Jurnaljatengdiynews.com – Kudus — Para pecinta pertanian organik terintegrasi yang tergabung dalam Fakultas Organik Paguyuban Petani Organik Muria Raya mengadakan buka bersama (bukber) sekaligus diskusi strategis dalam rangka mengisi kegiatan Ramadhan, Ahad (22/02/2026). Kegiatan bertajuk Skill Up Pertanian Organik Terukur ini dilaksanakan di Jetak Kali, Wungu, Kudus, dan dihadiri puluhan pegiat organik lintas daerah.
Acara ini merupakan forum silaturahmi sekaligus pendalaman praktik bertani organik yang terukur dan memiliki SOP sesuai standar sang guru BSM. Para peserta merupakan alumnus BSM lintas angkatan dan lintas kampus padepokan, yang tampak guyub, rukun, kompak, serta saling mendukung dalam merancang kolaborasi usaha yang saling menguntungkan.
Diskusi dipandu oleh Bang Gun, aktivis senior HMI angkatan 1987, bersama Mas Unggul, praktisi budidaya melon yang juga dosen Fakultas Pertanian Umk saat kurikulum kampus merdeka dan petani muda lulusan pesantren .
*Pamer Produk & Peluang Kerja Sama*
Para peserta hadir tidak hanya berdiskusi, tetapi juga membawa hasil produk unggulan dan pengalaman masing-masing. Salah satu yang menarik perhatian adalah alpukat jumbo milik Mas Anas yang menunjukkan potensi buah premium dari sistem organik.
Mas Unggul memaparkan peluang kerja sama budidaya melon sistem greenhouse, yang dinilai memiliki prospek tinggi dan stabil secara ekonomi. Selain itu, muncul peluang suplai daun singkong mentega untuk kebutuhan industri pada bulan Maret sebesar 5 ton, dengan target berkelanjutan minimal 10 ton per bulan apabila tahap awal terpenuhi.
Tak kalah menarik, dibuka pula peluang kerja sama jagung sebagai bahan baku pabrik pakan ternak dengan kebutuhan ratusan ton, harga saat ini Rp3.500/kg pada kadar air 35%.
Sektor peternakan juga menjadi perhatian. Melalui relasi Mas Khamim owner kampung wawah, alumnus BSM dari Banyuwangi, terdapat kebutuhan ternak ayam mencapai 500 ekor per hari atau sekitar 15.000 ekor per bulan.
*Transfer Ilmu Budidaya Cepat Panen*
Antusiasme peserta terlihat dari sesi diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif. Bang Gun membagikan berbagai pengalaman lapangan, termasuk teknik budidaya buah seperti durian, alpukat, dan kopi yang dapat berbuah pada usia sekitar dua tahun dengan tinggi tanaman cukup dua meter, serta menghasilkan kualitas buah grade A apabila mengikuti SOP yang tepat.
Ia juga memaparkan potensi budidaya kangkung intensif. Dengan lahan hanya sekitar 300 meter persegi, petani dapat memanen dua kali dalam sebulan (setiap 14 hari) menggunakan ramuan pupuk khusus, dengan potensi pendapatan hingga Rp15 juta per panen.
Selain tanaman, dibahas pula teknik beternak ayam yang efisien dan berkelanjutan sebagai bagian dari sistem pertanian organik terintegrasi.
*Semangat Kolaborasi Berkelanjutan*
Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan rencana diskusi lanjutan pasca-acara untuk merealisasikan berbagai peluang kerja sama yang telah dibahas.
Pertemuan ini menunjukkan bahwa pertanian organik bukan sekadar gerakan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola secara terukur, terintegrasi, dan kolaboratif.
“Guyub, kompak, dan saling support adalah kunci kemajuan petani organik,” demikian semangat yang mengemuka sepanjang kegiatan Ramadhan tersebut. (Rochmad Taufiq- untuk infonesia)












