Jurnaljatengfiynews.com . MAGELANG — Dari Bandongan, Magelang, tumbuh sebuah ikhtiar untuk menghidupkan perekonomian masyarakat melalui pertanian berbasis kearifan lokal.c Ustaz Noeryoso, pelopor Giat Perekonomian Muhammadiyah Bandongan, terus mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.
Salah satu gerakan yang dikembangkan adalah melestarikan tanaman dan benih pangan lokal yang mulai jarang dibudidayakan. Di antaranya jagung Madura, gembili, ganyong, gude, koro pedang, hingga pare belut.
Bagi Ustaz Noeryoso, pertanian bukan hanya persoalan menghasilkan panen, tetapi juga bagian dari membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat.
“Kita perlu kembali mengenal dan menanam tanaman lokal. Jangan sampai kekayaan benih yang diwariskan para leluhur hilang karena kita tidak lagi menanamnya,” ujar Ustaz Noeryoso.
Menurutnya, benih merupakan bagian penting dari kedaulatan petani. Benih yang dapat disimpan dan ditanam kembali memberi ruang bagi petani untuk terus mengembangkan sumber pangan secara mandiri.
Karena itu, pelestarian tanaman lokal menjadi salah satu bentuk perjuangan untuk menjaga keberagaman hayati sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber benih tertentu.
Ekonomi Muhammadiyah dari Tanah dan Benih
Gerakan tersebut sejalan dengan semangat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Lahan tidak hanya dipandang sebagai tempat produksi, tetapi juga sebagai sumber pendidikan, penghidupan, dan penguatan ekonomi keluarga.
Dari tanaman yang sederhana, masyarakat dapat belajar tentang pembibitan, budidaya, pengolahan hasil, pemasaran hingga membangun usaha bersama.
“Kita tidak anti terhadap kemajuan teknologi. Tetapi teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kemandirian masyarakat, bukan membuat kita kehilangan pengetahuan dan kekayaan benih lokal,” tuturnya.
Bagi Ustaz Noeryoso, perjuangan membangun ekonomi tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Bisa dimulai dari sepetak tanah, sebutir benih, kemauan untuk menanam, dan kemauan untuk bekerja bersama.
Dari Bandongan, semangat itu terus dirawat: menghidupkan tanah, menghidupkan benih, menghidupkan ekonomi, dan pada akhirnya menghidupkan kemandirian masyarakat.
Sebab, ketika masyarakat mampu menghasilkan pangan dari tanahnya sendiri, menjaga benihnya sendiri, mengolah hasilnya sendiri, dan memasarkannya secara bersama, maka pertanian tidak sekadar menjadi kegiatan produksi.
Pertanian menjadi jalan menuju kemandirian dan keberkahan ekonomi masyarakat. (Rochmad Taufiq)












