Jurnaljatengdiynews com-Rembang – Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan kembali terasa hangat dalam kegiatan Safari Ramadhan dan silaturahim yang dilakukan komunitas pengajian Bunda An-Nida Kabupaten Rembang ke LKSA An-Naba Pandean, Rembang, Jumat (6/3/2026). Kegiatan ini menjadi wujud nyata mengamalkan pesan Rasulullah SAW, “Khoirunnas anfa’uhum linnas” – sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Kegiatan silaturahim ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Pandean Kusriyanto serta tokoh masyarakat yang akrab disapa Mbah Modin, yang selama ini aktif mendampingi berbagai kegiatan pemberdayaan di desa.
An-Nida, yang secara bahasa berarti seruan atau panggilan, lahir dari semangat mengajak sesama menuju jalan yang lurus, yakni jalan Tuhan. Komunitas pengajian ini sudah berdiri cukup lama dan hingga kini tetap eksis menjalankan kegiatan kajian rutin, silaturahim, serta berbagai aksi sosial.
Menariknya, komunitas ini berawal dari obrolan sederhana para ibu ketika menjemput anak-anak mereka pulang sekolah di SDIT Al Furqon Rembang. Dari diskusi kecil tersebut lahirlah komunitas pengajian yang awalnya hanya beranggotakan sembilan orang. Kini, jumlah anggotanya telah berkembang menjadi lebih dari 40 orang yang aktif mengikuti kajian dan kegiatan sosial.
Dalam setiap kajian rutin, para anggota An-Nida diingatkan bahwa infak, zakat, dan sedekah bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban yang memiliki nilai besar dalam kehidupan. Karena itu, mereka secara rutin setiap bulan mengumpulkan dana yang kemudian disalurkan kepada mereka yang berhak menerima, termasuk anak-anak yatim.
Salah satu penggerak komunitas, Bunda Rita, dalam sambutannya memberikan pesan penuh motivasi kepada para santri yatim di LKSA An-Naba. Ia mengingatkan agar anak-anak tidak merasa rendah diri.
“Jangan minder, anak-anak. Kalian pasti bisa sukses. Rasulullah SAW dahulu juga seorang anak yatim, tetapi beliau menjadi manusia paling mulia,” ujarnya dengan penuh kehangatan.
Bunda Rita juga mengajak semua yang hadir untuk saling mendoakan.
“Di sujud terakhir kita, jangan lupa mendoakan orang lain. Sesungguhnya doa itu juga akan kembali kepada kita,” tambahnya.
Sementara itu, pembina yayasan An-Naba, Ustad Taufiq, dalam sambutannya menyampaikan berbagai program pemberdayaan yang sedang dikembangkan di lingkungan yayasan. Selain kegiatan pendidikan, anak-anak juga diajak belajar bertani dan beternak secara terintegrasi.
Program tersebut antara lain menanam sayuran organik seperti kangkung, pakcoy, terong, dan cabai di halaman rumah serta mulai menggarap lahan wakaf di wilayah Jati Mudo, Sulang. Selain itu, yayasan juga mengembangkan perikanan bioflok sebagai bagian dari pembelajaran kemandirian bagi para santri.
Di sela-sela acara, kesempatan silaturahim tersebut juga dimanfaatkan untuk melakukan diskusi kolaboratif bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Dalam diskusi tersebut muncul gagasan agar para santri yatim ke depan dapat belajar praktik pemberdayaan ekonomi di desa.
Program yang direncanakan antara lain belajar budidaya jamur, pembesaran ayam, pembuatan pakan ayam organik, serta praktik membuat minuman fermentasi herbal untuk ayam berbahan kencur, temulawak, kunyit, dan jahe. Program ini saat ini sedang dikembangkan oleh BUMDes Pandean yang dikoordinasikan oleh Mbah Modin.
Menanggapi peluang kolaborasi tersebut, Ustad Taufiq menyampaikan harapannya kepada pemerintah desa.
“Mohon izin Pak Lurah, ke depan kami ingin mengagendakan anak-anak untuk tadabbur alam sekaligus praktik langsung di lokasi. Supaya mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga punya keterampilan hidup,” ujar Taufiq.
Gagasan tersebut disambut baik oleh pihak desa dan para peserta yang hadir.
Pada bagian akhir sambutannya, Ustad Taufiq juga mengingatkan bahwa tujuan akhir dari ibadah puasa adalah ketakwaan. Salah satu wujud nyata ketakwaan adalah memperbanyak silaturahim dan menebar manfaat kepada sesama.
“Semakin banyak silaturahim, semakin kuat ketakwaan kita. Karena Allah menegaskan dalam Al-Qur’an, ‘Inna akramakum ‘indallahi atqakum’ – sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa,” tuturnya.
Kegiatan Safari Ramadhan ini pun ditutup dengan doa bersama, penuh harap agar kebersamaan yang terjalin dapat terus berlanjut dan menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang. Di tengah suasana Ramadhan yang penuh berkah, silaturahim seperti ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati sering lahir dari berbagi dan saling menguatkan. (Rochmad Taufiq)












