Dr. Carto Nuryanto: Kemerdekaan Harus Dirasakan Petani dan Diperjuangkan dengan Kemandirian
Jurnaljatengdiynews.vom. KUDUS, Senin, 17 Agustus 2026 — Suasana khidmat dan penuh penghayatan mewarnai pelaksanaan Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Alun-Alun Kabupaten Kudus, Senin (17/8/2026).
Upacara yang berlangsung dengan tertib tersebut diikuti oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus bersama berbagai elemen masyarakat, organisasi kemasyarakatan, komunitas, serta perwakilan sejumlah organisasi dan lembaga yang turut hadir memberikan penghormatan kepada para pahlawan bangsa.
Di antara peserta yang hadir tampak jajaran Perkopindo bersama perwakilan elemen masyarakat Kudus. PP Polri Kudus juga turut hadir, yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Ketua PP Polri Kudus, Dr. Carto Nuryanto.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menjadi gambaran bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya menjadi agenda seremonial pemerintah, tetapi juga menjadi momentum kebersamaan seluruh komponen bangsa.
Suasana semakin terasa sakral ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan dan seluruh peserta mengikuti rangkaian upacara dengan penuh khidmat.
🇮🇩 Kemerdekaan Jangan Berhenti pada Upacara
Usai mengikuti upacara, ketika dimintai pandangan mengenai makna kemerdekaan tahun ini, Dr. Carto Nuryanto menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna.
Menurutnya, kemerdekaan sejatinya bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu menghadirkan kebahagiaan, kemandirian, dan kebermanfaatan dalam kehidupan sehari-hari.
Sambil berangkulan dengan bupati Kudus Samani intakiris Ia berbisik menyampaikan sebuah prinsip:
*“Bahagia itu sederhana, jika pandai berinteraksi dengan siapa saja. Bahagia itu hadir dalam hati dan sanubari.”*
Pesan tersebut menggambarkan bahwa semangat kemerdekaan perlu diwujudkan melalui hubungan sosial yang baik, persaudaraan, kepedulian, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.
🌾 Dr. Carto Soroti Persoalan Pertanian
Namun, di balik suasana perayaan kemerdekaan, Dr. Carto Nuryanto juga mengajak masyarakat untuk melihat persoalan yang lebih mendasar, khususnya mengenai pertanian dan kesejahteraan petani Indonesia.
Sebagai pembina petani dan kelompok tani Pondok Literasi Alam PPR BG Farm Kudus, ia memandang bahwa persoalan pertanian tidak boleh hanya dibicarakan ketika terjadi krisis pangan atau harga bahan pokok meningkat.
Petani merupakan bagian penting dari fondasi kehidupan bangsa.
Sebab setiap hari masyarakat membutuhkan beras, sayuran, buah-buahan, ikan, daging, telur, dan berbagai kebutuhan pangan lainnya. Di balik semua itu terdapat kerja keras petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha pangan.
Karena itu, menurutnya, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi perjuangan untuk membangun petani yang lebih mandiri, berilmu, produktif, dan memiliki posisi tawar yang kuat.
🌱 “Petani Harus Naik Level”
Persoalan pertanian, menurut refleksi yang disampaikan dalam momentum kemerdekaan tersebut, bukan semata-mata persoalan bagaimana petani menghasilkan panen.
Petani juga harus didorong untuk memahami pengolahan, pemasaran, teknologi, kelembagaan, hingga penciptaan nilai tambah.
Petani jangan selamanya hanya menjadi penjual bahan mentah.
Petani harus memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi pengolah produk, pemilik merek, pelaku agribisnis, bahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan kesejahteraan bersama.
“Petani harus naik level. Dari sekadar menanam menjadi agropreneur. Dari menjual hasil panen menjadi menciptakan produk bernilai tambah. Dari berjalan sendiri menjadi berjamaah dalam kelembagaan,” demikian semangat refleksi yang disampaikan.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak akan kokoh apabila petaninya masih lemah.
Petani sejahtera, pangan berdaulat. Pangan berdaulat, bangsa bermartabat.
🇮🇩 Mengisi Kemerdekaan dengan Karya
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya menjadi ruang refleksi bersama.
Kemerdekaan tidak cukup hanya dirayakan dengan mengibarkan bendera Merah Putih. Semangat Merah Putih harus hadir di sawah, kebun, pasar, sekolah, tempat usaha, pesantren, dan seluruh ruang kehidupan masyarakat.
Merah menjadi simbol keberanian untuk berjuang.
Putih menjadi simbol ketulusan untuk mengabdi.
Dan kemerdekaan menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai.
Bagi masyarakat Kudus, peringatan kemerdekaan tahun ini diharapkan tidak berhenti pada upacara, tetapi dilanjutkan dengan karya nyata: memperkuat persaudaraan, membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan literasi, serta mengangkat martabat para petani dan pelaku pangan.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
*🇮🇩 Merdeka pangannya.
Merdeka petaninya.
Berdaulat ekonominya.
Berkah negerinya.* (Rochmad Taufiq)












