Jurnaljatengdiynews.com. Kudus — Sabtu, 7 Februari 2026, suasana Kios Makmur BG Farm terasa berbeda. Kehadiran singkong mentega yang dipotong kecil-kecil, lengkap dengan tape singkong mentega sebagai teman ngopi, menjadikan kios sederhana itu semakin semarak dan hangat oleh kebersamaan.
Singkong mentega khas Gembong yang dikenal gurih, empuk, dan pulen ini dinikmati bersama para pengunjung yang datang silih berganti. Tidak hanya pelaku UMKM, sejumlah senior mentor BG Farm juga hadir dan membaur santai dalam suasana ngopi penuh keakraban.
Tampak hadir di antaranya Dr. Murtono, pembina entrepreneur sekaligus Rektor Universitas Safin; Dr. Jayadi, pengasuh Pondok Al-Jazid; serta Dr. Carto, pakar hukum dari UIN Kudus. Puluhan pelaku UMKM Kudus dari jaringan JBO dan BCM turut hadir, ikut icip-icip dan menikmati cita rasa singkong mentega yang menjadi primadona hari itu.
“Singkong mentega memang enak dan gurih,” ungkap beberapa pengunjung. Bahkan Dr. Murtono sempat berbagi cerita, bahwa selain di Gembong, terdapat pula sentra singkong mentega di wilayah Pati. “Kapan-kapan kita ke sana,” ujarnya, disambut obrolan hangat di antara cangkir kopi dan camilan singkong.
Sementara itu, Darsono, salah satu kru grup UMKM yang memesan 12 kilogram singkong, mengaku puas. “Wah, singkongnya empuk dan gurih, Pak,” tuturnya singkat namun penuh kesan.
Singkong mentega yang disajikan di Kios Makmur BG Farm ini dipanen langsung dari kebun saudara Mas Taufiq—sahabat dekat yang sudah dianggap seperti keluarga. Sejak awal, niatnya sederhana: berbagi rasa, mengenalkan singkong mentega khas Gembong, serta merawat kearifan lokal, bukan semata mencari keuntungan.
Harga yang ditawarkan pun terjangkau, hanya Rp2.000 per kilogram, jauh di bawah harga pasar yang berkisar Rp3.000–Rp4.000 per kilogram. Meski secara hitungan ekonomi nyaris hanya impas karena biaya angkut dan operasional, keberkahan justru terasa lewat kebersamaan, silaturahim, dan manfaat yang meluas.
Sebagian singkong dinikmati sebagai pangan keluarga, sebagian lagi diolah sebagai bahan racikan pakan ayam kampung organik. Bahkan pengunjung juga berkesempatan membawa pulang bibit singkong mentega untuk ditanam sendiri di rumah.
Kegiatan sederhana ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal tidak harus hadir dalam kemasan besar. Cukup dengan singkong mentega yang direbus, tape yang dibagi, kopi yang diseruput bersama, dan hati yang terbuka—pasar hidup, persaudaraan terjaga, dan pangan lokal tetap lestari. (Rochmad Taufiq)













