Jurnaljatengdiynews.com. Demak, 15/03/26. Di balik dunia jurnalistik yang sering terlihat penuh dinamika dan sorotan publik, tidak semua jurnalis selalu berada dalam kondisi mapan. Ada kalanya perjalanan hidup membawa mereka pada fase yang menguji kesabaran, kemandirian, dan keteguhan hati.
Salah satu kisah datang dari seorang jurnalis sebut namanya Ronggolawe asal Semarang yang memilih tetap bergerak di bidang ekonomi riil ketika aktivitas liputan sedang tidak berjalan seperti biasanya. Selama hampir dua tahun, ia menjalani kehidupan sederhana dengan berjualan kerupuk menggunakan sepeda ontel.
Bagi sebagian orang, langkah itu mungkin dianggap turun kelas. Tidak sedikit pula yang melontarkan hinaan dan cemoohan, bahkan dari kalangan yang sebelumnya mengenalnya di dunia media.
Namun baginya, bekerja dengan tangan sendiri adalah bentuk menjaga martabat. “Diam bukan berarti tidak mampu, berdiri bukan berarti tidak bisa,” ungkapnya.
Hari-hari dijalani dengan sederhana. Mengayuh sepeda ontel dari kampung ke kampung, menjual kerupuk sambil tetap menjaga semangat hidup. Dalam kondisi seperti itulah ia justru menemukan banyak pelajaran berharga tentang ketulusan, persahabatan, dan arti rezeki.
Suatu waktu, percakapan ringan dengan sahabatnya sempat diselingi candaan tentang “THR liputan” yang ternyata hanya berupa pulsa sepuluh ribu rupiah. Meski kecil, candaan itu menjadi pengingat bahwa sesuatu yang terlihat sepele kadang terasa sangat berarti ketika sedang dibutuhkan.
Menariknya, ketika ia mulai menjalani hidup dengan lebih lapang dan ikhlas, pertolongan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Seorang teman memberikan sepeda motor secara cuma-cuma. Ketika ia mencoba meminjam uang dua juta rupiah kepada seseorang, ternyata benar-benar diberikan, bahkan ditambah lagi sebagai bentuk kepedulian.
Bagi jurnalis tersebut, pengalaman hidup ini menjadi pelajaran penting bahwa profesi menulis dan bergerak di lapangan tidak harus terpisah dari aktivitas ekonomi riil. Justru dari kehidupan sederhana itulah ia memahami kondisi masyarakat secara lebih dekat.
“Kadang rezeki datang seperti tamu yang tidak kita duga. Ujuk-ujuk datang… mak jegagik,” ujarnya sambil tersenyum.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia jurnalistik, integritas tidak hanya diuji melalui tulisan, tetapi juga melalui keteguhan menghadapi kehidupan. Ketika seseorang tetap mau bekerja dengan jujur, sekecil apa pun usahanya, di situlah nilai kemuliaan sering kali lahir.
Dan pada akhirnya, seperti yang ia yakini, rezeki memang tidak selalu datang dari arah yang direncanakan. Namun selama hati tetap ikhlas dan langkah terus berjalan, kehidupan selalu menemukan jalannya sendiri. (Taufiq untuk Indonesia)













