Wednesday, July 29, 2026
Jurnal Jateng DIY
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Politik
  • Bisnis
  • Budaya
  • Gaya hidup
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Kesehatan
No Result
View All Result
Jurnal Jateng DIY
Home Agama

Laila dan Qodar

Admin by Admin
March 24, 2025
in Agama, Pendidikan
A A
0
16
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Cerpen oleh Noeryoso


Jurnaljatengdiynews.com- Magelang – Tinggal dua kantong lagi, Kang!” bisik Laila sambil berjalan berjingkat menuju pintu sebuah gubuk di pinggir kali. Telapak kakinya yang tanpa alas melangkah hati-hati agar tak mengagetkan pemilik gubuk, juga supaya kedatangannya tak diketahui siapa pun. Setelah meletakkan sebuah kantong plastik di depan pintu gubuk Darsem, Laila segera bergegas kembali ke tempat Qodar menunggunya.

Sayup-sayup takbir berkumandang dari kejauhan. Di masjid kampung mereka, suara takbir sudah berhenti sejak tadi—mungkin para remaja masjid kelelahan setelah mengumandangkannya sejak sore.

Saat melewati jalan setapak di dekat kuburan, hampir saja Laila dan Qodar kepergok peronda. Untungnya, tanaman puring yang tumbuh liar di kuburan itu segera menyembunyikan tubuh mereka. Cukup lama mereka berjongkok di balik gerumbulan puring, menunggu peronda pergi. Tampaknya, kedua peronda sempat melihat bayangan mereka, tetapi tak cukup berani masuk ke dalam area kuburan untuk mengejar.

Laila dan Qodar sebenarnya bisa saja mengambil jalan yang lebih aman, melewati depan rumah Pak RT. Namun, mereka tak ingin ketahuan oleh siapa pun, sehingga memilih jalan setapak di samping kuburan untuk menuju rumah Yitno, lelaki buta yang sehari-harinya mengemis di pasar.

Berita Terkait

Silaturahim Jamaah Haji, Menumbuhkan Tadabur dan Kekuatan Berjamaah untuk Kemaslahatan Umat

Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian

Load More

Lamat-lamat, suara pukulan tiang telepon tiga kali terdengar, pertanda waktu telah menunjukkan pukul tiga dini hari. Saat Laila dan Qodar tiba di rumah mereka—sebuah gubuk kecil yang lebih mirip kandang kerbau—bunyi jengkerik seketika berhenti, seolah terkejut oleh derit pintu yang terbuka.

Laila segera merebahkan tubuhnya di atas lincak bambu, melepas kerudungnya. Wajahnya yang bulat purnama penuh peluh. Sementara itu, Qodar mengambil dua gelas minum, menuangkan teh sisa berbuka, lalu menyodorkannya kepada Laila sebelum meneguk miliknya hingga tandas.

“Terima kasih, Kang,” ucap Laila, bangkit dari rebahannya dan menghabiskan teh manis yang sudah dingin itu.

“Akhirnya selesai juga. Sisa untuk kita cuma ini, Kang,” sambungnya, mengeluarkan beberapa barang dari kardus kecil—sebongkah beras, seplastik kecil gula, sebungkus teh, tepung, minyak, dan beberapa bungkus mi instan.

Qodar hanya tersenyum memandangi barang-barang tersebut. “Maafkan aku, Laila. Tidak seharusnya aku mengajakmu hidup seperti ini,” ucapnya pelan, sudut matanya berkaca-kaca menahan kesedihan.

“Sudahlah, Kang. Hanya ini yang bisa kita lakukan untuk membantu tetangga menyambut Lebaran,” balas Laila sambil menghapus air mata Qodar yang mulai menetes.

Qodar menarik napas dalam. “Bagaimana kalau tahun depan kita ikut i’tikaf di masjid saja?”

“Berarti kita tidak mengamen lagi, Kang? Lalu, bagaimana dengan Mbok Darsem, Pak Yitno, Kang Slamet, Ciput, dan adik-adiknya? Apa kita biarkan mereka berlebaran tanpa kebahagiaan?” tanya Laila, meletakkan biola dan gitar mereka. Sejak remaja, Laila memang mahir bermain biola, sementara Qodar pandai memetik gitar.

“Apa kamu tidak ingin mendapatkan malam Lailatul Qadar, seperti mereka yang sedang beri’tikaf di masjid?”

