Rembang, An NABA — Jumat 16/01/26. Dalam semangat Jumat Berkah, Yayasan An NABA kembali melakukan forum diskusi santai strategis pada Jumat pekan ke dua, bertempat di aula kantor yayasan. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar serius yayasan dalam meningkatkan kualitas SDM pengasuh sekaligus mempersiapkan kader-kader santri An NABA agar kelak mandiri, tangguh, dan mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi (S1, S2, bahkan S3).
Diskusi dipandu langsung oleh Pembina Yayasan ustadz taufiq, bersama Ustadzah Arum Tangawunisma, guru tahfidz sekaligus pengasuh santri An NABA. Musyawarah berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan, membahas program ekonomi produktif berbasis pendidikan keterampilan, dengan fokus utama pada Solusi SDM “Nabung Ayam” serta penguatan strategi digital marketing.
*🐔 Nabung Ayam* Ekonomi Produktif, Pendidikan Berkelanjutan
Konsep Nabung Ayam yang digagas An NABA bukan sekadar beternak, melainkan sistem kaderisasi kemandirian santri. Tujuannya jelas,
Melatih keterampilan hidup (life skill)
Menanamkan nilai tekun, setia, dan tanggung jawab
Menyediakan dana pendidikan jangka panjang bagi santri dan kader milenial
“Kenapa harus ayam? Karena modalnya kecil, risikonya terukur, namun potensi keuntungannya sangat besar, bahkan bisa mencapai 1000 persen lebih per tahun, jika dikelola dengan disiplin,” terang Ustadz Taufiq dalam pemaparannya.
🔄 Siklus Ayam, Ilmu, Disiplin, dan Kesabaran
Dalam diskusi dijelaskan siklus alami ayam yang menjadi dasar perhitungan,
7 hari masa kawin
10–12 hari bertelur
21 hari mengerami
±2 bulan merawat anak
➡️ Dalam setahun, siklus ini bisa terjadi hingga 4 kali
Dengan contoh sederhana,
Dari 1 ekor induk (babon) bertelur 10 butir
Bila 10 induk maka 10 x 10 100 butir
5 dijual atau dikonsumsi santri
5 ditetaskan, rata-rata menetas 4 ekor
Dalam satu tahun, 10 induk bisa menghasilkan ±480 ekor. Setelah dikurangi risiko (error), sistem seleksi dilakukan,
Ayam jantan dijual untuk biaya pakan
Ayam betina dijadikan indukan baru
Melalui perhitungan bertahap dan realistis, pada tahun ketiga, populasi bisa mencapai ±21.000 ekor ayam.
Jika dijual dengan harga rata-rata Rp.45.000/ekor, potensi nilai mencapai Rp.945.000.000.
“InsyaAllah, ini cukup untuk biaya pendidikan santri dan pengasuh, asal dijalankan dengan tekun, setia, dan penuh tanggung jawab,” tegas Ustadz Taufiq.
*🌽 Integrasi Pangan & Kesehatan Ternak*
Keberhasilan program ini juga ditopang oleh,
*Pakan racik mandiri dengan SOP khusus*
Minuman herbal fermentasi (kuteja, kunyit, temulawak, jahe) sebagai jamu harian ayam
Integrasi tanam jagung, singkong, daun singkong, dan azolla secara mandiri
Dengan sistem ini, biaya pakan menjadi sangat murah, sehat, dan berkelanjutan.
🌱Dari Diskusi Menjadi Aksi
Alhamdulillah, diskusi berlangsung lancar dan penuh kesepahaman. Ustadzah Arum Tangawunisma menyatakan kesiapan untuk mengawal langsung para santri dalam pelaksanaan program Nabung Ayam ini agar benar-benar menjadi media pendidikan karakter, keterampilan, dan kemandirian.
Jumat Berkah kali ini menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya di mimbar, tetapi juga melalui ilmu, kerja nyata, dan sistem ekonomi produktif—demi melahirkan generasi santri An NABA yang mandiri, berdaya, dan berpendidikan tinggi.
Jumat Berkah. Dari ayam, lahir masa depan. 🐔✨(Rochmad Taufiq)













