Jurnaljatengdiynew.com. Magelang, Kadipolo Salam — Semangat menyambung tali shilaturahim sekaligus menguatkan kebermanfaatan umat kembali diwujudkan oleh kru CSJ Peduli dalam kegiatan bertajuk “Shilaturahim Middle Up, Angkraketaken Roso Kekadangan” pada Senin, 11 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi kunjungan lanjutan penuh kehangatan antara kru CSJ Peduli bersama tim admin, yakni Rochmad Taufiq dan Annisa, dalam upaya memperkuat dakwah pangan, pertanian terintegrasi, serta pemberdayaan ekonomi berbasis keberkahan.
Sebelum kegiatan lapangan dimulai, Rochmad Taufiq memberikan arahan, motivasi, dan penguatan kepada tim admin An bisa. Dalam kesempatan tersebut, beliau menegaskan bahwa CSJ Peduli terus berkomitmen melakukan pendampingan nyata kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan pertanian alami dan gerakan ekonomi umat yang berkelanjutan.
Salah satu program yang saat ini tengah mendapat pendampingan adalah budidaya Nabung Pisang jenis Kepok Tanjung milik PCM Muhammadiyah Salam yang dipimpin Doktor Yusron Masduki, dosen UAD yang dikenal aktif dan istiqamah mengembangkan pertanian alami dan terintegrasi.
Di atas lahan kurang lebih 3.000 meter persegi di Desa Salam Kadipolo Wetan, Kecamatan Salam, saat ini tumbuh sekitar 300–350 pohon pisang Kepok Tanjung dengan pola tumpangsari dengan tanaman talas. Dalam kunjungan tersebut, kang Taufiq turut melakukan treatment perawatan berupa pemangkasan klaras ( red: daun pisang kering) pisang dan pembersihan gulma di sekitar tanaman agar pertumbuhan lebih optimal dan sehat.
Usai kegiatan lapangan, rombongan melanjutkan shilaturahim ke kediaman Doktor Yusron di Kadipolo Wetan. Selain ikut mendoakan keberangkatan beliau menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, pertemuan tersebut juga diisi diskusi hangat seputar pengembangan pertanian rumah tangga dan dakwah ketahanan pangan.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, Doktor Yusron berbagi pengalaman tentang budidaya bawang merah organik skala rumah tangga menggunakan galon bekas yang tengah digalakkan PCM Salam bersama warga dan ibu-ibu ‘Aisyiyah.
Program sederhana namun inspiratif tersebut dinilai sangat memungkinkan diterapkan di lingkungan ranting maupun keluarga. Dari hasil uji coba, satu galon yang ditanami empat rumpun bawang mampu menghasilkan sekitar 250 gram bawang merah. Dengan demikian, untuk memperoleh sekitar satu kilogram bawang diperlukan sekitar 4–5 galon tanam.
“Jika nanti ada ratusan galon yang dikelola bersama, insyaAllah hasil panennya dapat membantu kebutuhan bawang merah keluarga sekaligus memperkuat ketahanan pangan umat,” terang Doktor Yusron.
Dalam kesempatan itu, Rochmad Taufiq turut menambahkan masukan terkait treatment pemupukan alami. Ia menyarankan penggunaan air leri yang difermentasi selama tiga hari untuk disiramkan setiap lima hari sekali guna membantu pertumbuhan tanaman bawang.
“InsyaAllah dengan tambahan air leri fermentasi, hasil panennya bisa lebih bagus dan tanah menjadi semakin subur,” terang Kang Taufiq.
Selain membahas pertanian, diskusi juga menguatkan gagasan sedekah dan infaq dari hasil panen pisang. Doktor Yusron menyampaikan bahwa dirinya memiliki azam agar setiap panen pisang dapat menghadirkan manfaat sosial bagi masyarakat.
“InsyaAllah setiap panen satu pohon akan kami sisihkan untuk sedekah. Minimal satu atau dua sisir untuk kegiatan sosial,” ungkap beliau.
Menurut perhitungan sederhana, apabila terdapat 400 hingga 800 pohon milik warga Muhammadiyah yang panen bersamaan dan setiap pohon menyisihkan satu sisir senilai Rp10.000, maka potensi sedekah sosial yang terkumpul dapat mencapai jutaan rupiah untuk membantu kegiatan umat.
Gagasan tersebut rencananya akan terus disuarakan dalam berbagai mimbar dakwah, baik di masjid, sekolah, maupun kampus agar semangat berbagi tumbuh dari hasil bumi dan pertanian masyarakat.
Sementara itu, pihak CSJ Peduli juga siap memperluas jangkauan program melalui pendampingan budidaya, treatment pertanian, serta penguatan jejaring masyarakat agar gerakan Nabung Pisang dan ketahanan pangan keluarga semakin berkembang di berbagai wilayah.
Semangat kebersamaan, pertanian keberkahan, dan sedekah dari hasil bumi menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya hadir melalui lisan, tetapi juga tumbuh dari langkah sederhana yang membumi, produktif, dan penuh kepedulian sosial.
(Rochmad Taufiq — untuk Magelang)