Laila tidak menjawab. Ia justru berseru kegirangan sambil memperlihatkan amplop kecil di tangannya. “Kang! Lihat ini!” serunya.

“Rupanya ada orang yang menyelipkan amplop ini ke ranselku. Mungkin gadis yang kemarin duduk di samping kita saat mengamen.”

“Berapa isinya?” tanya Qodar penasaran.

“Lima ratus ribu!” seru Laila girang.

Namun, Qodar masih tampak ragu. “Laila, apakah kita akan terus mengamen saat orang-orang tengah khusyuk tarawih, hanya agar bisa membagikan bingkisan Lebaran kepada mereka?”

“Kita memang miskin, Kang. Tapi mereka jauh lebih miskin dari kita. Kapan lagi kita bisa meringankan hidup mereka?” jawab Laila mantap.

Qodar hanya terdiam. Sejak menikah, malam-malam Ramadan mereka dihabiskan dengan mengamen, mengumpulkan uang untuk membeli bahan sembako dan membagikannya kepada tetangga-tetangga yang melarat.

“Alhamdulillah, hasil mengamen tahun ini lebih banyak dari biasanya, Kang! Bukan hanya cukup untuk sembako, tapi juga sarung dan baju. Mereka pasti senang melihat bingkisan tergeletak di depan gubuk mereka,” ujar Laila, bersandar penuh kasih sayang di lengan Qodar.

“Kapankah kita diberi momongan, Kang?” bisiknya pelan.

“Mungkin Allah belum melihat kita siap menerima amanah itu, Laila. Atau mungkin, Allah ingin kita menganggap Ciput, Tarmi, dan Godril sebagai anak-anak kita. Bukankah selama ini kita telah mencukupi pangan mereka?” jawab Qodar, membelai rambut Laila dengan lembut.

Laila tergugu menahan tangisnya.

“Apakah mengamen juga bisa membuat kita mendapatkan Lailatul Qadar, Laila?” tanya Qodar kembali.

Laila tersenyum kecil. “Entahlah, Kang. Yang jelas, Kang Qodar sudah mendapatkan Laila. Dan Laila telah mendapatkan Qodar.”

Qodar pun tertawa. Namun, tiba-tiba ia menghentikan tawanya, memberi isyarat kepada Laila agar diam. Bunyi jengkerik di luar rumah mendadak terhenti—tanda ada sesuatu yang mendekat. Tapi, tak terdengar suara langkah kaki sedikit pun. Mungkin suara itu tertindih oleh adzan Subuh yang baru saja berkumandang dari masjid kampung mereka.

“Sudah adzan Subuh, Kang! Ayo ke masjid!” ajak Laila, mengambil mukena. Qodar pun segera menyusul mengambil pecinya.

Namun, ketika mereka membuka pintu, sepasang suami istri itu terbelalak kaget.

Di depan gubuk mereka, tergolek sebuah kardus berisi bayi mungil dengan kulit masih merah. Di samping bayi itu, ada botol minum dan secarik kertas bertuliskan “Lailatul Qadar”.

Melihatnya, Laila segera menggendong bayi itu, mendekapnya penuh kasih sayang. Diciuminya pipi mungil itu dengan suka cita, sementara Qodar hanya menatap takjub.

Malam itu, mereka tak hanya menemukan kebaikan dalam setiap langkahnya, tetapi juga sebuah berkah yang tak terduga—sebuah hadiah dari malam penuh kemuliaan.


Diambil dari buku kumpulan cerpen berjudul Anyelir Merah Putih.

Previous Post

Pertemuan Strategis Bahas Pengadaan Pupuk untuk Program Ketahanan Pangan BKNI RI di Jawa Tengah

Next Post

Meneladani Pertanian & Peternakan Nabi Sulaiman, Kunci Kedigdayaan dan Kesejahteraan

RelatedPosts

Silaturahim Jamaah Haji, Menumbuhkan Tadabur dan Kekuatan Berjamaah untuk Kemaslahatan Umat
Agama

Silaturahim Jamaah Haji, Menumbuhkan Tadabur dan Kekuatan Berjamaah untuk Kemaslahatan Umat

July 19, 2026
Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian
Agama

Ngopi Sore, Ngaji Tani, dan Tadabur Alam Menumbuhkan Semangat Hijrah Kekinian

July 15, 2026
Senior Akademisi dan Praktisi Berkolaborasi Menebar Manfaat melalui Sinergi Hukum, Pertanian Terpadu, dan Gerakan Koperasi Organik Muria Raya
Pendidikan

