Jurnaljatengdiynews.com. Magelang- Kegiatan pelatihan penulisan puisi bagi guru di SD Negeri Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo bukan sekadar agenda akademik biasa. Ia adalah penanda penting bahwa gerakan literasi sejati justru harus dimulai dari para guru—mereka yang setiap hari menanam benih bahasa, imajinasi, dan karakter pada anak-anak bangsa.
Kolaborasi bersama mahasiswa KKN Reguler 155 dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta menunjukkan bahwa perguruan tinggi dan sekolah dasar dapat bersinergi membangun ekosistem literasi dari akar rumput. Ketika dosen, mahasiswa, dan guru duduk bersama membicarakan puisi, sesungguhnya mereka sedang merancang masa depan budaya membaca dan menulis.
Menulis memang keterampilan bahasa yang paling kompleks. Ia menuntut kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca yang matang. Karena itu, keberanian guru untuk mulai menulis—meski dari puisi sederhana—adalah lompatan mental yang besar. Dalam konteks pendidikan dasar, guru yang menulis bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi teladan nyata bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat.
Pelatihan ini juga menunjukkan bahwa kreativitas tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses, latihan, dan keberanian mencoba. Fakta bahwa dalam tiga hari sudah terkumpul belasan puisi membuktikan satu hal: potensi itu sebenarnya sudah ada, hanya menunggu ruang dan pendampingan.
Lebih jauh, rencana penerbitan karya oleh penerbit memperlihatkan pendekatan yang komprehensif—tidak berhenti pada pelatihan, tetapi sampai pada produk nyata berupa buku. Ini penting, karena karya yang terbit akan memberi dampak psikologis besar bagi guru: rasa percaya diri, kebanggaan profesional, dan motivasi untuk terus berkarya.
Harapan Kepala Sekolah agar guru-guru bangkit menjadi penulis seperti tokoh sastra Indonesia bukanlah mimpi berlebihan. Sejarah menunjukkan banyak sastrawan besar lahir dari dunia pendidikan dan keprihatinan sosial, seperti:
- Buya Hamka
- Sutan Takdir Alisyahbana
- NH Dini
- HB Jassin
- Chairil Anwar
- Musthofa Bisri
- WS Rendra
- Emha Ainun Nadjib
Mereka tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kebiasaan membaca, merenung, dan menulis secara konsisten.
Dalam perspektif yang lebih luas, guru yang menulis akan melahirkan murid yang berpikir. Murid yang berpikir akan melahirkan masyarakat yang beradab. Dan masyarakat beradab adalah fondasi kemajuan bangsa.
Karena itu, mimpi menjadi penulis bagi guru SD bukan sekadar ambisi personal, melainkan investasi peradaban. Dari tangan guru yang menulis, lahir generasi yang mampu mengungkapkan gagasan, merawat empati, dan membangun Indonesia dengan kata-kata yang mencerahkan.
Jika kegiatan seperti ini berlanjut dan menyebar ke sekolah-sekolah lain, bukan mustahil Kulonprogo akan dikenal bukan hanya sebagai daerah agraris dan pesisir, tetapi juga sebagai lumbung penulis yang lahir dari ruang kelas sekolah dasar.
Pada akhirnya, ketika guru mulai menulis, sesungguhnya mereka sedang mengajari murid bahwa mimpi itu bisa ditulis — lalu diwujudkan. ( Rochmad Taufiq)












