Jurnaljatengdiynews.com Kudus. Sabtu, 28 Maret 2026 –.Di tengah dinamika perjuangan hidup yang penuh tantangan, kembali terukir sebuah pelajaran berharga: bahwa silaturahim bukan sekadar tradisi, melainkan jalan terbukanya solusi, peluang, dan keberkahan.
Siang itu, suasana di BG Farm berjalan seperti biasa. Namun siapa sangka, dari sebuah kunjungan sederhana tetangga sebelah—pengelola kebun organik Proklin—lahir percikan ide dan peluang baru. Obrolan ringan yang cair perlahan berubah menjadi diskusi penuh makna. Dari situlah mengalir berbagai informasi, pengalaman, hingga peluang usaha yang sebelumnya tak terpikirkan.
Salah satunya datang dari kisah Mas Fuad, yang memiliki pengalaman unik dalam budidaya entok jumbo. Ia bercerita, saat mudik Ramadhan di kampung halamannya di Kebumen, dirinya mendapatkan ilmu tentang ternak entok jumbo. Ia pun membawa lima ekor ke Kudus untuk dipelihara. Dalam hitungan minggu, pertumbuhannya sangat pesat—bahkan melampaui entok biasa, hanya dengan pakan sederhana dari limbah kafe dan warung makan.
Gayung pun bersambut. Mas Fuad meminta bantuan BG Farm untuk mencarikan anakan entok jumbo. Dari sini, terbuka peluang baru dalam pengembangan usaha peternakan.
Tak berhenti di situ, dari silaturahim yang sama, muncul informasi tak terduga: adanya lahan seluas 1,5 hektar di wilayah Puyoh, Dawe, yang ditawarkan dengan harga terjangkau karena pemilik membutuhkan dana. Sebuah peluang besar yang kini tengah ditindaklanjuti untuk proses survei dan pengecekan lebih lanjut.
Sore harinya, silaturahim kembali berlanjut. Kali ini, Doktor Carto hadir di BG Farm setelah waktu Asar, disambut cuaca cerah setelah hujan deras siang harinya. Obrolan hangat kembali mengalir, membahas berbagai pengalaman, termasuk kisah melimpahnya donasi sayuran—khususnya wortel—dari petani lereng Merapi, Magelang.
Melimpahnya stok wortel sempat menjadi tantangan tersendiri. Berbagai upaya telah dilakukan: dibagikan kepada warga, disalurkan ke yatim, dijadikan pakan ternak, hingga difermentasi sebagai cadangan pakan. Namun jumlahnya masih cukup banyak.
Dari diskusi santai itulah muncul ide baru. Doktor Carto menghubungi relasinya, seorang produsen keripik. Meski awalnya disarankan diolah menjadi bakwan, muncul gagasan yang lebih strategis: mengarahkan pemanfaatannya ke pasar yang lebih luas melalui jaringan SPPG (Sentra Pangan dan Pengelolaan Gizi).
Respon positif pun mulai terbuka. Melalui komunikasi lanjutan dengan koordinator SPPG se-Kudus, BG Farm berpeluang untuk turut serta dalam kegiatan Halal Bihalal (HBH) SPPG yang direncanakan sebelum 15 April 2026. Dalam agenda tersebut, selain sosialisasi bidang hukum terkait KUHAP dan KUHP terbaru, juga akan dibuka ruang presentasi produk—termasuk potensi olahan wortel dan hasil pertanian lainnya serta produk produk bergizi yang biasa di konsumsi oleh para siswa.
Sebuah momentum berharga untuk memperluas jaringan, membuka akses pasar, serta meningkatkan nilai ekonomi dari hasil yang sebelumnya dianggap berlebih.
Senyum syukur pun mengiringi kabar tersebut. Dari silaturahim yang sederhana, terbuka jalan yang melampaui ekspektasi—mulai dari peluang ternak, informasi lahan, hingga akses pasar yang lebih luas.
Hari pun ditutup dengan kebersamaan sederhana: berbuka puasa dengan singkong rebus, kopi hangat, dan mi telur. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan rasa syukur atas nikmat silaturahim yang menghadirkan harapan baru.
Karena sejatinya, dari silaturahim kita saling mengenal, dari mengenal kita saling percaya, dan dari kepercayaan itulah lahir jalan-jalan keberkahan yang seringkali melampaui apa yang kita rencanakan. (Rochmad Taufiq – untuk Indonesia)