Senior Akademisi dan Praktisi Berkolaborasi Menebar Manfaat melalui Sinergi Hukum, Pertanian Terpadu, dan Gerakan Koperasi Organik Muria Raya

July 15, 2026
Kolaborasi Orang-Orang Beriman Menorehkan Tinta Emas di Pondok Literasi Alam PPR BG Farm
Agama

Kolaborasi Orang-Orang Beriman Menorehkan Tinta Emas di Pondok Literasi Alam PPR BG Farm

July 14, 2026
Harta yang Mengalir, Berkah yang Mengalir
Agama

Harta yang Mengalir, Berkah yang Mengalir

June 25, 2026
Agama

SERUAN / SYIAR HIBAH & WAKAF MUSHOLA PPR BG FARM KUDUS 

June 21, 2026
Next Post
Meneladani Pertanian & Peternakan Nabi Sulaiman, Kunci Kedigdayaan dan Kesejahteraan

Meneladani Pertanian & Peternakan Nabi Sulaiman, Kunci Kedigdayaan dan Kesejahteraan

RECOMMENDED NEWS

Ngopi Pagi di Gubug Sawah KUB An Nur Banana Garden, diskusi ketahanan pangan

Ngopi Pagi di Gubug Sawah KUB An Nur Banana Garden, diskusi ketahanan pangan

2 years ago
Aman dan Tertib, Polres Kudus Siap Amankan Pilkada 2024 dengan 7.519 Personel.

Aman dan Tertib, Polres Kudus Siap Amankan Pilkada 2024 dengan 7.519 Personel.

2 years ago

6 months ago
Pemkab Sleman Sambut Kepala Kejaksaan Negeri Baru

Pemkab Sleman Sambut Kepala Kejaksaan Negeri Baru

2 years ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Agama
  • Berita
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Gaya hidup
  • Hiburan
  • Informasi
  • Kajian pertanian ekosistem
  • Keamanan
  • Kebersihan
  • Kesehatan
  • Kuliner
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pembangunan
  • Pemberdayaan
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Politik
  • Sosial
  • Teknologi dan Sains
  • Uncategorized

BROWSE BY TOPICS

3 April 2024 anak yatim dhuafa bahan pokok batik Bupati Sleman debat Cawapres Dedeh K. Ekosistem Bisnis Lokal fakir miskin Forkom UMKM Sleman gotong royong HIPMI Peduli Sleman Indonesia Emas 2045 inspirasi Joko Suwanto Kabupaten Sleman. kebutuhan kepedulian sosial kerja keras Kerjasama Strategis Kesejahteraan Masyarakat kolaborasi Kustini Sri Purnomo masyarakat paket sembako pembangunan berkelanjutan Pemberdayaan UMKM Pendidikan Pendidikan Politik peran kader permintaan tinggi Pertumbuhan Ekonomi Inklusif podium Polres Magelang Kota Putra Agil Pamungkas Rumah Dinas Bupati Sleman S. Suseno sambutan silaturahmi sinergi sleman Sosial spanduk tanggung jawab sosial wanita berhijab
Jurnal Jateng DIY

Follow us on social media:

Recent News

  • Penyerahan SK PIMDA Jateng di kantor PIMNAS di jakarta dan KONSOLIDASI PKN PERKUAT STRUKTUR ORGANISASI di jateng
  • (no title)
  • Dari Dapur MBG ke Mushola Literasi, PPR BG Farm Jajaki Kolaborasi Strategis dengan 124 SPPG Kudus untuk Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Umat

Category

Recent News

July 21, 2026
Dari Dapur MBG ke Mushola Literasi, PPR BG Farm Jajaki Kolaborasi Strategis dengan 124 SPPG Kudus untuk Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Umat

Dari Dapur MBG ke Mushola Literasi, PPR BG Farm Jajaki Kolaborasi Strategis dengan 124 SPPG Kudus untuk Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Umat

July 20, 2026
  • Media Berita Jawa Tengah – Yogyakarta
  • Berita
  • Informasi

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Kategori Berita
    • Politik
    • Berita
    • Bisnis
    • Budaya
    • Olahraga
    • Gaya hidup
    • Sosial

© 2024 Jurnal Jateng DIY - All right reserved