Jurnaljatengdiynews.com .KUDUS — Sabtu 19/09/26 Kesuksesan tidak selalu tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Prinsip inilah yang terus dipraktikkan Dr. Carto Nuryanto melalui kegiatan Jumat Berkah dengan berbagi sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bagi Dr. Carto, berbagi merupakan bentuk nyata dari pesan Rasulullah SAW, “Khairunnas anfa’uhum linnas” — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Menurutnya, menjadi pribadi yang bermanfaat tidak cukup hanya dengan niat, tetapi harus diwujudkan menjadi kebiasaan dan gerakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
“Ini adalah praktik riil orang sukses dalam menyiapkan wadah. Semakin besar wadah yang disiapkan, semakin besar peluang sukses yang akan diraih. Salah satunya adalah berbagi melalui Jumat Berkah, berupa sembako kepada mereka yang membutuhkan,” terang Dr. Carto.
Ia menegaskan, ukuran kebaikan bukan semata-mata pada besar kecilnya nilai bantuan. Bahkan berbagi beras sekalipun, apabila dilakukan dengan keikhlasan dan istiqamah, dapat menjadi bagian dari gerakan kebaikan yang memiliki dampak luas.
Menariknya, pelaksanaan berbagi tidak harus selalu tepat pada hari Jumat. Ketika kondisi memungkinkan kegiatan dilakukan pada Sabtu, yang terpenting adalah niat dan azam untuk berbagi telah ditanamkan sejak Jumat.
“Hari boleh Sabtu, namun azam dan niat sudah diikrarkan hari Jumat untuk berbagi. Insya Allah setiap hari Jumat atau Sabtu akan terus berbagi, walaupun hanya berupa beras, telor dan Indomie, teh celup,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Berbagi, tetapi Menyiapkan Wadah Manfaat
Konsep “menyiapkan wadah” yang disampaikan Dr. Carto menjadi pesan penting. Wadah dalam konteks ini bukan sekadar tempat untuk menampung sesuatu, tetapi gambaran tentang seberapa besar ruang yang disiapkan seseorang untuk menerima amanah, berbuat baik, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Semakin luas ruang kebaikan yang disiapkan, semakin banyak pula orang yang dapat merasakan manfaatnya.
Dari berbagi beras, sembako, ilmu, tenaga, hingga membuka akses dan kesempatan bagi orang lain, semuanya dapat menjadi bagian dari amal sosial yang terus mengalir.
Jumat Berkah akhirnya bukan sekadar agenda berbagi, melainkan sebuah latihan istiqamah untuk membangun karakter manusia yang peduli dan bermanfaat.
Pesannya sederhana, jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Mulailah berbagi dari apa yang ada, karena keberkahan tidak selalu datang dari banyaknya yang kita miliki, tetapi juga dari banyaknya manfaat yang kita berikan.
Dengan semangat khairunnas anfa’uhum linnas, Dr. Carto berharap kebiasaan kecil tersebut dapat tumbuh menjadi gerakan kebaikan yang lebih luas.
Sebab, ketika kita menyiapkan wadah untuk kebaikan, sesungguhnya kita sedang menyiapkan ruang bagi datangnya keberkahan. ( Rochmad Taufiq)












