandus kini berubah menjadi hamparan hijau yang produktif. Sayuran, buah-buahan, ayam kampung, mentok, kambing, hingga ikan tumbuh dalam sistem pertanian organik yang terintegrasi.
Menurut Guntoro Soewarno, keberhasilan Bulusan Edu Park tidak hanya terletak pada hasil panennya, tetapi pada komitmen untuk membangun “Pertanian Teratur dan Seimbang.” Konsep ini mengedepankan pertanian yang semakin efisien, yaitu bertani tanpa banyak mengolah tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk, lebih hemat air, serta mampu menjaga keseimbangan ekosistem sehingga tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit.
“Kunci utamanya adalah konsistensi. Pertanian organik tidak dibangun dalam semalam, tetapi melalui komitmen yang terus dijaga,” ungkapnya.
Keberhasilan Bulusan Edu Park bahkan mendapat perhatian dari Menteri Lingkungan Hidup yang menilai kawasan ini layak menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan sampah organik dan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Harapannya, model seperti Bulusan Edu Park dapat tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Ketika setiap kota memiliki pusat edukasi lingkungan dan pertanian organik terpadu, maka pengelolaan sampah, ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.
Bulusan Edu Park telah membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan ilmu, ketekunan, dan konsistensi. Dari tengah kota Semarang, lahirlah sebuah harapan baru: Indonesia yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih mandiri melalui pertanian organik. (Rochmad Taufiq/ jurnalis organik Pondok literasi alam BG farm )












