Jurnaljatengdiynews.vim. Kudus, 09/05/26 PTS Muria Raya kembali menggelar kegiatan Skill Up Pertanian Organik yang menghadirkan praktisi pertanian alami dan ramah lingkungan, Guntoro Soewarno, Sabtu malam (09/05/2026) di Resto Ulamsari.
Kegiatan ini diikuti para petani, pegiat pangan, dan pengusaha pertanian dari berbagai daerah di Muria Raya. Acara berlangsung hangat dan penuh antusias karena membahas teknologi pertanian organik sederhana namun dinilai mampu meningkatkan produktivitas hingga 200–300 persen dengan penghematan air mencapai 70 persen.
Dalam pemaparannya, Guntoro Soewarno menjelaskan konsep pertanian masa depan yang berfokus pada “menghidupkan tanah” melalui mikroba alami.
“Pemicu awal kehidupan tanah adalah mikroba, dan mikroba paling mudah dihidupkan menggunakan air leri fermentasi,” jelasnya.
Teknik yang diajarkan dimulai dengan menyiram tanah menggunakan air leri yang difermentasi selama tiga hari, kemudian tanah ditutup menggunakan mulsa alami berupa rumput maupun daun kering setebal sekitar 10 cm. Metode ini terbukti mampu menjaga kelembaban tanah secara optimal dan mengurangi kebutuhan air secara drastis.
Selain itu, peserta juga dikenalkan pada sistem tanpa pupuk kimia melalui pemanfaatan sampah organik dan teknologi pipa pralon dalam bedengan. Pipa berlubang yang ditanam di tanah berfungsi mengundang cacing alami untuk berkembang biak dan menghasilkan kascing berkualitas tinggi sebagai sumber unsur hara N, P, dan K alami.
Menurut narasumber, keseimbangan ekosistem tanah menjadi kunci utama keberhasilan pertanian organik.
“Hama muncul karena tanah mati, terlalu asam, dan bibit kurang sehat. Maka tanaman harus didampingi tanaman pengusir hama seperti bunga matahari, sereh, kemangi, dan seledri,” terangnya.
Menariknya, peserta juga mendapatkan wawasan baru tentang peternakan ayam kampung alami berbasis pakan maggot dan belatung organik dari limbah rumah tangga yang difermentasi menggunakan air leri.
Korwil PTS Muria Raya, M. Setiawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga ajang memperkuat jejaring dan kolaborasi ekonomi antarpetani.
“Pertanian bukan hanya soal menanam, tetapi bagaimana membangun kemandirian pangan, kemitraan usaha, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Acara yang dihadiri lebih dari 20 peserta tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya gerakan pertanian organik berbasis mikroba dan ekosistem alami di wilayah Muria Raya.
🌾 Dari tanah yang hidup, lahirlah pangan sehat dan masa depan pertanian yang berdaulat.(Rochmad Taufiq- Untuk Kudus)












