Jurnaljatengdiynews com-Kudus, Senin 12/01/26 Dalam suasana penuh empati dan harapan, tampak keteguhan hati seorang ayah yang tak pernah lelah memperjuangkan masa depan putranya. Dengan cinta yang tulus, ia menerima setiap keputusan yang telah ditetapkan, sembari tetap membuka ruang ikhtiar yang terbaik. Kelolosan sang anak pada seleksi sekolah yang belum tercapai di gelombang pertama diterima dengan keikhlasan, namun tidak memadamkan semangat untuk berjuang di gelombang berikutnya.
Sang ayah meyakini bahwa setiap proses adalah bagian dari rencana Allah SWT. Karena itu, selain ikhtiar lahiriah, ia juga menempuh jalan silaturahmi dan komunikasi yang santun dengan berbagai pihak terkait, mulai dari ASDM, SPRI, hingga jajaran pimpinan yang berwenang. Semua dilakukan bukan dengan paksaan, melainkan dengan adab, doa, dan harapan agar pintu kebaikan dibukakan.
Di balik setiap langkahnya, tersimpan doa seorang bapak yang ingin melihat anaknya kelak tumbuh menjadi “orang besar”, pribadi yang bermanfaat bagi bangsa, negara, dan umat. Sosok yang tidak hanya berhasil secara pribadi, tetapi juga memberi arti bagi banyak orang. Inilah cita-cita luhur yang menguatkan langkah sang ayah, termasuk Doktor Carto, yang dikenal konsisten menanamkan nilai keikhlasan, keberanian, dan ketakwaan.
Tak lupa, sang ayah menegaskan pentingnya memperkuat ibadah wajib dan sunnah, memperbanyak sedekah, serta doa tanpa batas waktu. Ia yakin, ridho Allah SWT adalah kunci utama dari setiap keberhasilan. Dengan iman, usaha, dan tawakal, ia percaya bahwa jalan terbaik akan ditunjukkan pada waktu yang paling tepat.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kasih sayang seorang ayah bukan sekadar kata, melainkan perjuangan nyata—diam-diam, istiqamah, dan penuh harap—demi masa depan anak yang dicintainya. (Rochmad Taufiq)












