Jurnaljatengdiynews.com. Blora — Kamis 08/01/26. Pagi yang masih basah oleh embun, tepat selepas Subuh, menjadi saksi perjalanan penuh hikmah yang dilakukan Ustadz Kusno bersama para kolega, termasuk Taufiq, menuju Desa
Rejosari, Pengkoljagong, Kec. Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Menyusuri jalan sunyi di tengah hutan jati Randublatung, di bawah naungan randu dan klopo ala kearifan Samin, perjalanan kurang lebih satu jam itu menghadirkan banyak pelajaran kehidupan.
Hamparan hijau tanaman jagung, tegaknya pohon jati, serta luasnya tanah yang terhampar seolah berbicara pelan,
desa ini kaya, tinggal bagaimana dikelola dengan ilmu, kesabaran, dan keberanian memulai.
Setibanya di Dusun Pengkol jagong rombongan disambut hangat di rumah Rudiyanto, seorang petani lokal yang masih memegang kuat nilai-nilai kearifan desa.
Di sekitar rumahnya tumbuh beragam komoditas, cabe Jawa, singkong, jagung, blewah, dan tanaman pangan lainnya. Semua ini menjadi potensi besar, khususnya sebagai bahan baku pakan ternak yang murah dan berkelanjutan.
Di sinilah diskusi ngopi dimulai.
Dengan suguhan kopi hitam khas desa dan singkong goreng yang gempo serta gurih, obrolan mengalir hangat dan penuh makna. Bukan sekadar ngopi, tapi ngopi sambil menyusun masa depan desa.
Dalam diskusi tersebut, Ustadz Kusno alumnus BSM dan juga pengasuh pondok yamisra Blora memaparkan konsep “Nabung Ayam”, sebuah strategi kemandirian ekonomi desa yang sederhana namun terukur.
Dengan modal awal 10 ekor ayam betina dan 1 ekor jantan, memanfaatkan pakan lokal yang melimpah, serta manajemen yang istiqomah, dalam jangka 3 tahun terbuka peluang besar menjadi milyarder desa—bukan karena spekulasi, melainkan dari akumulasi aset ternak yang terus berkembang.
Yang menambah keyakinan warga, Ustadz Kusno dan Taufiq menegaskan jaminan pasar.
“Kalau ayamnya sudah banyak, persoalan pasar insyaAllah kami siap menerima,” tegas Taufiq.
Ia menjelaskan, kapasitas penyerapan pasar saat ini mencapai 300 ekor per hari, ada sebuah warung makan yang siap menerima ayam kampung .
“Artinya, untuk menjaga keberlanjutan suplai 300 ekor per hari, stok di kandang harus disiapkan sekitar 9.000 ekor,” tambahnya.
Pernyataan ini menjadi angin segar, karena peternak tidak hanya diajak produksi, tetapi juga dipastikan ada hilir dan kepastian pasar.
Respon Rudiyanto pun sangat antusias.
Ia menyambut konsep ini dengan keyakinan penuh dan menyatakan siap mengeksekusi dalam waktu dekat. Bahkan, lahan seluas ±1.000 m² di dekat rumahnya telah disiapkan untuk kandang ayam.
Sebagai ciri khas kearifan lokal, pagar lahan akan dibuat dari singkong sebagai pagar hidup, sekaligus menjadi cadangan pangan dan pakan ternak.
Diskusi pagi itu ditutup dengan satu kesepakatan nyata,
minggu ini mulai eksekusi ternak ayam sebagai langkah awal membangun kemandirian ekonomi desa berbasis potensi lokal.
Ngopi selesai, tapi ikhtiar baru saja dimulai.
Dari desa, dari kebersamaan, dari niat lurus —
menuju desa yang mandiri, berkah, dan berdaulat. (Rochmad Taufiq)












