Jurnaljatengdiynews.com- KUDUS — Rabu 25/02/26 Bagi masyarakat Kudus, Lebaran terasa kurang semarak bila meja tamu belum dihiasi camilan khas daerah, terutama jenang. Salah satu yang paling diburu adalah Jenang Karomah, sajian manis legit yang telah menjadi teman setia Ramadhan hingga Idul Fitri.
Nama Karomah sendiri memiliki makna keunggulan dan keberkahan, selaras dengan harapan masyarakat yang ingin menghadirkan suguhan terbaik bagi keluarga dan tamu. Teksturnya yang lembut, rasa manis yang pas, serta daya tahan yang cukup lama membuat jenang ini cocok sebagai camilan selama puasa maupun hidangan istimewa saat hari raya.
“Alhamdulillah, selalu ada saja tamu yang memborong Jenang Karomah untuk persediaan camilan Idul Fitri,” terang Hj. Masfuah, owner Jenang Karomah. Menurutnya, permintaan meningkat tajam menjelang akhir Ramadhan, bahkan banyak pembeli dari luar kota yang sengaja datang untuk membeli langsung.
Jenang Karomah tidak hanya digemari karena rasanya, tetapi juga karena nilai tradisinya. Di banyak keluarga sakinah mawaddah warahmah, jenang menjadi simbol kehangatan, kebersamaan, dan penghormatan kepada tamu yang datang bersilaturahmi.
Dukungan juga datang dari berbagai komunitas, salah satunya kelompok Madjida — komunitas ibu-ibu hebat di Kudus yang dikenal aktif dalam kegiatan ngaji, sholawat, dan ibadah. Meski sebagian anggotanya sudah tidak muda lagi, semangat mereka tetap menyala. Wajah yang teduh dan antusiasme yang tinggi menjadikan mereka bagian penting dalam melestarikan tradisi kuliner religius daerah.
Bagi masyarakat Kudus, kehadiran Jenang Karomah bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya Ramadhan dan Lebaran. Legitnya rasa seolah menjadi pengikat silaturahmi, menghangatkan suasana, dan menambah keberkahan hari kemenangan.
Dengan demikian, tak berlebihan bila banyak warga berujar: Lebaran di Kudus belum lengkap tanpa sepiring Jenang Karomah di meja tamu. Taufiq












