Pada Ahad pagi (12/7), bertepatan dengan Pengajian Ahad Pagi di Aula Muhammadiyah, dilaksanakan transaksi penjualan perdana kangkung organik hasil kolaborasi PPR BG Farm (Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya), Koperasi Produsen Wanatani Organik Muria Raya, dan Jamaah Tani Muhammadiyah.
Kangkung organik tersebut diproduksi oleh anggota Koperasi Wanatani Organik Muria Raya yang dipelopori Mas Unggul melalui UNFARA FARM, sebuah brand pertanian yang dirintis untuk membangkitkan semangat para pemuda agar kembali bertani. Kebun ini dikelola oleh lulusan Fakultas Pertanian serta menjadi tempat magang bagi siswa SMK Pertanian, sehingga tidak hanya menghasilkan pangan sehat tetapi juga mencetak calon petani masa depan.
“Membeli kangkung dan sayuran organik di sini bukan sekadar berbelanja, tetapi ikut mengambil peran dalam membantu pertumbuhan petani muda Indonesia,” ujar Mas Unggul.
Panen perdana menghasilkan sekitar 100 ikat kangkung organik dengan isi sekitar 20–23 batang per ikat. Kangkung dibeli dari petani seharga Rp3.000 per ikat dan dipasarkan Rp5.000 per ikat, sehingga tercipta nilai tambah untuk mendukung pemasaran sekaligus memperluas jaringan pasar komunitas.
Menurut Mas Unggul, satu bedengan berukuran sekitar 2 × 18 meter berpotensi menghasilkan 180–300 ikat kangkung. Potensi ini semakin besar apabila didukung pasar yang konsisten dan kemitraan yang saling menguntungkan.
Pemasaran kangkung organik dikoordinasikan oleh H. Koestiyanto dari PPR BG Farm dengan sasaran jamaah pengajian, Jamaah Tani Muhammadiyah, dan berbagai komunitas. Ke depan, Koperasi Wanatani Organik Muria Raya juga berencana melakukan pengambilan rutin sekitar 100 ikat setiap tiga hari, sebagai langkah membangun pasar yang berkesinambungan bagi para petani.
Gerakan ini mengusung semangat yang sejalan dengan nilai-nilai Pasar Madinah, yakni mempertemukan produsen dan konsumen secara adil, jujur, saling menguatkan, serta menciptakan keberkahan bersama. Pasar bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga sarana membangun kemandirian ekonomi umat.
Selain menghasilkan sayuran sehat, gerakan ini mengampanyekan prinsip “Your Food is Your Medicine”, bahwa pangan organik merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan. Dengan membeli produk petani lokal, masyarakat tidak hanya memperoleh makanan berkualitas, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi desa, mendukung regenerasi petani, dan memperkuat koperasi sebagai penggerak ekonomi rakyat.
Harapannya, model kolaborasi ini dapat berkembang di berbagai masjid, pengajian, koperasi, sekolah, dan komunitas lainnya. Ketika setiap komunitas mampu menjadi pasar bagi petaninya sendiri, maka akan lahir ekosistem ekonomi yang mandiri, sehat, dan penuh keberkahan. (Rochmad Taufiq)












