Magelang, JurnalJatengDIYNews.com – Gerakan menghidupkan kembali pangan lokal terus menunjukkan geliat yang menggembirakan. Setelah sukses membudidayakan dan memanen gembili serta talas entik, kini semangat pelestarian komoditas lokal semakin diperluas melalui pengembangan jagung Madura dengan sistem pertanian organik dan tumpangsari.
Penggiat tanaman lokal, Ustadz Nuryoso, menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang luar biasa. Umbi-umbian seperti gembili dan talas, serta jagung lokal seperti jagung Madura, merupakan warisan leluhur yang perlu dijaga sebagai bagian dari strategi menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa depan.
“Kedaulatan pangan dimulai dari benih yang kita miliki dan lahan yang kita kelola. Jika masyarakat mampu memproduksi benih dan pangan sendiri, maka kita akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” ujarnya.
Panen gembili yang dilakukan beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa lahan pekarangan pun mampu menjadi sumber pangan dan pendapatan keluarga. Dengan budidaya organik menggunakan pupuk kandang kambing, gembili tidak hanya menghasilkan pangan bergizi, tetapi juga membantu menjaga kesuburan tanah dan mengurangi erosi.
Gerakan tersebut kini diperkuat dengan pengembangan jagung Madura, salah satu komoditas lokal yang memiliki keunggulan karena benih hasil panennya masih dapat dipilih dan ditanam kembali pada musim berikutnya. Hal ini menjadi nilai penting dalam menjaga kemandirian benih petani. Berbeda dengan sebagian besar jagung hibrida, benih hasil panennya umumnya tidak direkomendasikan untuk ditanam kembali apabila ingin mempertahankan potensi hasil yang optimal.
Melalui pola tumpangsari jagung Madura dengan kangkung organik, petani juga memperoleh keuntungan ganda. Kangkung dapat dipanen lebih awal sebagai sumber pendapatan harian, sedangkan jagung dipanen sekitar tiga bulan kemudian sebagai sumber pangan dan pakan ternak.
Bagi peternak ayam kampung, jagung Madura menjadi pilihan yang strategis karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Limbah ternak kemudian diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan lahan, sehingga tercipta sistem pertanian terpadu yang saling mendukung.
Selain meningkatkan pendapatan, gerakan ini juga bertujuan melestarikan plasma nutfah lokal Indonesia agar tidak hilang oleh arus modernisasi. Menurut para pegiat ketahanan pangan, menjaga benih lokal sama pentingnya dengan menjaga sumber air dan kesuburan tanah.
Mereka berharap semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan pekarangan dan lahan tidur untuk menanam pangan lokal, mulai dari gembili, talas, jagung Madura, hingga berbagai tanaman pangan khas Nusantara lainnya.
“Menanam pangan lokal bukan sekadar bertani. Ini adalah ikhtiar menjaga warisan leluhur, memperkuat ketahanan pangan bangsa, mengurangi ketergantungan pada benih luar, serta mewariskan bumi yang lebih lestari kepada generasi mendatang.” (Rochmad Taufiq)












