Jurnaljatengdiynews.com. KUDUS, 26 September 2026 — Suasana berbeda mewarnai Workshop Optimalisasi Kurikulum Berbasis Cinta pada Madrasah Berbasis Pesantren. Kegiatan pendampingan guru Madrasah Qudsiyyah Kudus yang digelar oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UIN Sunan Kudus, Sabtu (26/9/2026), dikemas secara santai melalui konsep “ngopi” di Resto Bon Jati, Singocandi, Kudus.
Meski berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban, materi yang dibahas cukup serius dan strategis, yakni bagaimana menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan peserta didik, tetapi juga menumbuhkan kecintaan kepada Allah, manusia, dan lingkungan.
Workshop yang berlangsung 26–27 September 2026 tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi. Di antaranya Prof. Dr. H. Ihsan, M.Ag., Prof. Dr. H. Muslim A. Kadir, M.A., serta Rochmad Taufiq, S.Sos., S.H.
Prof. Dr. H. Ihsan, M.Ag. mengawali materi dengan penguatan paradigma pendidikan madrasah berbasis cinta, khususnya peran guru dalam memanusiakan manusia dan merawat kehidupan.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Muslim A. Kadir, M.A. membahas “Paradigma Kurikulum Berbasis Cinta dalam Perspektif Ekoteologi: Membangun Kesadaran Relasi Manusia, Alam, dan Tuhan.”
Dalam paparannya, Prof. Muslim memperkenalkan kerangka religiografi SOP ilmu dan teknologi integratif berwawasan global, yang menghubungkan Al-Qur’an dan Hadis, manusia, alam, epistemologi, pendidikan, teknologi, serta kehidupan sosial dalam sebuah paradigma integrasi beragama.
Gagasan tersebut menempatkan ekoteologi sebagai salah satu basis penting dalam pengembangan kurikulum. Pendidikan agama tidak berdiri sendiri, tetapi dapat diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan, lingkungan, teknologi, sosial, pertanian, hingga kehidupan sehari-hari.
*Ngopi: Ngolah Pikir, Menghidupkan Gagasan*
Pada sesi berikutnya, Rochmad Taufiq, S.Sos., S.H. mengangkat tema “Cinta Lingkungan dan Ekoteologi dalam Pendidikan Madrasah” dengan gagasan utama:
“Menanam Cinta, Menabung Kehidupan: Dari Tanaman, Ayam hingga Pisang.”
Rochmad mengajak para guru melihat lingkungan bukan sekadar objek pembelajaran, tetapi sebagai laboratorium kehidupan.
Menurutnya, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya mengajarkan teori kebersihan, penghijauan atau larangan membuang sampah sembarangan. Peserta didik perlu mengalami secara langsung proses menanam, merawat, memelihara, memanen, mengolah hasil, hingga berbagi.
“Anak-anak jangan hanya diajari membaca buku. Mereka juga harus diajak membaca kehidupan,” demikian gagasan yang ditekankan dalam materi tersebut.
Melalui konsep “Satu Siswa, Satu Tanaman”, misalnya, setiap siswa dapat diberi tanggung jawab merawat tanaman. Dari kegiatan sederhana itu mereka belajar disiplin, tanggung jawab, kesabaran, kasih sayang dan rasa syukur.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi “Nabung Ayam” dan “Nabung Pisang”.
“Nabung ayam” dimaknai sebagai pendidikan kemandirian melalui pemeliharaan aset produktif. Sedangkan “nabung pisang” mengajarkan bahwa sesuatu yang ditanam hari ini dapat memberikan manfaat dan berkembang di masa mendatang.
Tanam → Rawat → Panen → Jual → Tabung → Sedekah → Tanam Kembali.
Menurut Rochmad, pola tersebut dapat menjadi model sederhana pendidikan karakter sekaligus kewirausahaan berbasis lingkungan.
*Dari Tanaman, Santri Belajar Tawakal*
Pertanian dalam perspektif ekoteologi, lanjut Rochmad, juga mengajarkan nilai ketauhidan.
Benih ditanam dengan ikhtiar manusia, tetapi pertumbuhan tanaman tetap berada dalam sunnatullah dan kehendak Allah SWT.
Karena itu, bertani dapat menjadi media pendidikan untuk memahami hubungan antara Allah, manusia, alam dan kehidupan.
Ia mengutip QS. Hud ayat 6 tentang jaminan rezeki Allah bagi setiap makhluk, serta QS. Al-A’raf ayat 56 tentang larangan membuat kerusakan di muka bumi.
Rochmad juga mengaitkan pendidikan pangan dengan QS. ‘Abasa ayat 24:
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”
Ayat tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi peserta didik untuk bertanya lebih jauh: dari mana makanan berasal, siapa yang menanam, bagaimana tanah dan air diperlakukan, serta apakah proses produksinya membawa manfaat bagi manusia dan lingkungan.
Dengan demikian, ayat qauliyah dan ayat kauniyah dapat dibaca secara bersama-sama.
Kitab dipelajari, alam juga dibaca.
Madrasah sebagai Laboratorium Kehidupan
Workshop tersebut mendorong munculnya gagasan agar lingkungan madrasah tidak hanya menjadi halaman sekolah, tetapi dapat dikembangkan sebagai laboratorium kehidupan.
Kebun, kolam, kandang, tanaman pangan dan berbagai aktivitas produktif dapat menjadi sarana pembelajaran lintas disiplin.
Pendidikan agama dapat terhubung dengan pertanian. Pendidikan IPA dapat terhubung dengan ekosistem. IPS dapat terhubung dengan kehidupan petani dan ekonomi masyarakat. Kewirausahaan dapat dipelajari melalui hasil kebun.
Semangatnya adalah menghadirkan pendidikan yang membumi, produktif, berkarakter dan berkelanjutan.
Suasana ngopi santai di Resto Bon Jati pun menjadi ruang bertukar gagasan antara akademisi, guru dan praktisi.
“Ngopi” tidak hanya dimaknai sebagai menikmati kopi, tetapi juga “ngolah pikir”—membicarakan persoalan pendidikan secara santai, terbuka dan solutif.
*Membangun Madrasah yang Berdaya dan Berkelanjutan*
Workshop Optimalisasi Kurikulum Berbasis Cinta pada Madrasah Berbasis Pesantren ini menjadi bagian dari ikhtiar UIN Sunan Kudus melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat untuk memperkuat kapasitas guru dan pengembangan pendidikan madrasah.
Gagasan besarnya adalah membangun madrasah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, memiliki karakter kasih sayang, serta mampu menumbuhkan kemandirian peserta didik.
Sebagaimana pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut:
“Cinta tanaman adalah cinta kehidupan. Menabung ilmu adalah membangun peradaban. Menabung kebaikan adalah bekal akhirat.”
Dari sebuah tanaman, anak belajar merawat.
Dari ayam, belajar memelihara.
Dari pisang, belajar menunggu dan menabung masa depan.
Dari alam, belajar membaca kebesaran Allah.
Dan dari pendidikan, diharapkan lahir generasi yang cerdas pikirannya, lembut hatinya, mandiri ekonominya, peduli lingkungannya dan bertanggung jawab terhadap kehidupan.
Bersama membangun madrasah berbasis pesantren yang berdaya dan berkelanjutan. (Rochmad)











